
Hari itu hari Senin, seperti biasanya Yudha akan berangkat ke rumah sakit untuk bekerja.
"Ma, Pa, aku berangkat duluan," pamit Yudha kepada orang tuanya yang sedang sarapan di meja makan.
"Kamu ga sarapan sayang?" tanya Helena sang Mama.
"In syaa Allah aku puasa Ma," sahut Yudha.
"Oh ma syaa Allah," ucap Helena.
"Yudha, kamu kemarin ketemu Ardi? Papa lihat di sosmed kamu, ada acara apa? Itu di kontrakan kamu kan?" tanya Rendra.
"Ardi ngajar anak keperawatan di kampusku, tinggalnya di gedung depan kontrakan aku, waktu itu aku dapat voucher pizza limo yang berakhir hari itu, iya kali mau aku habiskan sendiri pizza nya, jadi aku undang mereka buat makan bersama," jawab Yudha.
"Oh begitu, ada perempuan juga, siapa dia?"
"Oh, itu Najma Pa, masa lupa," sahut Yudha.
"Kalau yang pakai cadar Papa juga tau itu istrinya Ardi, yang satunya yang sebelahnya,"
"Itu Qumil, teman Najma dari kecil, tetangganya juga, dia kuliah di kampus yang sama denganku, keluarga Qumil itu yang dampingi Najma ketika menikah," lanjut Yudha.
"Oh iya, papa baru ingat, yang punya toko baju muslim itu kan?"
"Iya Pa, emang kenapa?"
"Kamu gak pengen nikah?" tanya Rendra menembak Yudha langsung.
"Ya pengen Pa, tapi tahu sendiri belum ada calon," Yudha menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Itu ada gadis cantik," tukas Rendra.
"Hah? Gadis, maksud Papa Qumil?" Yudha terheran.
"Iya," sahut Rendra.
"Dia masih kuliah semester dua Pa, jarak umur kami juga jauh,"
"Kuliah reguler kan boleh nikah, yang ga boleh hamil kan.." tukas Helena yang nampaknya juga senang dengan Qumil.
"Emang Papa gak keberatan aku sama Qumil?" tanya Ardi.
"Ga papa, selama kamu senang," sahut Rendra.
"Ntar deh Pa, coba aku pikirin lagi, aku berangkat dulu, banyak pasien hari ini, assalamualaikum," pamit Yudha.
"Waalaikumusalam," jawab Rendra dan Helena.
Setelah mobil Yudha meninggalkan rumah, Helena dan Rendra melanjutkan pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Mas beneran nyuruh Yudha nikah sama Qumil?" tanya Helena.
"Iya, sama siapapun sebenarnya, yang baik, santun, selama membuat anak semata wayang kita bahagia,"
"Kenapa tiba-tiba berubah sayang, pas Yudha minta ta'aruf sama Najma, Mas kelihatan kurang setuju,"
"Najma itu terlalu baik buat Yudha, dia lulusan pesantren, sedangkan anak kita dulu masih suka hura-hura, sekarang aku lihat dia sudah mulai berubah, lihat sendiri dia sekarang sering puasa sunnah juga, semoga dapat jodoh yang sholihah," tutur Rendra.
.
.
Jam makan siang, Yudha duduk di sofa ruang istirahatnya. Karena dia tidak makan siang, setelah sholat, ia hanya bersantai di sofa itu.
Dia mengambil gawai nya dan membalas beberapa pesan yang baru sempat ia balas, dan tetiba ia ingin melihat foto-foto yang ia ambil kemarin sewaktu bersama Ardi, Najma, dan Qumil. Ia melihat beberapa kali dan fokusnya pada gambar Qumil.
'Ma syaa Allah cantik juga gadis ini, tapi apa iya dia mau aku nikahin, secara jarak umur kami terpaut sepuluh tahun,' batin Yudha.
"Assalamualaikum," ucap Ardi yang nongol dari balik pintu.
"Waalaikumusalam, sini bro masuk," sahut Yudha.
"Ga makan?"
"Puasa,"
"Oh, lagi ngapain bro?" tanya Ardi yang duduk di sebelah Yudha.
"Pekan ini kumpulin lagi aja, rumah kamu enak bro buat kumpul," pinta Ardi.
"Oke deh kamu kabarin Najma sama Qumil," sahut Yudha lagi.
