Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 51


__ADS_3

"Cieee ... cantik bener kamu, Non. Mau kemana?" tanya Betty sambil memperhatikan penampilan Cecilia yang terlihat begitu cantik. Lelaki separuh wanita itu memperhatikan Cecilia dari ujung rambut hingga ujung kaki, tanpa ada yang terlewat sedikitpun.


"Hari ini Alfa bilang ingin berkunjung ke sini. Jadi, aku harus mempersiapkan diriku agar terlihat secantik mungkin di mata lelaki itu," jawab Cecilia sambil terus fokus pada cermin hias yang ada di hadapannya.


"Cieee ... yang jatuh cinta untuk ke-dua kalinya," goda Betty.


Cecilia melepaskan kuas make-up yang sejak tadi ia pegang. Ia meletakkan kuas itu ke atas meja kemudian membalikkan badannya menghadap Betty yang saat itu sedang duduk di tepian ranjang.


"Betty, sebenarnya aku masih merasa kecewa sama Alfa," ucap Cecilia tiba-tiba.


"Kecewa kenapa? Bukannya tadi Nona terlihat begitu senang karena Tuan Alfa ingin berkunjung ke sini?"


Cecilia menghela napas berat. "Sebenarnya bukan masalah itu. Ini soal lain," sahutnya.


"Soal apa lagi?" Betty mengernyitkan dahi.


"Begini, Bet. Beberapa hari yang lalu, ketika Alfa mengajakku ikut serta ke perusahaannya, kami sempat ingin melakukan itu di dalam ruangan pribadinya. Dan apa kamu tau apa yang terjadi setelahnya?"


"Apa? Nona sudah berhasil meluluhkan kerasnya hati Tuan Alfa untuk melakukan itu?" pekik Betty dengan mata membulat.


"Iya, memang berhasil! Tapi sayangnya ...."


"Sayang kenapa, Non? Ih, Nona memang suka bikin penasaran," sambung Betty dengan wajahh masam.


"Ehm, apa mungkin Alfa itu impoten? Hari itu, dua kali kami mencoba memulai permainan panas kami, tetapi selalu gagal. Ketika punya Alfa sudah siap meluncur ke punyaku, tiba-tiba saja punya dia mengkerut, Bet! Dan itu terjadi hingga dua kali! Bayangkan, kesel banget 'kan?" gerutu Cecilia.

__ADS_1


"Serius, Non? Tuan Alfa bercanda aja kali," celetuk Betty.


"Bercanda bagaimana? Dia sendiri juga bingung dengan kondisi junior dia yang seperti itu. Aku jadi mikir, apa jangan-jangan karena itu Alfa selalu menolak jika kuajak bermain panas."


"Lalu bagaimana dong, Non?"


"Nah, itu dia yang saat ini aku pikirkan, Bet. Masa iya 'sih aku menikah dengan seorang pria impoten? Ih, enggak banget. Yang ada tiap malam aku bakal ngoc*k sendirian, dong!"


Betty tergelak mendengar penuturan Cecilia yang terdengar sangat lucu di telinganya. "Ya, ampun, Non. Lucu, deh! Tapi kalau aku berada di posisi Nona, ya aku biarin aja. Yang penting duitnya banyak. Jika Tuan Alfa tidak bisa memberikan kepuasan untuk Nona, setidak Nona masih punya banyak uang untuk membayar jasa gigolo. Benar 'kan?"


"Jadi ... menurutmu, biarin aja gitu?"


Betty menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Ya, Nona. Biarkan saja, yang penting duitnya, begh!"


Cecilia terdiam sejenak sambil tersenyum licik, membalas tatapan Betty. "Kamu benar juga, Betty. Yang penting duit," jawabnya kemudian.


Alfa masih berdiri di depan cermin sambil memperhatikan bayangannya. Ia terlihat begitu tampan dengan kemeja berwarna navy yang kini melekat erat di tubuh kekarnya.


Setelah merasa cukup puas dengan penampilannya saat itu, Alfa pun segera meraih cincin yang tadi siang ia beli untuk Cecilia kemudian menyimpannya ke dalam saku celana.


"Tunggu aku, Cecilia. Aku akan memberikan kejutan yang tidak akan pernah kamu bayangkan sebelumnya," gumam Alfa sambil tersenyum hangat.


Alfa bergegas pergi dari kamar mewahnya kemudian berjalan menyusuri ruangan demi ruanganruangan menuju halaman depan dengan wajah riang. Ketika menuruni anak tangga, ia berpapasan dengan Tuan Harry yang kebetulan ingin kembali ke kamarnya.


"Wow, Alfa! Kamu terlihat keren sekali."

__ADS_1


Tuan Harry memperhatikan penampilan Alfa dari ujung kaki hingga ujung kepala anak lelakinya itu sambil berdecak kagum.


"Aku ingin menemui Cecilia, Dad. Doakan semuanya berjalan lancar, ya!"


"Tentu saja, Nak. Apa pun yang Ter-Baik untukmu." Tuan Harry menepuk pundak Alfa pelan sambil tersenyum hangat.


"Baiklah kalau begitu. Aku permisi dulu, Dad."


Alfa pun kembali meneruskan langkahnya, sementara Tuan Harry masih terdiam di sana dengan tatapan yang terus tertuju pada anak lelakinya itu.


"Semoga kamu selalu bahagia, Nak."


Kini Alfa tiba di halaman depan. Ia berjalan menuju garasi mobil, di mana tersimpan berbagai koleksi mobil serta motor miliknya dan juga milik Tuan Harry. Alfa tampak bingung ketika memilih mobil yang mana yang akan ia bawa malam ini. Namun, tiba-tiba ia teringat akan mobil sport kesayangannya.


"Sebentar! Di mana mobil sport kesayanganku?" Alfa memperhatikan sekeliling ruangan nanti luas itu dengan seksama tanpa terlewat sedikitpun, tetapi mobil kesayangannya iti tetap tidak ia temui.


"Di mana mobil itu?"


Alfa mencoba mengingat-ingat dan tiba-tiba saja bayangan kecelakaan itu terlintas dengan sangat jelas di kepalanya. Di mana mobil yang ia kemudikan menabrak pembatas jalan dan terguling-guling di atas aspal.


Bukan hanya itu, ia juga menyaksikan bagaimana Arman terpelanting ke jalan dan terhempas dengan sangat keras, yang mengakibatkan sahabatnya itu meninggal di tempat kejadian.


"Ya, Tuhan! Sebenarnya apa yang terjadi pada malam itu?" Alfa memegang kepalanya yang terasa sakit dengan kedua tangan. Ia mencoba mengingat lebih jauh lagi. Namun, semakin ia mencoba mengingatnya, semakin sakit kepalanya.


"Sepertinya aku harus menemui Ervan dan minta penjelasannya," gumam Alfa.

__ADS_1


...***...


__ADS_2