
Hingga malam tiba, tidak ada satupun dari mereka meninggalkan rumah itu, semua berkumpul di ruang tengah menunggu kabar Ardi dan tiba-tiba ponsel Hamida ada panggilan masuk dari nomor baru yang belum ia kenal.
"Drrrt...drrrtt..."
"Siapa Ma?" tanya Rahman.
"Ga tau nomor baru, orang iseng apa ya," sahut Hamida.
"Angkat aja Ma, mungkin penting," ucap Arya.
Hamida kemudian menarik tombol hijau di layar ponselnya kemudian menyalakan loud speaker agar semua bisa mendengar.
"Halo Assalamualaikum," sapa Hamida.
"Waalaikumussalam...Tut Tut Tut Tut...." sambungan telpon terputus.
"Tuh kan putus, orang iseng nih, gak tahu kita lagi nunggu kabar penting apa.." ucap Hamida geram.
"Drrrt....drrrtt..." ponsel Hamida bergetar lagi karena ada panggilan masuk.
"Siapa Ma?" tanya Arya.
"Nomor yang tadi..." sahut Hamida.
"Biar papa yang bicara," sahut Rahman, kemudian menggeser tombol hijau di layar ponsel Hamida dan menyalakan loud speaker lagi.
"Halo Assalamualaikum," sapa Rahman.
"Waalaikumussalam..." jawab yang di seberang. Semua hening mendengar suara yang tidak asing bagi mereka itu.
"Ardi.." ucap Hamida.
"Iya Ma, ini aku," sahut Ardi.
"Kamu dimana Ar? Semua bingung nyari kamu," tanya Arya.
"Ada mas Arya juga, ini mama dimana?" tanya Ardi.
"Di rumah kamu Ar, kamu baik-baik aja?" tanya Rahman.
"Semua ngumpul... Najma mana? Aku telpon ga diangkat...," Ardi menanyakan keberadaan istrinya.
"Tidur Ar, capek seharian nangisin kamu, dikira kamu ada di kecelakaan pesawat itu," sahut Sarah.
"Oh, Ya Allah, pasti dia sedih, semua juga sedih ya, maafkan aku, aku kehilangan ponsel aku," ucap Ardi.
__ADS_1
"Gimana ceritanya Ar, terus ini ponsel siapa?" tanya Hamida.
"Ponselnya Gading Ma, teman residenku, mama ingat ga?"
"Oh iya, dokter Gading yang pernah nginap di rumah kan?"
"Iya, Gading yang itu,"
"Kok bisa hilang hp kamu gimana ceritanya Ar?" tanya Arya.
"Jadi pas nyampe bandara aku suruh Arif langsung balik, siapa tahu kan mama papa ada butuh sama Arif, terus aku ngerasa perut aku mules, jadi bolak-balik ke toilet, pas udah selesai, aku keluar eh pesawat yang harusnya aku naiki sudah berangkat, terus aku nyari ponsel di tas ga ada, mungkin hilangnya pas di toilet waktu cuci tangan di wastafel, saat itu rame banget toiletnya, dan aku naik penerbangan selanjutnya, baru tadi sore aku dengar berita pesawat jatuh itu, pesawat yang harusnya aku tumpangi, aku bersyukur Alhamdulillah luput dari kecelakaan itu, walaupun kehilangan ponsel," tutur Ardi.
"Kenapa ga segera ngabari?" tanya Rahman.
"Iya Ma maaf, nyampe ibu kota, rundown acaranya padat banget, hampir Maghrib baru selesai, jadi ga sempet beli hp lagi, ga sempet kasih kabar ke semuanya yang di rumah, Pa, Ma, maafin Ardi, mas Arya dan Mba Sarah terima kasih tetap dampingi Najma, dia pasti sangat sedih," tutur Ardi.
"Iya gapapa Ardi, mama lega sekarang setelah dengar suara kamu," ucap Hamida.
"Besok aku mau izin sehari buat urus semuanya, eh iya Akbar gimana sekarang? Udah tidur juga?" Ardi mengkhawatirkan putranya.
"Iya tidur sama Salma dan Fitri di kamarnya, kamu jangan khawatir, kami semua jagain mereka di sini," sahut Arya.
"Iya Mas, makasih semuanya, tolong kabarkan ke Najma kalau aku baik-baik saja, dan in syaa Allah setelah dapat ponsel baru, aku akan segera hubungi dia,"
"Iya Ar, jangan khawatir pokoknya," ucap Rahman.
