Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 118


__ADS_3

Di tempat lain.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Cecilia sambil menatap kosong ke dalam cermin riasnya.


Wajahnya yang selalu tampak cantik dengan berbagai polesan dari bedak serta make up mahal, kini tampak memucat karena tak satu pun dari benda itu menghiasi wajahnya.


Cecilia tampak putus asa dengan nasibnya. Mateo yang tidak mau bertanggung jawab dengan bayi yang kini ada di dalam kandungannya, sementara Alfa sudah bahagia dengan wanita pilihannya.


Sementara itu, di luar kamar Cecilia.


Tampak Betty yang begitu panik. Sejak kemarin sore, Cecilia terus mengurung diri di dalam kamarnya. Wanita itu bahkan melupakan makan dan minumnya.


"Non! Non Cecil! Buka pintunya, Non!" teriak Betty sambil menggedor-gedor pintu kamar Cecilia.


Namun, tak terdengar sedikit pun jawaban dari dalam kamar tersebut. Betty tidak menyerah begitu saja. Ia berjanji tidak akan pernah berhenti memanggil dan menggedor pintu tersebut hingga Cecilia membukanya.


"Non! Ini aku, Non! Kumohon, bukalah pintunya!" teriak Betty lagi.


"Bagaimana, Nak Betty?" tanya salah seorang pelayan kepada Betty yang masih berdiri di depan pintu kamar wanita itu.


Betty menggelengkan kepalanya perlahan. "Masih sama, Bi. Non Cecil sama sekali tidak menggubris teriakanku."


"Coba terus, Nak Betty. Bibi khawatir, takut terjadi sesuatu kepada Non Cecil di ruangan itu."

__ADS_1


"Iya, Bi. Oh ya, apa Bibi punya kunci serepnya?" tanya Betty dengan wajah serius menatap wanita paruh baya itu.


"Sepertinya sudah di ambil sama Non Cecil, Nak Betty. Soalnya kunci serep kamar ini sudah tidak ada di dalam lemari penyimpanan," sahut pelayan itu.


Betty membuang napas berat dan kini tatapannya kembali tertuju pada pintu kamar tersebut. "Apa aku bisa mendobraknya, ya? Tapi ... bagaimana jika Non Cecil marah karena aku sudah merusak pintu kamarnya," gumam Betty sambil berpikir keras.


Setelah berpikir keras, akhirnya Betty mengambil keputusan untuk mencoba mendobrak pintu tersebut.


"Baiklah! Dari pada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di dalam sana. Sebaiknya aku dobrak saja pintunya dan jika Non Cecil marah padaku, aku akan meminta maaf dan mengganti rugi semua biaya kerusakannya. Ya, walaupun gajiku harus di pangkas habis oleh Non Cecil," lanjut Betty.


Betty mundur beberapa langkah ke belakang dan meminta pelayan yang masih berdiri di sampingnya untuk segera menjauh dari tempat itu. Setelah mengambil ancang-ancang, Betty pun siap mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendobrak pintu tersebut.


"Satu ... dua ... tiga!" Betty pun berlari kemudian mengarahkan tubuhnya ke pintu tersebut dengan sangat keras.


Brugkh!


Brugkh!


Brugkh!


Cecilia meraih sebuah pisau silet yang memang sudah ia siapkan sebelumnya. Silet yang masih terbungkus itu tergeletak di atas meja riasnya, tepat di samping tangannya yang terulur di atas meja tersebut.


Dengan tatapan kosong, Cecilia membuka bungkusan silet tersebut dan meraih benda tipis nan tajam itu. Cecilia mengarahkan silet tersebut ke lengan kirinya sambil memejamkan mata.

__ADS_1


"Maafkan aku, Tuhan! Aku terpaksa melakukan ini karena aku sudah tidak sanggup hidup di dunia ini," gumamnya.


Brakkk!


Terdengar suara pintu kamar yang terbuka dengan sangat keras. Ternyata Betty berhasil membuka pintu tersebut dan merusak kuncinya. Tanpa pikir panjang, Betty berlari ke arah Cecilia dan merebut silet tersebut dari tangan wanita itu.


"Nona! Apa yang Nona lakukan? Nona sudah gila, ya!" pekik Betty dengan wajah panik menatap Cecilia.


Cecilia tertawa sinis. "Ya, aku memang sudah gila. Sini, kembalikan silet itu padaku!" titah Cecilia seraya mengulurkan tangannya ke hadapan Betty.


Betty menggelengkan kepalanya dengan cepat dan menyembunyikan tangannya yang masih memegang silet baru tersebut ke belakang punggungnya.


"Tidak! Aku tidak akan memberikannya kepada Nona!" tegas Betty.


"Sialan kamu! Memangnya kamu siapa, ha? Sekarang aku perintahkan padamu, kembalikan silet itu padaku dan biarkan aku melakukannya!" bentak Cecilia dengan mata membulat menatap Betty.


"Tidak akan!" balas Betty sambil menggenggam silet tersebut dengan erat dan tanpa sadar silet itu sudah melukai tangannya hingga berdarah.


"Kurang ajar! Aku bilang kembalikan, ya kembalikan!" Cecilia menarik tangan Betty dengan kasar dan mencoba merebut kembali silet tersebut.


Namun, tiba-tiba Cecilia menghentikan aksinya setelah melihat banyaknya darah yang keluar dari tangan pria bertulang lunak tersebut. Ia menghempaskan tangan Betty dengan kasar kemudian membuang pandangannya ke arah lain.


"Kenapa kamu lakukan ini, Betty? Seharusnya kamu biarkan saja aku mati. Lagi pula apa yang kamu khawatirkan? Kamu masih bisa mencari pekerjaan lain," ucap Cecilia dengan wajah menekuk.

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu, Non Cecil. Tidak baik," sahut Betty dengan wajah sendu.


...***...


__ADS_2