Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Baby Blues


__ADS_3

Najma sibuk menerima tamu dari tadi, bergantian berdatangan, mulai karyawan tokonya, Tante Samira dan om Indra, keluarga papa Rahman dan mama Hamida, disusul karyawan perawat dan administrasi ruang operasi rumah sakit umum, dimana Ardi menjadi kepala instalasi bedah sentral. Mereka silih berganti, pulang dan datang. Dan yang menjadi tamu terakhir siang itu adalah dokter Sabrina.


Saat Sabrina datang, mama Hamida sedang ke kantor konveksi untuk bertemu klien penting. Jadi Najma hanya sendiri ditemani dua asisten rumah tangga dan anak-anak.


"Hai Mba," sapa dokter Sabrina yang tengah duduk di ruang keluarga.


"Hai Dok," sahut Najma seraya menyalami rekan kerja Ardi itu.


"Sendirian aja Dok?" tanya Najma kemudian.


"Iya, kabarnya tadi teman-teman dari ruang operasi sudah ke sini, saya ditinggal karena masih harus visite pasien rawat inap," sahut dokter Sabrina.


"Oh, iya, tadi sekitar sepuluh orang perawat dan bagian admin yang ke sini, jadi sungkan, mereka repot-repot kemari disela kesibukan mereka buat nengok baby Icha," kata Najma, dia mencoba bersikap ramah, namun di sudut hatinya masih menyimpan sedikit sakit karena perlakuan Sabrina padanya, walaupun dia sudah memaafkan, namun masih belum bisa melupakan begitu saja.


"Kak Ardi belum pulang?" tanya dokter Sabrina.


"Belum, hari pertama dia masuk setelah cuti menemani saya di rumah, lebih sibuk kali," sahut Najma.


"Iya, tadi Kak Ardi giliran jaga poliklinik, aku mampir sebentar, antrian pasiennya ada lima puluh, sampai sore mungkin baru selesai," imbuh Sabrina.


"Ah...iya," ucap Najma, dia sedikit terganggu melihat bahwa Sabrina lebih mengetahui keadaan suaminya di rumah sakit, bagaimana pun wanita itu pernah menyukai dan mengejar suaminya, dan tidak menutup kemungkinan saat ini dia belum menyerah dengan perasaannya kepada Ardi.


"Oaaa....owaaaa..." terdengar tangisan baby Icha dari kamar bayi.


"Sebentar dok, sepertinya baby Icha lapar, oh iya, waktunya minum asi, saya ambil dulu dia,"


"Ah iya silakan Mba," ucap dokter Sabrina. Sepuluh menit kemudian Najma keluar dari kamar bayi dengan baby Icha dalam gendongannya.


"Maaf dok, kutinggal lama, sekalian ganti popok tadi," ucap Najma, ia merasa tidak enak meninggalkan tamu sendirian.

__ADS_1


"Ga pa pa Mba, ini aku lihat album foto di bawah meja, maaf aku buka, ternyata isinya foto pernikahan kalian," ucap dokter Sabrina.


"Iya, ga pa pa, lihat aja," sahut Najma, kemudian kembali duduk di sofa.


"Maaf saya nyusuin di sini ya," Najma sedikit kikuk menyingkap khimarnya dan membuka resleting gamisnya, kemudian mulai menyusui baby Icha.


Sabrina hanya tersenyum dan memperhatikan Najma.


"Awww....sssshhh..." Najma meringis kesakitan ketika sang bayi mulai menyusu.


"Kenapa Mba? Digigit kah?" tanya Dokter Sabrina.


"Bukan, kan belum ada gigi ini bayi, cuman kata mama mungkin lidahnya masih kasar, jadi terasa sakit waktu pertama nyedot," jawab Najma.


"Oh begitu," dokter Sabrina melanjutkan melihat foto-foto pernikahan Ardi dengan Najma, rasa sakit menyayat hati melihat lelaki yang dari dulu dia sukai bersanding di pelaminan bersama wanita lain. Namun ia berusaha tidak menampakkan sakit hati dan rasa cemburunya.


"Beruntung nya Mba Najma ini, punya suami tampan, kaya, dan mapan, tinggal duduk manis di rumah, sudah dapat banyak harta dan cinta, heheheh," ucap dokter Sabrina.