"Waalaikumussalam," sahut mereka semua.
Senyum mengembang di bibir mereka berempat.
Hamida dan Rahman saling berpelukan, Arya dan Sarah juga ikut berpelukan.
"Alhamdulillah," ucap Rahman lega.
"Pa, Ma, sudah dapat kabar dari Ardi, kami pulang dulu aja ya, Salma sama Fitri biar di sini, Papa Mama nginap di sini kan?" tanya Arya.
"Iya, malam ini kami temani Najma, kalian pulanglah dan istirahat," sahut Hamida.
Setelahnya, Arya dan Sarah pulang ke rumah mereka melalui pintu pagar belakang.
"Pa, aku tidur di atas ya, temani Najma, kalau malam bangun kasian sendirian," ucap Hamida.
"Iya Ma, mama temani Najma, pasti sedih dia, aku tidur di kamar tamu aja," sahut Rahman.
"Baiklah," ucap Hamida kemudian naik ke kamar Najma, ia tidur di sana menemani menantunya itu.
__ADS_1
.
.
Pagi harinya mata Najma tak henti-hentinya menatap ponselnya, sesekali mengecek benda pipih persegi panjang itu, apakah ada pesan baru, dia gelisah sejak Hamida menceritakan semua kejadian semalam, bagaimana ia bisa kehilangan kontak dengan suaminya itu. Tentu saja ada perasaan lega dan sangat bersyukur karena sejatinya Ardi masih sehat dan selamat karena luput dari kecelakaan pesawat itu.
"Ama, makan dulu... Bu Ani sudah siapkan sarapan itu," ucap Hamida membuyarkan lamunan Najma.
"Iya Ma," sahutnya, sebenarnya ia enggan sarapan sebelum mendapat kabar lagi dari Ardi, namun tidak ingin mendebat ibu mertuanya, ia juga ingat ada janin dalam perutnya yang butuh makan, ada Akbar yang harus ia jaga. Rindu itu yang ia rasakan, entah kenapa waktu terasa sangat lama berjalan padanya.
Ia beranjak dari ruang tengah menuju meja makan, dimana Rahman dan Hamida sudah ada di sana. Hamida mengambilkan porsi kecil untuk Najma lalu meletakkan piring itu di depan Najma.
"Makan sayang, biar segar, biar Ardi tidak khawatir lihat kamu nanti," ucap Hamida.
"Baik Ma," sahut Najma kemudian tersenyum kecil. Baginya mereka bukan mertua, melainkan seperti orang tuanya sendiri.
"Habiskan, kalau kurang nambah lagi," ucap Hamida.
"Makan yang banyak, ini juga minum susunya, papa yang bikinkan," ucap Rahman.
"Iya Ma Pa, makasih, Mama sama Papa tidak ke kantor?" tanya Najma sambil mengunyah makanannya.
"Papa aja nanti yang ke kantor, ada rapat online dengan semua manager toko, Mama biar di sini temani kamu," sahut Rahman.
"Semalam mas Ardi nelpon pakai nomor mana Ma?" tanya Najma.
"Pakai nomor dokter Gading temannya Ardi waktu residen, Mama kenal kok, dulu pernah main ke rumah," sahut Hamida. Najma hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban Hamida.
'Gading... seperti tidak asing namanya, apa pernah kenal ya, tapi dimana...' batin Najma.
"Kamu kenal sama dokter Gading?" tanya Hamida seakan tahu yang dipikirkan Najma.
"Ah enggak Ma, belum pernah tahu ada teman mas Ardi yang namanya dokter Gading," sahut Najma.
"Drrrt... drrrt...." ponsel Najma bergetar. Ia langsung melihat ke layar, nomor Ardi meminta panggilan video.
"Mas Ardi Ma... Pa..."
"Angkat dong Ama," tukas Rahman.
"Ah iya," Najma segera membetulkan jilbabnya, mengusap wajahnya yang sembab dan lelah.
"Assalamualaikum Mas," ucap Najma.
"Waalaikumussalam," sahut pria dalam panggilan itu.
__ADS_1
Najma terkejut melihat orang itu, dan segera menutup mulut dan hidung menutupi wajahnya karena ia tidak memakai cadar.
"Kamu siapa?"