
"Hoeeekk!"
Tiba-tiba rasa mual dan pusing itu kembali menyerang Dea. Ia merasa sangat tidak nyaman pada perutnya dan ingin muntah. Apa lagi saat ini Alfa berada dalam jarak yang begitu dekat dengannya.
"Ka-kamu kenapa, Dea? Kamu pusing?" Alfa tampak cemas.
"Bisakah kamu menepikan mobilnya? Aku sudah tidak sanggup menahannya lagi," sahut Dea sambil menutup mulutnya.
"Baik-baik."
Alfa menepikan mobilnya di pinggir jalan dan membiarkan Dea keluar dari mobil kemudian mengeluarkan isi perutnya. Ini pertama kalinya Alfa harus berhadapan dengan hal yang semacam ini. Namun, anehnya Alfa sama sekali tidak merasa jijik atau ikut-ikutan mual.
Ia menghampiri Dea kemudian berdiri di sampingnya. "Ada yang bisa aku lakukan untukmu, Dea?" kata Alfa dengan cemas.
"Menjauh lah dariku! Aku jadi seperti ini karena dirimu!" kesal Dea di sela rasa tidak nyamannya saat itu.
"Ok, baiklah." Alfa mundur beberapa langkah dan menjaga jaraknya dari Dea.
Hingga akhirnya Dea pun kelelahan. Tubuhnya sangat lemah dan tidak berdaya. Ia membalikkan badannya dan menatap Alfa yang saat itu masih memperhatikan dirinya dengan perasaan sedih dan cemas.
"Kamu punya sesuatu untuk menghangatkan punggungku? Kayu putih atau minyak angin atau apalah itu," lirih Dea dengan wajah yang memucat.
__ADS_1
Alfa mengangguk cepat. "Ya-ya, ada! Sebentar aku ambilkan," sahut Alfa yang kemudian bergegas masuk ke dalam mobil.
Ia meraih sebuah tas kecil di dalam laci dashboard yang berisi perkakas P3K serta obat-obatan. Di dalam tas tersebut terdapat minyak kayu putih. Alfa segera meraih benda itu kemudian membawanya ke hadapan Dea.
"Ini." Alfa menyerahkan benda itu ke hadapan Dea.
Dea segera meraihnya. Ia bergegas membalurkan minyak tersebut ke bawah hidung, kedua pelipis, dan tidak lupa di seluruh bagian perutnya.
Alfa hanya bisa memperhatikan apa yang dilakukan oleh Dea tanpa bisa berbuat apa-apa. Ia sangat sedih karena di saat Dea dalam keadaan seperti itu, ia malah menjadi penonton saja.
"Adakah yang harus aku lakukan untukmu, Dea?" lirih Dea.
Dea tidak menjawab. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri memperhatikan kondisi jalanan saat itu cukup lengang. Seandainya kondisi Dea baik-baik saja, mungkin ia akan kabur dari lelaki itu.
Perlahan Dea bangkit dari posisinya kemudian berjalan menghampiri mobil. Ia menatap Alfa dengan tatapan dingin kemudian berucap.
"Bisakah kamu membantuku?"
Alfa menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias. "Ya. Tentu saja, Dea."
Dea menyerahkan kembali minyak kayu putih tersebut kepada Alfa. "Tolong baluri punggungku dengan ini kemudian berikan pijatan dengan lembut."
__ADS_1
"Baiklah! Sebaiknya kita masuk ke dalam mobil terlebih dahulu," jawab Alfa.
"Aku ingin duduk di belakang saja. Aku tidak tahan duduk di depan," lirih Dea sembari menghampiri pintu mobil di bagian belakang.
"Ehm, baiklah." Sebenarnya Alfa ingin protes, tetapi ia tidak bisa menolak keinginan gadis itu.
Dea membuka pintu mobil kemudian masuk dan duduk di sana sambil menyandarkan kepalanya di jok mobil. Sementara Alfa segera menyusul dan kini lelaki itu berada di samping Dea.
Dea melirik Alfa dengan wajah menekuk. "Jangan pernah melakukan hal yang tidak-tidak lagi padaku, Tuan Alfa. Jika kamu berani melakukan hal menjijikan itu lagi kepadaku, maka aku bersumpah akan berlari ke jalan dan menabrakkan diriku ke mobil orang-orang yang sedang melaju! Aku akan mengutukmu hingga kamu tidak akan pernah hidup dengan tenang. Camkan itu!" ucap Dea dengan serius.
Alfa tersenyum kecut. "Demi Tuhan, aku tidak memiliki niat seperti itu, Dea. Aku berjanji! Aku tidak akan pernah menyentuhmu lagi. Percayalah padaku."
Dea menatap ke dalam mata Alfa dan ia tidak menemukan kebohongan di sana. "Baiklah. Sekarang tolong bantu aku. Mungkin jika aku bisa melakukannya sendiri, aku pun tidak akan pernah sudi memintamu melakukannya untukku," ucap Dea sembari membalikkan badan dan duduk membelakangi Alfa.
"Permisi, Dea."
Perlahan Alfa menyingkap kemeja non-formal yang saat itu Dea kenakan, sedikit demi sedikit. Kini punggung putih dan mulus itu tampak jelas di depan mata Alfa. Sebagai lelaki normal, ia pun merasakan hasratnya bangkit. Alfa bahkan sempat menelan salivanya saat menyaksikan punggung Dea yang putih dan mulus tersebut.
Yang lebih parahnya lagi, saat itu celana formal yang dikenakan oleh Alfa tiba-tiba terasa sesak. Si junior bangkit tanpa ada rangsangan ataupun sentuhan. Pada awalnya lelaki itu tampak panik, tetapi beberapa saat kemudian ia pun berhasil mengontrol emosinya.
Alfa membalurkan minyak kayu putih tersebut ke punggung Dea kemudian memberikan pijatan dengan lembut di sana sama seperti yang dilakukan oleh Nadia jika Dea diserang oleh rasa mual dan pusing.
__ADS_1
Sementara Alfa membantu Dea sambil menahan hasrat, berbeda dengan gadis itu. Walaupun sebenarnya hati Dea cemas dan was-was, tetapi ia sudah tidak punya pilihan lain, selain membiarkan Alfa membantunya.
...***...