
Episode sebelumnya...
"Maukah kamu menikah denganku sekali lagi, Bintang?. " Ujar Bumi mengulangi kata-katanya.
###
Happy Reading and Enjoi Guys.. .
Kotak merah itupun terbuka menampilkan cincin berlian yang berkilau, Bumi melamar Bintang dengan lebih baik kali ini dari pada sebelumnya.
"Wahhh." Bintang yang melihat itu matanya berbinar-binar, merasa takjub.
"Kamu suka?. " Tanya Bumi.
Saat ini kedua orang itu sudah berada di dalam Apartement Bumi.
"Maafkan aku Bintang untuk semua kesalahan yang pernah ku perbuat kepadamu. " Ujar Bumi meminta maaf lagi.
"Mas, Bumi udah dong dari kemarin itu aja yang di ulang-ulang mulu, jadi malas Bintang dengarnya. " Bintang menepis tangan Bumi yang sedaru tadi memegang kotak cincin itu namun Bintang hanya memandangi nya saja.
"Iya ok ok, jadi bagaimana?. " Tanya Bumi kemudian penuh harap.
"Bagaimana apanya?. " Bintang bertanya balik.
Bumi melirik ke arah cincinnya.
"Ooh aku akan pikir-pikir dulu. " Ucap Bintang.
"Hah? Kenapa? Ayolah Bintang, apakah kau masih marah kepadaku?. "Bumi terlihat tidak tenang.
" Tidak. " Balas Bintang cuek.
"Bohong! Kamu masih marahkan?. "
__ADS_1
" Tidak!. "Tegas Bintang.
" Jadi apa dong?. "
"Aku tidak mau cinc8n yang mirip dengan Shanti. " Ujar Bintang sinis sambil menatap cincin berlian itu yang kotak dan ukuran berliannya kelihatan sama dengan yang pernah Bumi beli untuk di berikan kepada Shanti.
"Ah, oh itu, baiklah kalau kau tidak suka aku akan membuangnya saja. " Bumi berjalan menuju ke balkor Apartementnya.
Melihat itu Bintang segera berdiri untuk mencoba menahannya.
"Mas Buki itukan di belinya pake uang, ya udah sini, iya deh aku Terima. " Ujar Bintang, mencoba menahan Bumi yang akan ke balkon untuk membuang cincin tersebut.
"MAS BUMI. " Teriak Bintang.
Langkah Bumi akhirnya berhenti lalu berbalik ke arah Bintang.
"Nih." Bintang menyodorkan jarinya untuk di pasangi cincin tersebut.
Bumi tersenyum puas lalu memasukkan cincin tersebut ke jari manis Bintang.
###
"Bintang? . " Panggil Bumi yang melihat Bintang baru saja terbangun dan keluar dari kamar sementara Buki sedang sibuk mempersiapkan sarapan pagi.
"Hmmmm."
"Lihat." Ujar Bumi setelah melihat Bintang sudah duduk di kursi meja makan, laki-laki itu menunjuk kaos berwarna warni yang di kenakannya.
Bintang yang melihat itu otomatis melongo.
"Mas Bumi masih nyimpen itu?. " Tanya Bintang mengingat baju kaos yang dulu pernah ia campurkan dengan pewarna karena kesal dengan Bumi.
"Bagus gak di badan aku?. " Tanya Bumi lagi, memperlihatkan bodynya bagaikan binaraga yang memperagakan otot-ototnya mengenakan kaos warna warni itu.
__ADS_1
"Ihhh lebai banget. " Sinis Bintang.
"Enak aja lebai, aku masih punya satu kamu mau pakai enggak?. " Bumi memperlihatkan satu kaos lagi.
Bintang yang melihat itu langsung menghindar dari meja makan dan berlari meninggalkan Bumi yang sebentar lagi sepertinya akan memaksanya untuk mengenakan baju tersebut.
"aku gak mau pake baju itu!. " Bintang berdiri dari tempat duduknya mengambil ancang-ancang jika Bumi akan berjalan ke arahnya.
"Bintang, jangan kabur..... " Benar saja Bumi terlihat akan memaksa Bintang untuk mengenakan kaos tersebut.
"Gak mau mas Bumi, udah di bilang Bintang gak mau. " Teriak Bintang kabur, masuk ke dalam kamar kembali di ikuti oleh Bumi.
Bintang yang merasa terdesak melimpat naik ke atas kasur dan bersembunyi di dalam selimut.
"Kena kamu. " Teriak Bumi yang langsung menangkap Bintang yang berada di dalam selimut.
"Aaaaaaaaaaa." Teriak Bintang.
"Hahaha, awas yah kamu gak bakalan bisa kabur dari aku. "
"Toloongggg." Bintang pura-pura meminta tolong, seakan-akan dirinya akan di culik oleh Bumi.
"Teriak aja sekencang-kencangnya gak bakalan ada yang dengerin kamu teriak. " Bumi kemudian menindih tubuh Bintang.
"mas Bumi ih jahat. " Balas Bintang manja, membuat Bumi menghentikan aksinya untuk memaksa gadis itu memakai kaos yang sama dengan yang di kenakan laki-laki itu.
Bintang segera menutup matanya dan menenggelamkan wajahnya di dada Bumi.
Bumi balas memeluknya dengan penuh kasih sayang.
Bersambung...
Klik like, vote, subscribe dan komentar yah guys.
__ADS_1
Terimakasih,