
Julian yang sudah termakan emosi, berjalan mendekat ke arah Alfa dengan tangan yang sudah mengepal sempurna. Lelaki itu sudah tidak sabar ingin mendaratkan kepalan tangannya ke wajah Alfa yang kini berdiri di teras rumah Susi.
"Arghhh!"
Julian yang sudah berdiri dengan jarak kurang lebih satu meter dari Alfa, mengerang dan mencoba melayangkan tinjunya. Alfa pun tidak tinggal diam. Ia memasang kuda-kuda dan bersiap menghadang serangan dari lelaki itu.
Begitu pula Herman, ia pun ikut berjaga-jaga. Walau sebenarnya ia masih setengah-setengah menerima kehadiran Alfa, tetapi ia tidak ingin Julian melakukan hal yang tidak-tidak kepada lelaki itu. Namun, belum sempat kepalan tangan Julian meluncur ke arah Alfa, Dea yang ketakutan akhirnya berteriak histeris.
"Sudah cukup, Julian!"
Teriakan Dea berhasil menghentikan aksi nekad lelaki itu. Tatapan Julian kini fokus kepadanya. Kepalan tangannya yang sempat tertahan di udara, kini ia tarik kembali.
"De-Dea," lirih Julian.
Dea terus melangkah dan kini berdiri di samping Alfa.
"Kemarilah, Dea. Aku ingin bicara empat mata denganmu. Aku ingin membicarakan masalah hubungan kita," ucap Julian lagi dengan wajah memelas, berharap Dea iba kepadanya.
"Hubungan kita?" Dea menautkan alisnya. "Hubungan yang mana, Julian? Apa kamu sudah lupa bahwa kita sudah tidak memiliki hubungan apa pun lagi?"
"Ayolah, Dea. Aku yakin kamu pun masih memiliki perasaan kepadaku. Tidak semudah itu melupakan seseorang yang sudah mengisi hati kita selama bertahun-tahun," ucap Julian lagi.
Dea tersenyum sinis. "Benarkah? Aku rasa kamu salah, Julian. Aku sudah tidak memiliki perasaan apa pun lagi terhadapmu. Rasa sakit yang sudah kamu torehkan kepadaku, membuat perasaanku terkikis habis."
__ADS_1
"Oh, apa itu karena lelaki ini? Atau jangan-jangan lelaki ini lah yang sudah mendahului aku," ketus Julian sambil mendengus kesal. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Dea sudah berhasil melupakan kenangan indah yang pernah terjadi di antara mereka.
"Aku rasa itu bukan urusanmu, Julian. Sekarang pergilah," ucap Dea dengan tegas.
Lagi-lagi Julian tersulut emosi. Ia kesal dan memilih melampiaskan kemarahannya kepada Alfa. Ia kembali mencoba melakukan penyerangan terhadap Alfa yang masih terdiam di samping Dea.
"Dasar laki-laki sialan!" umpat Julian.
Julian kembali meluncurkan bogemannya kepada Alfa, tetapi lelaki itu dengan sigap menghindarinya. Beberapa kali Julian mencoba menyerangnya, tetapi tak sekali pun mengenai tubuh lelaki itu.
Herman tidak tinggal diam, ia bergegas menahan tubuh Julian yang mengamuk tak terkontrol di depan rumahnya. Dengan dibantu oleh warga sekitar, Julian pun akhirnya berhasil diamankan.
"Ini terakhir kalinya aku membiarkan Julian membuat onar di tempatku. Namun, jika ini terulang lagi, maka aku tidak akan segan-segan memberi pelajaran kepadanya!" ancam Julian kepada kedua sepupu Julian yang terpelongo melihat keributan yang diakibatkan oleh sepupu mereka tersebut.
"Baik!"
Sepeninggal Julian.
"Semoga setelah ini Julian tidak berani berbuat onar lagi di sini," ucap Herman sembari melangkahkan masuk ke dalam rumahnya.
"Halahhh, itu tidak mungkin, Mas! Selama Dea masih tinggal bersama kita, Julian tidak akan pernah berhenti membuat onar di sini," sahut Susi yang berjalan di belakang Herman.
"Itu lah sebabnya kenapa kami ingin pernikahan ini dilaksanakan secepatnya, Tuan Alfa. Kami tidak ingin Julian terus-menerus mengusik kehidupan Dea. Kasihan 'kan dia," lanjut Susi yang seolah-olah ia begitu peduli kepada nasib Dea.
__ADS_1
Alfa melirik Dea yang kini tengah memasang wajah malas setelah mendengar penuturan Susi yang sok perhatian kepadanya.
"Ya, saya akan secepatnya mengurus surat-surat pernikahan kami dan saya berjanji, setelah menikah nanti saya akan mengajak Dea ke kota bersama saya," sahut Alfa.
Tiba-tiba Herman menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap Alfa yang berjalan dibelakangnya.
"Berjanjilah bahwa kamu akan menjaga adikku dengan baik, Alfa. Dia sudah cukup menderita selama ini dan semua itu akibat dari perbuatanmu," ucap Herman dengan sangat serius.
Alfa mengangguk pelan. "Ya, Mas. Aku berjanji."
"Eh, sudah-sudah! Jangan bahas masalah itu lagi." Susi mengelus lembut punggung Herman.
"Oh ya, Tuan Alfa. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, nanti ketika acara pernikahan kalian dilaksanakan, sebaiknya sewa jasa keamanan. Kalau perlu yang banyak, agar mereka bisa mengamankan pesta pernikahan kalian. Siapa tahu 'kan Julian datang lagi kemudian kembali membuat onar," tutur Susi.
"Ya, Mbak. Tentu saja," jawab Alfa.
Sementara itu di kota.
"Ya Tuhan, Alfa!" Mata Nyonya Kharisma tampak berkaca-kaca. Ia tidak menyangka bahwa Alfa akan melakukan hal yang serendah itu.
"Setidaknya Alfa sudah mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya dan yang paling penting dia bersedia mempertanggung jawabkan semua perbuatannya," jawab Tuan Harry sembari mengelus punggung Nyonya Kharisma.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Nyonya Kharisma mengangkat kepalanya dan menatap Tuan Harry dengan tatapan sedih.
__ADS_1
"Kita tunggu Alfa pulang dan lihat, apakah dia akan memberitahukan kita tentang berita baik ini, atau malah menyembunyikannya."
...***...