Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 113


__ADS_3

Kini Cecilia tiba di depan sebuah tempat gym, di mana ia biasa bertemu dengan Mateo di sana. Cecilia yakin bahwa Mateo ada di tempat itu dan berkumpul bersama teman-temannya.


Cecilia bergegas masuk dan ternyata apa yang ada di pikirannya adalah salah. Mateo tidak ada di tempat itu. Ia hanya bertemu dengan beberapa sahabat dari lelaki itu di tempat gym tersebut.


"Di mana Mateo?" tanya Cecilia dengan wajah sebal menatap beberapa orang lelaki bertubuh atletis tersebut.


"Mateo tidak ada di sini. Dia baru saja keluar bersama kekasih barunya. Benar 'kan, Teman-teman?" jawab salah satu dari mereka.


"Ya, Cecilia. Itu benar. Sebaiknya lupakan saja Mateo dan pilihlah salah satu dari kami. Kami berjanji akan selalu menghangatkan ranjangmu tanpa perlu kamu bayar," sambung yang lainnya sambil terkekeh.


"Dasar gila! Lalu di mana dia sekarang?" kesal Cecilia dengan wajah memerah.


"Kalau tidak salah dengar tadi dia bilang ingin mengajak kekasihnya ke kafe langganannya. Kamu pasti sudah tahu di mana kafe itu, 'kan?"


Tanpa banyak berpikir, Cecilia segera pergi dari tempat itu. Sementara para lelaki bertubuh atletis itu hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala mereka.


"Beruntung sekali Mateo. Walaupun tidak menjadi kekasih Cecilia secara sah, seperti yang diceritakan olehnya. Namun, menjadi pemuas wanita itu pun sudah cukup bagiku. Tidak usah berharap yang muluk-muluk, benar 'kan, Teman!"


"Ya, kamu benar."


Cecilia kembali ke mobilnya dan meminta pak sopir untuk kembali melajukan mobil tersebut menuju sebuah kafe yang selama ini menjadi langganan Mateo.

__ADS_1


"Brengsek Mateo! Bisa-bisanya ia menceritakan bagaimana hubungan kami bersama teman-temannya! Padahal selama ini aku selalu memberikan uang tutup mulut agar lelaki itu tidak membocorkan hubungan kami kepada siapapun," gerutu Cecilia sambil mengepalkan tangannya dengan erat.


Selang beberapa menit, mobil yang ditumpangi oleh Cecilia pun berhenti di depan sebuah kafe yang dimaksudkan oleh para lelaki bertubuh atletis tersebut.


Cecilia keluar dari mobil kemudian bergegas masuk ke dalam kafe tersebut. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu hingga matanya menangkap sebuah pemandangan yang membuat darahnya mendidih.


"Dasar bajingan! Siapa lagi wanita itu?" gerutu Cecilia sambil berjalan dengan cepat menghampiri meja yang ditempati oleh Mateo bersama seorang wanita cantik.


Setibanya di meja tersebut, Cecilia pun melampiaskan kemarahannya kepada lelaki itu. Ia menggebrak meja dengan keras dan hal itu berhasil mengejutkan Mateo dan kekasihnya.


"Heh, jadi seperti ini kelakuanmu di belakangku!" bentak Cecilia dengan wajah memerah menatap wajah Mateo dan kekasihnya secara bergantian.


"Siapa dia, Mateo?" tanya wanita itu kepada Mateo dengan wajah heran.


"Namanya Cecilia, dia salah satu pelanggan tetap di gym dan aku yang menjadi personal trainer-nya," jelas Mateo.


"Benarkah?" tanya wanita itu penuh selidik.


"Ya, percayalah padaku."


Cecilia tersenyum sinis. "Hanya itu?"

__ADS_1


Ia meraih sebuah test pack bergaris dua yang sengaja ia bawa untuk membuktikan kepada Mateo jika lelaki itu tidak mempercayai perkataannya. Cecilia melemparkan test pack tersebut ke atas meja, tepat di hadapan Mateo dan kekasihnya.


"Apakah dengan benda itu masih bisa mengelak soal hubungan kita selama ini, Mateo?"


Wanita yang berstatus sebagai kekasih baru Mate itu memasang wajah sedih. Ia merasa kecewa karena Mateo sudah berkata bohong. Ia segera bangkit dari kursi kemudian meraih tas miliknya.


"Kamu benar-benar tega, Mateo!" ucapnya seraya melenggang pergi.


"Sonia, tunggu!" teriak Mateo.


Cecilia hanya tersenyum sinis melihat kepergian wanita itu. Sementara Mateo tampak emosi dan ia menyalahkan Cecilia atas kepergian kekasihnya itu.


"Sekarang kamu puas, Cecilia?!" kesal Mateo.


Lagi-lagi Cecilia tersenyum sinis. "Sebenarnya aku tidak bermaksud mengacaukan kencanmu bersama wanita itu, Mateo. Aku hanya ingin membicarakan masalah ini kepadamu tanpa ada gangguan dari siapa pun termasuk wanita itu. Aku ingin kamu bertanggung jawab atas bayi ini karena bayi ini adalah milikmu!"


Mateo tergelak untuk beberapa saat di ruangan itu. "Ya ampun, Cecil-Cecil! Apa kamu sudah lupa? Aku ini tidak lebih dari seorang gigolo buatmu. Aku dibayar untuk memuaskan nafsumu yang tak terkontrol itu. Lalu apa aku harus bertanggung jawab untuk bayi ini? Tidak!" tegas Mateo.


"Begini saja, Cecilia. Anggap saja seperti ini. Seorang wanita malam yang sengaja menjajakan dirinya kepada lelaki hidung belang kemudian karena kesalahan yang tidak terduga, ia tiba-tiba hamil. Sekarang, apakah lelaki hidung belang itu wajib bertanggung jawab atas bayi yang dikandung oleh wanita malam itu? Tentu saja jawabannya tidak, Cecilia! Begitu pula denganku, aku tidak harus bertanggung jawab kepada bayi itu karena aku hanya seorang gigolo!" lanjut Mateo yang lagi-lagi terbahak di ruangan itu.


"Kurang ajar kamu, Mateo!" Cecilia begitu kesal. Ia bahkan sampai memukul-mukul lelaki itu dengan tas yang sejak tadi menggantung di pundaknya.

__ADS_1


Bukannya marah, lelaki itu malah semakin terbahak karena menurutnya Cecilia begitu lucu dan juga bodoh.


...***...


__ADS_2