Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Meminta Penjelasan


__ADS_3

Pukul dua belas malam Ardi sampai di rumah, operasi tadi adalah kasus yang cukup sulit, tapi Alhamdulillah semua sudah terlewati.


Ardi memasuki rumah yang gelap dan sepi, hanya lampu kecil di dekat dapur menjadi penerangannya. Setelah minum di dapur, ia langsung menuju kamarnya, ingin segera mandi, walaupun itu tengah malam, ia harus tetap mandi, agar tetap bersih bila dekat dengan Najma yang tengah hamil.


Setelah mandi ia sempatkan untuk sholat malam dan diakhiri dengan sholat witir.


"Mas," Najma terbangun ketika Ardi melipat sajadah.


"Iya sayang, kok kamu bangun," ucap Ardi yang duduk di tepi ranjang.


"Aku kangen kamu Mas," ucap Najma yang menghambur di pelukan Ardi. Mata Najma sembab sehabis menangis namun Ardi tidak melihatnya lantaran kamar itu sangat gelap.


Sebenarnya Najma ingin sekali saat itu juga meminta penjelasan dari Ardi perihal Sabrina yang menjadi rekan kerjanya, namun tak tega melihat Ardi yang sepertinya sangat lelah.


"Mas lelah?" tanya Najma.


"Lumayan babe, operasinya agak sulit, kenapa mau minta jatah? Masih kuat kalau itu,"


"Bukan Mas, mau aku bikinkan minuman?" tanya Najma.


"Aku sudah minum di dapur tadi, kita tidur aja yuk, biar ga ketinggalan subuh," ucap Ardi.


"Baiklah," ucap Najma, kemudian mereka berdua merebahkan diri.


"Alhamdulillah," puji Ardi yang merasa lega akhirnya bisa merebahkan punggungnya.


"Mas," panggil Najma.


"Hmm," sahut Ardi yang sudah memejamkan matanya.


"Kenapa dulu mau jadi dokter bedah syaraf?" tanya Najma.


"Aku selalu ingin jadi dokter bedah, bagiku keren bisa membedah tubuh orang, menjadi jalan kesembuhan bagi pasien dari Allah melalui tangan ini, tapi satu-satunya operasi yang dokternya duduk hanya operasi bedah syaraf, maka dari itu aku ambil spesialis bedah syaraf," jawab Ardi.

__ADS_1


"Oh..." Najma hanya ber oh saja, tak lama setelah itu terdengar dengkuran halus Ardi yang didengar Najma, rupanya suaminya itu benar-benar capek dan mengantuk.


Najma memiringkan tubuhnya menghadap Ardi, berbantalkan salah satu lengannya. Tangan yang lain meraba wajah Ardi, jenggot yang lebat, pipi yang halus, karena Ardi suka merawat diri, hidungnya bangir, bulu alis yang berjejer rapi.. Najma menitikkan air mata lagi. Dia semakin tidak rela jika harus membagi Ardi dengan wanita lain, hingga akhirnya dia ikut tertidur pulas di samping Ardi.


Subuh itu seperti biasa Ardi ke masjid bersama Akbar, dan kembali setelah matahari terbit.


"Najma mana Bu Ani?" tanya Ardi pada Bu Ani yang sedang membuat sarapan.


"Belum turun Mas, sejak saya datang belum turun," sahut Bu Ani.


"Iya Mas, belum turun sama sekali," imbuh Bu Tami yang meraih Akbar dari gendongan Ardi.


"Saya ke atas dulu kalau begitu," ucap Ardi yang khawatir dengan Najma.


"Babe," panggil Ardi ketika membuka pintu.


Tidak ada sahutan dari Najma, terlihat Najma duduk di sofa. Baru Ardi sadari jika mata Najma sembab layaknya orang habis menangis.


"Kamu nangis babe?" tanya Ardi yang duduk di dekat Najma, kemudian menangkup wajah Najma dengan kedua tangannya. Najma begeming, hanya menunduk.


"Mas kenapa ga cerita kalau wanita itu ada di sini?" tanya Najma.


"Wanita? Siapa? Wanita yang mana babe?" Ardi dibuat bingung tidak mengerti.


"Sabrina," sahut Najma.


"Sabrina?" Ardi berpikir sejenak apa maksud Najma.


"Ah, Sabrina," ucapnya ketika mulai paham dengan yang dibicarakan Najma.


"Mas sengaja sembunyikan dariku kalau kalian sekarang kerja bareng?" tanya Najma dengan terisak.


"Ga ada aku ga sembunyikan, siapa yang bilang sekarang aku kerja dengan Sabrina?"

__ADS_1


"Siapa yang bilang itu ga penting, kenyataannya Mas dan dia bakal banyak waktu bersama,"


Ardi cekikikan dalam hatinya, ada-ada aja nih istri cemburu.


"Dengerin Mas ya sayang ku, aku ga cerita karena aku anggap itu bukan hal yang penting, jadi ya aku ga ingat aja kalau itu perlu diceritakan, aku pikir nanti-nanti aja ceritanya, toh juga sekarang belum mulai, masih bulan depan dia pindah ke sini, dan bakal banyak waktu sama dia gimana ceritanya, kami memang satu profesi, yang ada kita gantian, operasi gantian, jaga poli klinik gantian, pasien kami juga beda-beda,"


"Mas pengen sembunyikan dia dari aku,"


"Ga ada yang seperti itu baby, kamu ga percaya sama suamimu ini?"


"Aku percaya sama mas Ardi, tapi nggak buat wanita itu, aku takut dia bisa merebut mas Ardi dari aku,"


"Jangan takut honey, kamu sekarang jadi prioritas aku, aku janji gak akan menduakan kamu, aku in syaa Allah paham mana yang benar mana yang salah, in syaa Allah aku jaga pernikahan kita,"


"Beneran janji..."


"Iya janji..."


"Meskipun nanti tubuhku melebar setelah melahirkan?"


"Iya, aku pikir kamu jadi lebih sexy,"


"Gombal,"


"Gak, beneran, gini deh babe, ambil sisi positifnya, kalau ada teman seprofesi, beban aku gak berat-berat banget, kita bisa sekali-kali liburan, karena aku gak full time buat darurat bedah syaraf lagi, ada teman yang back up, enak kan, aku bisa menikmati hari libur denganmu tanpa ada gangguan konsultasi pasien darurat, ambil hikmahnya ya kamu sekarang makin dewasa, jangan nangis lagi, mau jadi ibu juga, eh udah jadi ibu ding, ibunya Akbar,"


"Iya Mas," ucap Najma yang menjadi lebih tenang mendengar penuturan Ardi, dan Ardi mendekapnya dalam pelukan.


"Makasih babe sudah mau mengerti dan bertabayun," Ardi mengecup kening Najma, dan membelai rambut panjang Najma yang dibiarkan tergerai.


"Iya Mas ga siap-siap ke rumah sakit?" tanya Najma.


"Ini hari Sabtu sayang, poli klinik tutup, nanti siangan aja aku lihat pasien yang semalam aku operasi, sekarang kita habiskan waktu bersama, turun yuk kita sarapan," ajak Ardi.

__ADS_1


"Boleh makan di sini aja ga? Malu sama Bu Ani sama Bu Tami, nanti ketahuan habis nangis," cicit Najma.


"Hahahah, iya iya, aku ambilin sarapan, sama buatin kamu susu," ucap Ardi kemudian turun ke dapur mengambil sarapan dan membuat susu ibu hamil untuk istri tercintanya.


__ADS_2