Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 27


__ADS_3

"Mas! Mas Julian, tunggu!" panggil Dea sambil berlari kecil menghampiri Julian yang melangkah semakin menjauh darinya.


Karena Dea terus mencoba mendekat, akhirnya Julian pun menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menghadap Dea dengan wajah masam.


"Mau apa lagi kamu ke sini?" ketus Julian.


"Ehm, Mas Julian. Bolehlah kita bicara sebentar? Sebentar saja. Aku berjanji tidak akan lama," lirih Dea.


"Tidak bisa! Aku sibuk," jawabnya dengan malas.


"Sebentar saja, Mas. Kumohon!" Dea mengiba, berharap lelaki itu bersedia meluangkan sedikit waktu untuknya.


Julian bertolak pinggang dan dari raut wajahnya, lelaki itu tampak jenuh dengan keberadaan Dea di sana. "Sepertinya tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Bukan kah semuanya sudah jelas?"


"Ya, aku tahu. Ta-tapi aku hanya ingin membahas soal ini padamu," ucap Dea sembari mengulurkan selembar kertas yang tadi pagi diserahkan oleh salah satu kerabat Julian kepada Susi. Lembaran kertas bertuliskan nominal yang harus dibayar oleh keluarga kepada keluarga lelaki itu.


Julian melirik lewat sudut matanya. Ia sangat mengenali lembaran kertas yang sedang dipegang oleh gadis tersebut. Bagaimana tidak, ia juga menjadi salah satu dari mereka yang ikut membuat perincian tersebut.

__ADS_1


"Oh, itu!" Julian tersenyum sinis sambil melemparkan pandangannya ke lautan luas yang membentang tepat di hadapan mereka. "Memangnya ada apa dengan kertas itu? Apakah nominalnya masih belum cukup banyak? Atau malah sebaliknya," lanjutnya.


Dea menundukkan kepalanya sambil menatap kertas tersebut. "Aku hanya ingin minta tolong padamu, Mas. Tidak bisa kah Mas membujuk Ibu untuk mengurangi total yang harus kami bayar kepada kalian?"


Tiba-tiba saja Julian tergelak setelah mendengar penuturan Dea barusan. Tawa lelaki itu bahkan terdengar hingga ke tempat di mana teman-temannya sedang beristirahat sejenak. Mereka sontak melihat ke arah Dea dan Julian. Ada beberapa di antara mereka yang merasa iba saat melihat pasangan itu dan ada pula yang tampak acuh tak acuh.


"Kenapa, ha? Apa jumlahnya terlalu banyak? Ya, ampun, Dea! Dea!" Julian tertawa sinis sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Makanya, Dea. Kalau kamu tidak punya uang, janganlah berpikir untuk menipu kami. Sekarang kalian kena batunya, 'kan? Dan asal kamu tahu. Jumlah yang tertera di sana, itu belum semuanya. Masih banyak rincian-rincian yang tidak kami tulis. Karena apa? Karena kami masih punya rasa kasihan kepada keluargamu, khususnya Kakakmu, Herman. Jadi, seharusnya kamu itu berterima kasih kepadaku, bukan malah meminta untuk dikurangi lagi," jelas Julian.


Dea mengangkat kepalanya pelan. "Walaupun begitu ... nominal ini terasa begitu berat bagi kami, Mas. Kami tidak tahu harus kemana mencari uang sebanyak ini," lirih Dea sekali lagi.


Dea mengangkat kepalanya pelan kemudian menatap kedua biji manik yang indah tersebut dengan wajah sendu. "Aku tidak tahu."


"Sebab aku membutuhkan uang itu untuk biaya pernikahanku yang akan dilaksanakan beberapa bulan lagi." Julian menyeringai.


Sementara Dea tampak syok setelah mendengar pengakuan Julian. Dengan begitu mudahnya Julian berkata seperti itu, seolah-olah di antara mereka tidak pernah ada hubungan apapun.

__ADS_1


"Me-menikah?" pekik Dea dengan terbata-bata.


"Ya, aku akan segera menikah."


"Ta-tapi, Mas. Kita bahkan belum resmi bercerai dan bagiku, Mas masih tetap suamiku," sahut Dea.


Julian kembali tertawa pelan. "Kamu tidak perlu khawatir soal itu. Surat perceraian kita akan segera kamu terima, begitu pula dengan undangan pernikahanku. Mereka akan segera mendarat mulus ke tanganmu."


Tanpa disadari, buliran kristal bening itu meluncur begitu saja dari sudut mata Dea. Ia kecewa, benar-benar sangat kecewa. Keputusan Julian yang akan menikah lagi di tengah permasalahan mereka, membuat Dea semakin putus asa.


"Siapa wanita beruntung itu, Mas?"


"Reva, sepupu sekaligus mantan kekasihku dulu." Dengan bangganya Julian mengakui hal itu di hadapan Dea.


"Apa Mas masih mencintai Reva? Bukan kah Mas pernah bilang padaku bahwa Mas sudah tidak mencintai gadis itu. Lalu, kenapa sekarang Mas malah memutuskan untuk menikahinya?"


"Ya. Itu dulu, sebelum aku tahu bahwa kamu sudah tidak suci lagi. Tetapi sekarang semuanya sudah berubah. Lebih baik aku menikahi Reva walaupun aku tidak mencintainya, dari pada menikahi gadis murahan sama sepertimu," sahut Julian sambil mendorong pelan pundak Dea dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


Tubuh mungil Dea mundur beberapa centimeter ke belakang akibat dorongan lelaki itu. "Semoga kalian selalu bahagia, Mas," lirih Dea sambil mengusap air mata dan mencoba ikhlas dengan semua cobaan yang menimpa dirinya


...***...


__ADS_2