
Setelah beberapa jam perjalanan yang cukup melelahkan, Alfa dan Ervan tiba di desa Muara Asri. Sebuah desa nelayan yang merupakan desa kelahiran Dea dan Herman.
"Desa apa ini? Untuk apa kamu mengajakku ke desa ini, Ervan?" Alfa memperhatikan desa itu dan mencoba mengingat-ingat. Namun, tak ada bayangan apapun di kepalanya soal tempat itu.
"Ini desa Muara Asri. Sebuah desa nelayan yang kehidupan warganya masih sangat sederhana."
"Cuma itu?" tanya Alfa lagi karena merasa tidak puas mendengar jawaban sahabatnya itu.
Ervan menggelengkan kepalanya pelan. "Sebentar lagi kita akan sampai dan aku harap kamu bisa mengingat kejadian pada malam itu, tepat sebelum kita mengalami kecelakaan."
Alfa ingin kembali bertanya, tetapi tiba-tiba perhatiannya teralihkan pada anak-anak warga desa Muara Asri yang tengah mengikuti mobilnya dari belakang. Alfa tersenyum saat ia melihat tingkat konyol para bocah-bocah ingusan itu.
Tidak berselang lama, Alfa dan Ervan pun tiba di pinggir pantai di mana kejadian naas itu terjadi. Setelah membuka pintu, Alfa pun segera keluar dan melihat sekeliling tempat itu. Begitu pula Ervan, dengan dibantu oleh Sopirnya, ia pun berhasil keluar dan duduk di atas kursi roda, tepatnya di samping mobil.
"Bagaimana, Alfa? Apa kamu ingat sesuatu hal tentang tempat ini?"
"Sebentar, sebentar! Entah kenapa aku merasa tidak asing akan tempat ini. Pohon itu! Batu itu! Dan di sini ...." Alfa menunjuk ke arah benda-benda yang ia sebutkan dengan sangat antusias.
"Rasanya aku pernah duduk di sini! Tapi untuk apa?" Alfa terus memperhatikan sekeliling tempat itu sambil mengingat-ingat kejadian apa yang pernah terjadi di sana. Sementara Ervan hanya diam dan membiarkan sahabatnya itu mencoba mengingatnya sendiri.
Satu-persatu bayangan itu mulai muncul di kepala Alfa. Bayangan di mana ia duduk di tepi pantai dengan rasa kekecewaan yang amat sangat menyiksanya.
__ADS_1
"A-apa yang sudah terjadi padaku saat itu?" Alfa panik, kepalanya mulai sakit.
Alfa menatap bibir pantai dan akhirnya dia ingat bahwa dirinya pernah membuang sebuah cincin berlian di sana. Cincin berlian yang ingin dia berikan untuk Cecilia. Alfa berlari ke arah pantai dan mulai mencari keberadaan cincin itu.
"Apa yang dilakukan oleh Tuan Alfa?" tanya Pak Sopir yang terheran-heran melihat tingkah aneh Alfa.
"Biarkan saja, Pak. Aku harap dengan begini, ia bisa mendapatkan semua jawaban yang ada di dalam kepalanya," jawab Ervan yang masih fokus menatap Alfa.
Tiba-tiba Alfa menghampiri Ervan dengan wajah sedih. Matanya bahkan masih mengeluarkan air matanya saat itu.
"Aku ingat, Ervan! Aku pernah membuang cincinku di sana. Cincin yang akan aku berikan kepada Cecilia!"
"Dan apa kamu ingat apa alasan kamu membuang cincin itu?" tanya Ervan dengan santainya.
"Ya, Tuhan! Kenapa wanita itu sangat tidak tahu malu! Ia bahkan tega memanfaatkan kemalanganku, agar ia bisa kembali lagi ke sisiku!"
Belum habis keterkejutan Alfa, Ervan kembali mencoba mengingatkan kepada lelaki itu soal kejadian di malam naas tersebut.
"Coba kamu ingat-ingat lagi kejadian lainya, Alfa," pinta Ervan.
"Apa lagi, Ervan?" Alfa memijit kepalanya yang sakit dan wajahnya semakin kusut saja.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan memberikan sedikit bayangan padamu jadi dengarkanlah baik-baik."
Alfa pun mengangguk kemudian memasang telinganya dengan baik.
"Hari itu kamu mengajak aku dan Arman ke tempat ini untuk bersenang-senang. Kita memasang sebuah tenda besar di sana." Ervan menunjuk sebuah tempat di mana dulu tendanya berdiri kokoh di sana.
"Lalu?" Alfa mencoba mengingatnya kembali walaupun saat itu kepalanya sudah terasa pusing dan berat.
"Kita mabuk-mabukan, Alfa. Hingga ada salah seorang gadis lewat tepat di jalan ini ...." Ervan menunjuk ruang kosong di sampingnya, di mana dulu Dea mencoba melewati mereka.
Alfa memejamkan matanya dan lagi, bayangan-bayangan itu kembali terlintas di pikirannya sedikit demi sedikit. Di mana Samar-samar ia melihat bayangan seorang gadis polos yang mereka kerjai di malam itu.
"Ya, Tuhan, kepalaku! Kepalaku terasa mau pecah, Ervan!" pekik Alfa sambil memegang erat kepalanya dengan kedua tangan.
Bayangan kejadian naas itu terlihat semakin jelas di kepalanya. Ia bahkan bisa mendengar dengan jelas suara rintihan yang keluar dari mulut Dea. Yang saat itu sengaja disumpal dengan kemeja milik Ervan agar ia tidak bisa berteriak. Hingga akhirnya Alfa ingat bagian terakhir, ketika mendengar suara seseorang memanggil nama gadis itu.
"Dea!" (Suara di dalam bayangan Alfa.)
Mata Alfa membulat sempurna. "De-Dea?!" pekik Alfa.
Ervan tersenyum puas. Ia begitu bahagia karena akhirnya Alfa ingat semuanya.
__ADS_1
...***...