Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Peresmian Masjid


__ADS_3

Hari Sabtu tiba..


Ardi tengah memasak sarapan untuknya dan Najma, dia memanggang sosis dan membuat omelet, serta salad sayur, juga kentang tumbuk.


Najma sedang bersih-bersih, karena hari Sabtu Ardi libur jaga di rumah sakit umum, maka sebisanya ia membantu Najma mengerjakan pekerjaan rumah.


"Mas, masak apa? Wangi banget, kecium sampe sini," teriak Najma dari ruang tamu, rupanya dia tengah menyapu.


"Kamu ke sini aja, sudah mateng nih, yuk sarapan," sahut Ardi seraya membawa dua piring ke atas meja makan.


Najma yang selesai menyapu segera menyimpan alat kebersihannya. Dan berlari menuju dapur untuk mencuci tangan dan segera menyusul Ardi yang sudah siap adi meja makan.


"Ma syaa Allah, Alhamdulillah, dikasih nafkah suami, hmm wanginya, ma syaa Allah, pintar masak juga Mas," Najma menarik kursi makan dan duduk di depan Ardi.


"Ga rugi kan nikah sama aku sayang,"


"Hemm," Najma berdiri dari kursinya dan spontan mencium pipi Ardi yang tengah makan, sebagai hadiah atas masakannya pagi ini.


Ardi hanya bisa tersenyum lebar melihat tingkah istrinya itu.


"Nanti aku pakai baju apa Mas?"


"Pakai warna putih tulang,"


"Aku ga punya warna itu,"


"Tenang Babe, udah aku siapin di lemari"


"Kapan belinya? Aku kok gak tau.."


"Kemarin mampir konveksian, ada sisa satu yang ukuran kamu,"


"Hmm, sweet banget sih suamiku ini,"


"Udah dimakan gih, keburu dingin, ga enak nanti,"


"Ah iya, tapi sayang banget buat dimakan, ini buatan Mas Ardi, kalau bisa aku laminating, aku pigura, ah.."


Ardi hanya tersenyum lagi mendengarnya. Mereka kemudian makan dengan lahap, dan setelahnya Najma membersihkan dapur dan meja makan, sedangkan Ardi mencuci piring.


"Mas, biar aku aja,"


"Gapapa sayang, bolehlah sekali-sekali bantuin istriku,"


"Hmm, suami idaman banget sih," ucap Najma seraya memeluk Ardi dari belakang. Tentu saja setelah meja makan dan meja dapur bersih kinclong lagi.

__ADS_1


"Mancing Babe?" Ardi merasakan sesuatu di punggungnya.


"Nggaaak," teriak Najma kemudian berlari menaiki tangga.


Kemudian Najma duduk di meja rias, mengoleskan pelembab dan tabir surya, lalu terakhir ia sapu kan bedak. Ardi yang selesai mencuci piring dan peralatan masak, ikut masuk ke kamar. Ia melihat Najma sedang berdandan, muncullah ide Ardi untuk mengisengi Najma.


Dia menciumi pipi Najma yang baru disapu bedak.


"Mas, aku baru pake bedak," Najma terlihat kesal. Namun Ardi tidak mengindahkannya, ia tetap menciumi kedua pipi Najma.


"Maas, plis,"


"Babe, aku tanya, kamu dandan buat siapa? Buat aku kan?"


"Iya buat Mas, tapi ini nanti ketemu sama istri-istri dokter, walaupun tertutup cadar, kalau ada kesempatan pas dalam ruangan yang semuanya perempuan aku juga pasti buka cadar, masa iya istrinya dokter Ardi Abdurrahman Sholih spesialis bedah syaraf mukanya kucel, izinin aku pake bedak dong,"


"Iya juga ya, okelah, pakai bedak aja, dandan yang cantik, dan maaf sayang, aku tadi cuma bercanda, udah ah, aku ganti baju dulu,"


Ardi kemudian berganti baju dengan kurta lengan panjang warna putih dan celana hitam sesuai dress code acara nanti.


Najma yang selesai berdandan, membalikkan badannya hendak menuju lemari juga, terpana melihat suaminya yang tengah memakai jam tangan.


"Mas, gak usah pergi yuk, aku gak rela kamu dilihat banyak orang, ma syaa Allah tampannya,"


"Emangnya Mas mau ngapain nanti?" Najma jadi penasaran.