"Anda salah dokter, saya ga duduk manis di rumah, selain merawat suami dan anak-anak, saya juga punya usaha toko souvenir di tengah kota, saya juga banyak membantu mertua saya mengurus bisnisnya," sanggah Najma.


"Oh, begitu," dokter Sabrina memanggut-manggut saja, kemudian menutup album foto di pangkuannya dan mengembalikannya ke bawah meja seperti semula.


"Sudah mulai sore, nunggu kak Ardi juga ga datang-datang, saya pamit dulu Mba, eh iya ini hadiah buat baby Icha, eh siapa sih namanya?" tanya dokter Sabrina seraya menyerahkan kado pada Najma.


"Makasih dok, Nafisah namanya, kenapa buru-buru sih dok? Ga nunggu mas Ardi datang,"


"Saya besok pagi ada operasi, mau belajar dulu,"


"Oh baiklah, Bu Ani..." Najma memanggil Bu Ani yang ada di dapur.

__ADS_1


"Iya Mba Ama," Bu Ani mendekat ke arah Najma.


"Ini dokter Sabrina mau pulang, tolong antar ke depan, dan jangan lupa bingkisannya," pesan Najma.


"Baik Mba," sahut Bu Ani.


Dokter Sabrina berjalan ke depan diikuti Bu Ani, tak lupa Bu Ani mengambil paper bag berisi souvenir dan kue kering untuk tamu yang datang mengunjungi baby Icha.


Najma masih menyusui baby Icha yang memang sangat suka menyusu sampai ketiduran. Setelah dirasa sang bayi cukup kenyang, Najma menaruh kepala baby Icha di pundaknya, dengan posisi agak berdiri, lalu menepuk-nepuk punggung bayi itu dengan lembut, sampai sang bayi bersendawa.


Setelah terdengar sendawa baby Icha, Najma meminta Bu Ani membawa baby Icha ke kamarnya.


"Bu Ani, nitip sebentar ya, saya mau ke atas dulu, saya agak capek hari ini," ucap Najma ketika melihat Bu Ani kembali dari depan.


"Iya Mba," sahut Bu Ani seraya mengambil baby Icha dari dekapan Najma.


Najma perlahan menaiki tangga, karena bekas sayatan operasi di perutnya terkadang masih terasa sakit. Sesampainya di kamar, Najma berganti baju dengan daster selutut tanpa lengan. Kemudian istirahat sejenak dengan duduk di sofa.


Tiba-tiba saja ia merasa sangat sedih. Ia terngiang perkataan dokter Sabrina tentang beruntungnya Najma dinikahi lelaki tampan, mapan, dan juga kaya seperti Ardi.


'Iya, aku ini bukan siapa-siapa, aku yatim piatu, cuma lulusan pesantren, ijazah pun juga cuma kejar paket c. Sangat jauh bila dibandingkan dengan tamu-tamu yang datang tadi, semuanya profesional, ada perawat, dokter, tenaga admin yang pasti seorang sarjana, kerabat mama Hamida yang juga sosialita, apalagi yang terakhir datang adalah dokter Sabrina, dokter spesialis bedah syaraf, yang pasti pintar dan anak orang kaya. Aku bukan siapa-siapa bila dibandingkan mereka, apalagi aku sudah melahirkan anak, tubuhku bertambah gendut, pasti mas Ardi tidak menyukai aku lagi,' Najma melihat perutnya yang masih membuncit bekas kehamilannya. Ia mulai menangis, merasa lelah, sedih, kesepian.


Bolak-balik ia melihat jam, belum ada pesan dari Ardi yang memberi kabar akan segera pulang. Ia bertambah sedih, merasa sendiri, terasing.


"Ibu....Ayah....Ama kangen, Ama takut sendirian," ucapnya sambil menangis.


"Kreek..." terdengar pintu dibuka. Ardi yang baru pulang dari rumah sakit sangat terkejut mendapati istrinya menangis sendirian di kamar.


"Babe... Kamu kenapa? Kok nangis ...hmm," tanya Ardi yang langsung ikut duduk di samping Najma dan memeluknya. Tangisan Najma semakin menjadi.

__ADS_1


Ardi berpikir sejenak, mungkin ini yang disebut baby blues syndrom.


__ADS_2