"Qumil itu udah punya pacar Ar?" tanya Yudha kemudian.
"Kayanya ga ada, emang kenapa? Jangan-jangan kamu suka ya sama Qumil?" goda Ardi.
"Papaku yang suka sama dia," jawab Yudha.
"Hah gimana maksudnya? Papa kamu mau nikah lagi gitu?" Ardi agak terkejut.
"Ngawur aja, suka sama Qumil buat aku nikahin,"
"Hah, yang bener Yud?"
"Iya,"
"Terus kamu nya gimana? Mau?" tanya Ardi lagi.
"Bukan aku yang harusnya ditanya, dianya itu lho Ar, apa iya mau nikah muda, dia masih kuliah tingkat satu semester dua, lha aku, umurku udah segini,"
__ADS_1
"Aku sama Najma juga selisih sepuluh tahun Yud,"
"Oh iya, Najma, minta tolong Najma apa gimana ya," terbesit ide di kepala Yudha.
"Minta tolong apaan?"
"Nanyain ke Qumil, tapi ya jangan terang-terangan nanyanya.
" Iya, aku tahu maksudmu, in syaa Allah nanti aku sampaikan ke Najma, udah ya aku mau visit pasien ke rumah sakit umum dulu, assalamualaikum Yud," ucap Ardi sebelum pergi.
"Waalaikumusalam," jawab Yudha.
.
.
.
"Ah, hmmm Mas tau ga, Qumil itu ngefans banget sama dokter Yudha, hampir tiap aku telepon dia pasti dia sebutin itu nama dokter Yudha," ucap Najma ketika suaminya menyampaikan maksud sahabatnya tadi.
"Iya kah?"
"Iya Mas, beneran,"
"Okelah, nanti aku bilang Yudha, e tapi jangan bilang kalau Qumil ngefans, bisa-bisa kepedean dia, ah gimana ya bilangnya," Ardi berpikir keras.
"Eh Mas, tapi aku belum tahu Qumil mau nikah muda apa gak,"
"Iya, coba tanyain, tapi jangan bilang Qumil kalau Yudha mau ngajak dia ta'aruf untuk nikah,"
"Iya, kalau ada kesempatan in syaa Allah aku tanyain, tapi kenapa tiba-tiba dokter Yudha gitu? Suka ya sama Qumil setelah pertemuan kita kemarin?" Najma penasaran.
"Yudha ga bilang dia suka, papanya yang suka katanya, lihat foto Qumil di ig Yudha," ujar Ardi.
"Oh," tetiba dia merasa iri dengan Qumil, dulu saja waktu dia makan malam dengan keluarga Yudha, papanya terlihat kaku dan jarang tersenyum padanya. Mungkin karena dia seorang yatim piatu, sedangkan orang tua Qumil masih lengkap. Ah tapi sekarang ia merasa jauh lebih baik setelah menikah dengan Ardi,, bukannya membandingkan Yudha dengan Ardi, keduanya orang baik, namun Allah pasti berikan jodoh terbaik untuk hambaNya, dan Ardi yang terbaik untuk dia.
"Eh kok malah bengong, kenapa? Sedih ya dulu ga jadi dilamar Yudha?" tanya Ardi. Najma merasa ter sentil dengan pertanyaan Ardi yang memang benar adanya, namun berusaha ia tutupi demi kebaikan dan keselamatan rumah tangganya.
"Siapa bilang aku sedih, cuma heran aja kok tiba-tiba papanya dokter Yudha suka sama Qumil, dan aku gak sedih, bukankah Allah selalu memberikan yang terbaik buat hambaNya, dan ini dia jodoh terbaik dari Allah buat aku," ucap Qumil yang tersenyum lebar sambil menangkup kedua pipi Ardi yang akhirnya ikut tersenyum juga.
"Naik yuk Mas, dingin di sini," ajak Najma, karena sedari tadi mereka berdua duduk di ruang tamu dan berbincang setelah membaca Al Quran.
"Iya yuk, udah malam kita ke atas," Ardi berdiri.
"Mas," panggil Najma dengan manja.
"Iya Babe,"
"Aku pengen gendong,"
__ADS_1
"Bayarannya mahal lho gendong ke kamar atas,"
"Apapun itu Mas, aku bayar Tuan," 💕💕