
Akhirnya tubuh Alfa menggeliat. Ia sudah sadar walaupun kondisinya masih sangat lemah. Alfa memperhatikan langit-langit ruangan yang terpampang jelas di depan matanya. Masih di antara sadar dan tidak, Alfa tiba-tiba memanggil nama Dea.
"De-Dea ...."
Dea yang sedang duduk tak jauh dari tempat tidur Alfa, mendengar dengan jelas suara lelaki itu. Ia menoleh, tetapi masih enggan menyahut panggilannya.
Alfa mengedarkan pandangannya dan kini terhenti pada sosok cantik yang masih menatap ke arahnya. Alfa tersenyum kemudian berkata.
"Aku di mana? Apa aku sudah mati?"
Dea menghembuskan napas panjang. "Kamu masih hidup dan saat ini kamu sedang di rawat di Puskesmas Desa," jawab Dea.
Alfa kembali tersenyum. "Oh, aku pikir aku sudah mati soalnya aku melihat sosok malaikat yang begitu cantik dari sini. Aku pikir malaikat cantik itu adalah malaikat pencabut nyawaku."
Dea memutarkan kedua bola matanya kemudian bangkit dan menghampiri tempat tidur Alfa.
"Tadi aku sudah menghubungi salah satu kerabatmu dan tidak lama lagi dia pasti akan datang untuk menjemput," ucap Dea sembari menyerahkan ponsel itu kembali kepada Alfa.
Alfa meraih ponsel miliknya dari tangan Dea dengan alis yang saling bertaut. "Kamu kasih tau siapa? Mommy atau Daddy-ku?" tanya Alfa yang tampak cemas.
__ADS_1
"Bukan Mommy atau Daddy-mu, tetapi Tuan David, lelaki yang kemarin marah-marah padaku karena aku tidak sudi meminta maaf kepadamu," sahut dengan sedikit kesal.
Alfa pun tersenyum lega karena Dea sudah melakukan hal yang benar. Ia memang tidak ingin kedua orang tuanya tahu soal kondisinya saat ini.
"Oh, syukur lah. Sebenarnya aku memang tidak ingin kedua orang tuaku tahu soal ini. Nanti mereka cemas dan jatuh sakit karena memikirkan aku," tutur Alfa.
Dea tampak acuh tak acuh lalu kembali ke tempat duduknya.
"Apa setelah ini kamu akan menuntut kakakku?" tanya Dea dengan tatapan kosong ke luar ruangan.
"Kamu tenang saja, Dea. Tidak pernah terlintas di pikiranku untuk menuntut kakakmu karena aku sadar, aku patut mendapatkan ini semua," jawab Alfa.
Sementara itu di kediaman Susi.
"Pak Herman. Menurut saya sebaiknya masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan saja. Ajak lelaki itu berkumpul lalu bicarakan dengan baik-baik. Lagi pula niat lelaki itu baik, dia ingin mempertanggung jawabkan semua perbuatannya kepada adikmu," kata Pak RT yang kini duduk tepat di hadapan Herman.
"Ya, Mas. Apa yang dikatakan oleh Pak RT itu benar. Lebih baik kita kasih kesempatan untuk ia mempertanggung jawabkan seluruh perbuatannya terhadap Dea. Lagi pula, sepertinya Dea juga menyukai lelaki itu, Mas," sambung Susi dengan sangat antusias.
Herman menarik napas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya secara perlahan. Ia mencoba mengendalikan emosi yang masih menguasai isi kepala serta hatinya saat ini.
__ADS_1
"Baiklah, Pak RT. Nanti akan saya pikirkan lagi."
"Kalau butuh bantuan, panggil saja saya. Saya siap membantu Anda," ucap Pak RT sembari menepuk pelan pundak Herman.
Herman pun mengangguk. "Baik, Pak. Terima kasih banyak."
Pak RT pun pamit dan kini tinggal Susi serta Herman yang ada di ruangan itu.
"Mas, jika benar lelaki itu ingin bertanggung jawab atas perbuatannya, kita suruh saja dia menikahi Dea. Kasihan 'kan kalau bayi dalam kandungan Dea harus lahir tanpa Ayah. Sementara Ayahnya masih ada," ucap Susi sembari mengelus-elus kedua pundak Herman dengan lembut.
"Tapi aku masih kesal, Sus." Herman mendengus kesal.
"Kesampingkan ego-mu, Mas. Sekarang yang lebih penting adalah memikirkan nasib Dea dan juga bayi dalam kandungannya. Setidaknya dengan menikahkan Dea dengan lelaki itu, hidup Dea dan bayi itu akan terjamin. Lelaki itu bukan lelaki sembarangan. Ia bahkan jauh lebih kaya dari keluarga Julian yang sombong itu. Lihat saja mobilnya, pakaiannya, pasti sangat mahal."
Herman melirik Susi yang terlihat semringah. "Sebenarnya aku tidak peduli sekaya apa lelaki itu. Bagiku dia tetap seorang lelaki bejat yang sudah menghancurkan kehidupan adik perempuanku."
"Oh, Ayo lah, Mas Herman! Lupakan masalah itu dan sama seperti yang dikatakan oleh Pak RT, sebaiknya kita ajak bicara lelaki itu secara baik-baik. Dan jika ia setuju menikahi Dea, maka aku yang akan mengurus semuanya. Kita buat perayaan besar di desa ini, bahkan harus mengalahkan pernikahannya Julian dan kekasih barunya itu. Biar mereka tahu bahwa calon suami Dea bukan orang sembarangan," tutur Susi dengan begitu antusias.
Herman tidak menjawab. Ia mendengus kesal sembari memutarkan bola matanya.
__ADS_1
...***...