"Lihat aja nanti Babe, dah kamu ganti baju dulu gih, aku panasin mobil,"


"Baik Mas," sahut Najma, kemudian Ardi keluar kamar dan turun menuju garasi mobil mereka dan memanasi mesin mobilnya, kemudian sedikit membersihkan bagian luar mobilnya dengan kemoceng.


Tak lama kemudian Najma telah siap, dan mereka berangkat menuju rumah sakit airlangga medika.


.


.


Acara peresmian masjid airlangga bertempat di halaman masjid yang terletak di belakang gedung utama rumah sakit. Di sana sudah berdiri tenda besar dan panggung dimana direktur rumah sakit, ketua panitia dan ketua takmir masjid memberikan sambutannya. Di depan panggung sudah berderet kursi-kursi, di sebelah kanan untuk tamu undangan perempuan, dan sebelah kiri untuk tamu undangan laki-laki. Lima baris terdepan adalah kursi undangan vip selebihnya untuk perwakilan karyawan rumah sakit yang diundang.


Beberapa undangan nampak sudah hadir ketika Ardi dan Najma memasuki tenda itu, Yudha dan mama papanya menyambut mereka.


"Assalamualaikum Om Rendra, tante Helena, Yudha," sapa Ardi.


"Waalaikumusalam Ardi, apa kabar?" Rendra menanyakan kabar anak dari sahabatnya dan juga sahabat dari anaknya (duh gimana nulisnya, ya begitulah Rendra dan Rahman, juga Helena dan Hamida bersahabat, juga Ardi dan Yudha anak mereka jadi sahabatan juga).


"Alhamdulillah baik Om," sahut Ardi.

__ADS_1


"Baiklah, nyaman-nyamanin di sini, Om mau ke atas sebentar," Rendra lalu meninggalkan mereka.


"Najma ikut juga, ma syaa Allah," Helena ikut menyapa.


"Iya Tante, mas Ardi bilang ada Tante Helena juga di sini, makanya saya ikut juga,"


"Iya Najma, itu ada istri-istri Dokter, yuk aku kenalin," ajak Helena. Najma menengok ke suaminya dulu seakan meminta izin mengikuti Helena, Ardi yang tahu maksudnya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Najma berjalan mengikuti Helena ke arah para undangan vip duduk, di sana ia dikenalkan dengan undangan dan istri-istri dokter yang hadir di sana.


"Udah gak akan hilang bini lu, gitu banget lihatnya," celetuk Yudha yang melihat Ardi yang matanya terus mengikuti Najma pergi.


"Hahaha, iya Yudha," Ardi baru tersadar.


"Duduk sini," Ardi duduk di sebelah Yudha.


"Gimana sudah siap nanti mau baca Al Quran?"


"Iya, in syaa Allah siap,"


"Ah itu ustadz Adhim sudah datang, kita sapa beliau," ujar Yudha ketika melihat Ustadz Adhim bersama salah satu jamaahnya turun dari mobil.


"Assalamualaikum Ustadz," sapa Yudha dan Ardi.


"Waalaikumusalam," sahut ustadz Adhim kemudian mereka bersalaman.


"Ada dokter Ardi juga," Ustadz Adhim menyapa Ardi.


"Iya Ustadz, saya juga bekerja di rumah sakit keluarganya Yudha,"


"Oh begitu ma syaa Allah,"


"Silakan duduk Ustadz," pinta Yudha ketika MC sudah naik ke panggung pertanda acara segera dimulai.


Acara itu dimulai oleh MC dengan membaca basmallah bersama-sama. Kemudian ia memanggil Ardi untuk membaca ayat Al Quran.


"Acara berikutnya adalah pembacaan ayat suci Al Quran, kepada Dokter Ardi Abdurrahman Sholih spesialis bedah syaraf, waktu dan tempat kami persilahkan.


Ardi naik ke atas panggung menuju mimbar, semua mata tertuju padanya. Masih belum percaya dokter yang terkenal ramah dan cekatan dalam ruang operasi itu bisa mengaji.


Ardi membaca taawudz, dengan suara indahnya yang ma syaa Allah, mampu menyihir semua hadirin untuk khidmat mendengarkannya, kemudian membaca basmallah, dan ia membaca surat Al Fath ayat 1-10. Tanpa membaca, karena dia menghafalnya.


"Innā fataḥnā laka fat-ḥam mubīnā," ia membaca ayat satu, dan seterusnya...


Najma membatin, 'Ah ternyata Yudha minta tolong buat ini, hmm ma syaa Allah, suamiku, dan di belakang aku banyak dengar bisik-bisik tentang dia, oh sedihnya,'

__ADS_1


__ADS_2