
Nadia masih belum menyadari bagaimana ekspresi Dea saat itu. Ia terus menatap Alfa yang terlihat sempurna di atas podium tanpa berkedip sedikit pun.
Alfa memberikan kata-kata sambutan untuk para karyawan di perusahaannya. Tidak lupa, ia mengajak Cecilia serta untuk naik ke atas podium. Alfa memperkenalkan Cecilia kepada seluruh karyawan sebagai kekasihnya.
Mengetahui hal itu, Nadia pun menekuk wajahnya. Ia kecewa setelah tahu bahwa Alfa ternyata sudah memiliki seorang kekasih.
"Yah! Ternyata Tuan Alfa sudah memiliki kekasih, Dea. Dan kekasihnya sangat cantik," gumam Nadia dengan wajah kusut.
Dea masih terdiam dengan mata membulat menatap ke arah podium. Ia begitu syok setelah tahu bahwa ternyata Alfa yang tengah berdiri di atas podium tersebut adalah Alfa si lelaki bejat yang sudah menghancurkan hidupnya.
Bahkan yang lebih mengejutkan lagi, lelaki itu sudah memiliki seorang kekasih. Seorang wanita cantik pemilik mobil yang dulu hampir saja menabraknya.
Melihat sosok Alfa berdiri di atas sana dengan bangganya, membuat Dea kembali teringat akan kejadian di malam naas itu. Semua kejadian itu seakan kembali berputar di kepalanya. Bahkan ia masih bisa mendengar dan merasakan deru napas Alfa yang memburu pada saat melakukan pelepasan.
Tiba-tiba saja ia merasakan mual yang amat sangat. Dea menutup mulutnya kemudian berlari dari tempat itu menuju kamar kecil. Ketika menyadari bahwa ada yang aneh pada sahabatnya itu, Nadia pun segera menyusul Dea.
"Dea! Kamu mau kemana?" panggil Nadia sambil berlari menyusul Dea.
Setelah Dea masuk ke dalam kamar mandi, Nadia pun ikut masuk ke ruangan itu untuk memastikan bahwa Dea baik-baik saja.
__ADS_1
Hoeekkk ... hoeekkk!
Gadis itu memuntahkan habis isi perutnya ke dalam westafel. Nadia segera menghampiri Dea. Ia berdiri tepat di samping Dea tanpa merasa jijik sedikitpun. Malah sebaliknya, Nadia membantu mengelus punggung Dea dengan lembut.
"Kamu kenapa, Dea? Maag-mu kambuh lagi?" tanya Nadia pelan.
Dea masih belum bisa menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Ia masih berperang melawan rasa gejolak di perutnya.
"Mana minyak kayu putihmu, Dea? Sini, biar aku oleskan ke punggungmu. Siapa tahu kamu akan merasa lebih nyaman," ucap Nadia sembari mengulurkan tangannya kepada Dea.
Sembari berkumur-kumur, Dea merogoh saku celana yang sedang ia kenakan. Ia mengeluarkan minyak kayu putih tersebut kemudian menyerahkannya kepada Nadia. Nadia membalurkan minyak kayu putih tersebut ke punggung Dea dan memijitnya dengan lembut.
"Kenapa maag-mu kambuh di saat yang tidak tepat, Dea?" keluh Nadia.
"Ka-kamu kenapa, Dea?"
Bibir Dea bagian bawah terlihat bergetar. Namun, ia tahan dengan cara menggigitnya. Wajahnya pun semakin kusut dan hal itu membuat Nadia semakin penasaran sebenarnya apa yang sudah terjadi pada Dea.
"Alfa ... lelaki itu ...."
__ADS_1
Tangis Dea pecah. Tubuhnya jatuh ke lantai dengan posisi berjongkok. Ia memeluk kedua kakinya yang menekuk dan membenamkan wajah di antara kedua lututnya tersebut.
"Ke-kenapa dengan Tuan Alfa, Dea? Kamu mengenalnya? Apakah Tuan Alfa ... akhhh! Jangan bilang kalau Tuan Alfa adalah sosok lelaki yang kamu benci," ucap Nadia dengan segala keterkejutannya.
Mata Nadia melotot ketika menatap Dea, tetapi Dea masih saja terisak dengan posisi yang sama. Perlahan kepala gadis itu mulai terangkat. Ia menatap Nadia dengan mata sebabnya.
"Ya! Lelaki yang berdiri di atas podium itu adalah lelaki yang sama, yang sudah menghancurkan hidupku, Nadia. Aku benci dengannya, sangat!" kesal Dea dengan geraham yang terdengar bergemeretak.
"Tuan Alfa? Serius," tanya Nadia yang masih penasaran.
"Sudah! Berhentilah menyebut namanya di hadapanku, Nadia! Perutku mual jika namanya terus-terusan kamu sebut," jawab Dea sembari bangkit dari posisinya kemudian membuktikan apa yang dia katakan itu benar.
Ia kembali memuntahkan air liur ke dalam westafel karena seluruh isi perutnya sudah habis ia keluarkan. Dea benar-benar merasa jijik saat mendengar nama lelaki itu. Perbuatan tidak terpuji Alfa saat itu seakan kembali menari-nari di atas kepalanya dan membuat perutnya mual.
"Ya ampun, Dea. Maafkan aku! Aku benar-benar tidak tahu bahwa kamu segitu bencinya sama lelaki itu," tutur Nadia dengan wajah sendu. Ia kembali berdiri di samping tubuh Dea dan membantu mengelus punggungnya.
"Ehmm, maafkan aku, Dea. Kalau boleh aku tahu sebenarnya apa yang membuatmu begitu membenci Tuan ...." Nadia menghentikan ucapannya. Ia tidak berani menyebut nama lelaki itu lagi di hadapan Dea. Takut kondisi Dea semakin memburuk.
Dea kembali berkumur-kumur sembari mencuci wajahnya yang memucat dengan air keran. "Ceritanya panjang, Nadia. Dan aku tidak tahu apakah aku sanggup menceritakan semuanya kepadamu," lirih Dea.
__ADS_1
"Ceritakan lah, Dea. Ceritakan pelan-pelan dan aku siap mendengarkan ceritamu dengan baik. Siapa tahu aku bisa membantumu. Ya, setidaknya beban berat yang kamu rasakan saat ini akan sedikit berkurang," sahut Nadia.
...***...