Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 28


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Herman duduk termenung di teras rumahnya. Wajah lelaki itu kusut dan tampak putus asa. Susi baru saja keluar dari rumahnya sambil membawa sebuah keranjang pakaian yang baru saja selesai di cuci.


"Kamu tidak kerja, Mas?" sapa Susi sambil melenggang menuju halaman depan rumah mereka. Wanita itu ingin menjemur pakaiannya yang sudah bersih tersebut.


Herman menggeleng pelan. "Tidak. Hari ini kami ingin memperbaiki kapalnya dulu, besok baru berangkat lagi," sahut Herman.


Sejak tadi Dea terus memperhatikan Herman dan ia tahu pikiran Kakak lelakinya itu sedang kacau. Dea memberanikan diri untuk menghampiri Herman dan duduk di sampingnya.


"Kak. Kakak kenapa?"


Herman menoleh kemudian membuang napas berat. "Hari ini adalah hari terakhir di mana kita harus mengganti uang itu, Dea. Selama sebulan ini Kakak terus mencari pinjaman, tetapi tidak ada yang sanggup meminjamkan uang sebanyak itu kepada Kakak."


Herman kembali menundukkan kepalanya menghadap lantai. Herman merasa bebannya kali ini benar-benar berat dan ia tidak sanggup memikulnya sendirian.


Bukan hanya Herman, Dea pun sudah sekuat tenaga membantu mengumpulkan uang dengan cara kerja serabutan. Apa pun ia kerjakan selama itu halal dan menghasilkan uang. Namun, sebulan bukanlah waktu yang lama untuk mereka. Untuk mengumpulkan uang sebanyak 150 juta, bukanlah sesuatu yang mudah.


"Lalu, bagaimana sekarang, Kak? Perlukah aku datang ke sana dan bersimpuh di hadapan mereka agar mereka mengampuni kita?" lirih Dea.


Herman mengangkat kepalanya kemudian menggeleng dengan cepat. "Jangan, Dea! Jangan. Mereka tidak akan pernah mendengarkan perkataanmu. Yang ada mereka akan semakin menghinamu."

__ADS_1


"Tapi, Kak ...."


"Biarkan saja mereka mau melakukan apa. Sekarang kita pasrah saja," lanjut Herman.


"Hei, Dea! Ngerumpi saja kerjaannya! Memangnya pekerjaanmu sudah selesai apa?" teriak Susi yang sedang menjemur pakaiannya. Ia tidak suka melihat Dea bersantai bersama Herman. Sementara dirinya masih sibuk dengan pakaian-pakaian itu.


"Sudah semua, Kak. Ini aku ingin ke rumah Bu Omah. Membantunya menjemur ikan lagi," sahut Dea. Susi tampak menggerutu di sana. Sementara Dea segera berpamitan kepada Herman.


Namun, baru saja Dea ingin melangkah pergi, tiba-tiba ada beberapa orang keluarga besar Julian datang ke rumah mereka, termasuk Ibunda lelaki itu. Wajah mereka tampak sinis, tak sedikit pun senyuman tersungging di wajah mereka.


"Heh, Herman! Mana uang kami! Hari ini adalah hari terakhir di mana kamu harus melunasi hutang-hutang kalian kepada keluarga kami!" teriak Ibunda Julian dengan lantangnya bahkan tetangga-tetangga sebelah rumah mendengar teriakannya dengan sangat jelas.


"Hutang? Hutang apa?" Pertanyaan yang ada di benak para tetangga. Belum lagi terjawab pertanyaan kenapa Dea di cerai di malam pengantinnya, sekarang keluarga mantan suami gadis itu malah datang untuk menagih hutang.


"Bu, tenanglah dulu. Mari kita bicarakan hal ini baik-baik di dalam. Jangan di sini, kami malu, Bu. Kedengaran para tetangga," lirih Herman sambil memelas menatap Ibunda Julian.


"Tidak perlu! Biar saja kalian malu. Biarkan para tetangga di sini tahu apa alasan anakku menceraikan gadis ini di malam pengantin mereka! Kalau kamu tidak ingin malu, sebaiknya cepat kembalikan uang kami!" kesal Ibunda Julian sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Herman.


"Ta-tapi, untuk saat ini kami masih belum bisa membayarnya. Berilah kami tambahan waktu agar kami bisa mengumpulkan uang itu," lirih Herman sekali lagi.


Di desa itu, keluarga besar Julian termasuk keluarga yang terpandang. Bahkan para warga desa segan kepada keluarga mereka. Dan walaupun posisi Dea dan keluarganya tidak salah. Namun, orang-orang pasti tetap akan menyalahkan mereka karena para warga desa pastinya akan lebih mempercayai omongan keluarga lelaki itu.

__ADS_1


Ibunda Julian tertawa sinis mendengar jawaban Herman. "Benar 'kan apa kataku!" sahut Ibunda Julian sambil mendengus kesal.


Bukan hanya wanita itu, keluarganya yang lain pun ikut tertawa. Menertawakan Herman dan keluarga kecilnya. Herman dan Susi yang kini berdiri di sampingnya, saling tatap dengan wajah pasrah.


"Kami berjanji akan tetap membayarnya kepada kalian, walaupun kami harus menyicilnya," sahut Herman lagi, mencoba meyakinkan.


"Menyicilnya, katamu? Memangnya kamu pikir kami mengeluarkan uang itu dengan cara menyicilnya, begitu? Yang benar saja!" kesal Ibunda Julian. "Sudah! Sekarang kalian terima saja nasib kalian! Mulai sekarang persiapkanlah telinga kalian untuk mendengarkan ocehan warga desa!"


"Kumohon, Bu!"


"Sudahlah, Mas. Biar bagaimana pun kamu mengiba, mereka tidak akan pernah peduli padamu. Sebaiknya kita masuk." Susi menarik tangan Herman dan mengajak suaminya itu masuk ke dalam rumah mereka. Sementara Dea masih terdiam di tempat itu sambil memperhatikan sikap keluarga Julian yang benar-benar tidak pernah ia sangka sebelumnya.


"Bagus! Pergilah kalian! Dasar pengecut!" teriak Ibunda Julian dengan lantang.


"Hei, kalian warga desa Muara Asri! Kalian pasti bertanya-tanya 'kan kenapa anakku Julian menceraikan gadis ini di malam pertama mereka? Jawabannya adalah karena gadis ini sudah tidak suci lagi. Entah dengan siapa ia melakukannya! Lelaki itu makan nangkanya dan Julian yang kena getahnya. Enak saja!" teriak wanita itu lagi.


Tentu saja teriakkan wanita itu terdengar jelas di telinga para tetangga dan mereka pun mulai bergunjing di sana. Membicarakan aib yang menimpa Dea dan keluarga kecilnya.


Dea menggelengkan kepalanya pelan. "Ya Tuhan, Bu. Aku tidak pernah menyangka mulut Ibu seperti itu. Bukankah Ibu dari keluarga terpandang, tetapi kenapa mulut Ibu tidak ada tata kramanya sama sekali?" ucap Dea heran dengan mata berkaca-kaca.


"Dari pada kamu! Wajah dan sikapmu terlihat polos, tapi ternyata di balik kepolosanmu, tersimpan jiwa nakal yang tidak terkendali! Buktinya, kamu sudah tidak suci lagi!" ketusnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2