
Hari itu tiba...
Dimana Yudha dan Qumil akan melaksanakan akad nikah mereka..
Dimana kedua anak manusia yang sebelumnya asing satu sama lain, akan berubah status menjadi sepasang suami istri..
Dimana dua keluarga bersatu dalam ikatan pernikahan anak-anak mereka..
Akad nikah dan resepsi akan dilaksanakan di hotel mewah milik keluarga mama Yudha.
Akad nikah dilaksanakan di aula dua di lantai dua, ruangan yang lebih kecil dari aula utama di lantai satu yang dipakai untuk resepsi nanti.
Di dalam aula dua itu sudah berkumpul keluarga besar Yudha dan Qumil, juga Najma dan Ardi bersama Rahman dan Hamida.
Di sudut ruangan ada satu pintu yang terhubung dengan ruang persiapan, yang dipakai Qumil untuk dirias di sana. Najma yang baru datang segera memasuki ruangan itu untuk menemui sahabat yang seperti saudaranya sendiri itu.
"Hmm ...ma syaa Allah..." ucap Najma ketika melihat wajah Qumil yang baru selesai dirias dan telah memakai gaun pengantin rancangannya itu. Qumil terlihat berbeda, kalau orang Jawa bilang manglingi / bikin pangling. Karena Qumil yang termasuk tomboy, jarang sekali memakai makeup, bisa dihitung jari, ketika wisuda SMA dan ketika pernikahan Najma.
"Ama.." ucap Qumil sambil tersenyum.
"Ma syaa Allah ini beneran kamu Qumil?"
"Ya iyalah siapa lagi .." sahut Qumil.
"Ma syaa Allah cantik banget, sampai pangling akutuh..." ucap Najma kemudian menciumi Qumil.
"Udah dong, bedaknya habis nanti," protes Qumil
"Ah iya .." Najma kemudian menyalami Arina ibu Qumil.
"Tante .." ucap Arina.
"Iya Ama, anak ibu ..." sahut Arina, kemudian memeluk Najma.
"Makasih ..makasiiih banget sudah buatin gaun yang cantik buat Qumil, juga sudah ngurusin semua pakaian keluarga.." ucap Arina.
"Sama-sama Tante, ini juga ga ada apa-apanya dibanding kebaikan-kebaikan Tante dan om Ridwan kepada saya," ucap Najma sungkan.
__ADS_1
Di luar terdengar bahwa akad segera dimulai, Najma dan Arina segera duduk di samping kiri-kanan Qumil, mereka dengan khidmat mendengarkan akad.
Acara itu dibuka dengan bacaan ayat Al Qur'an yang dibaca oleh Ardi, Ardi membacakan surat An Nisa ayat 34-35 dengan nada yang indah dan menenangkan, membuat siapapun yang khusyuk mendengarkan akan merasa tenang hatinya.
Setelah itu ayah Qumil selaku wali nikah telah duduk berhadapan dengan Yudha, dan tangannya bersalaman dengan Yudha selama akad berlangsung.
"Saudara Raditya Yudha Airlangga Bin Rendra Erlangga, saya nikahkan dan kawinkan saudara dengan anak kandung saya yang bernama Qumil Laila Ila Qalila binti Ridwan Hartanto, dengan mas kawin emas tiga puluh gram dan uang seratus juta rupiah dibayar tunai," ucap Ridwan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Qumil Laila Ila Qalila binti Ridwan Hartanto dengan mas kawin tersebut, tunai," sahut Yudha dengan mantap.
"Bagaimana saksi?" tanya penghulu.
"Sah.."
"Sah..!!"
"Alhamdulillah..." kemudian mereka mengamini doa yang dibacakan penghulu.
Qumil dan ibunya menitikkan air mata haru dan bahagia. Najma yang sibuk mengelap air mata mereka dengan tissue.
"Uda dong nangisnya, ntar matanya bengkak, jelek difoto," ucap Najma, sambil menepuk pipi Qumil pelan dengan tissue.
Najma dan Arina menggandeng Qumil di kanan kirinya. Setelah mengantar Qumil pada Yudha, Najma duduk di samping Hamida, dan Arina duduk di kursi orang tua pengantin.
Setelah acara salaman dan tanda tangan dokumen, kedua pengantin sungkem kepada orang tua, dan dilanjutkan acara foto-foto.
Ketika tiba foto keluarga Qumil, mendadak Arina menghentikan mas fotografer.
"Bentar Mas, nunggu anak saya satunya dulu,"
"Ama.. sini.. ajak juga suamimu," panggil Arina.
Najma dan Ardi mendekat ke arah mereka dan ikut foto keluarga.
"Ini juga putri kami," ucap Arina.
"Hari ini ayah bangga sekali, punya menantu dua-duanya dokter, Alhamdulillah," ucap Ridwan.
__ADS_1
Najma duduk di sudut ruangan setelah berfoto tadi. Ardi datang membawa sepiring makanan menghampiri Najma, ia tahu Najma sedang sedih mengingat kedua orangtuanya yang telah tiada.
"Babe, makan yuk," ucap Ardi. Najma hanya mengangguk.
"Mas..."
"Kenapa nangis, ini hari bahagia saudari dan sahabatmu," ucap Ardi mengelus punggung Najma.
"Terharu aja, mereka ga lupa sama aku, dan mereka menganggap aku anaknya sendiri," ucap Najma di sela isakkannya.
"Iya, Mas juga senang punya mertua yang baik seperti mereka, kalau ke toko, seringlah mampir mengunjungi mereka, karena habis ini Qumil di luar kota terus karena harus lanjut kuliahnya, dan kalau akhir pekan dia ga bisa pulang karena Yudha ganti yang nyusul ke sana buat kuliah juga,"
"Boleh Mas?"
"Tentu boleh, pulang dari toko kamu istirahat di sana temani Bu Arina, nanti pulang kerja aku jemput kamu,"
"Baiklah,"
"Sekarang makan yuk," ajak Ardi, Najma mengangguk dan makan bersama Ardi.
Setelah acara foto dan makan bersama keluarga, mereka bersiap untuk acara resepsi siang hari yang akan dihadiri oleh teman-teman Yudha dan Qumil.
Najma berada di kamar rias keluarga pengantin perempuan. Resepsi akan digelar pukul 13 hingga pukul 15.
Saat itu sudah pukul 12, sudah dhuhur, Najma segera sholat Dhuhur bersama Qumil dan keluarga pengantin wanita. Dan Ardi juga sholat di masjid hotel yang terletak di samping kanan hotel bersama para keluarga yang laki-laki.
Dan saat tiba acara resepsi Kedua mempelai memasuki aula utama diikuti dokter Rendra dan ibu Helena, kemudian di belakang mereka ayah dan ibu Qumil, di belakangnya lagi ada Najma dan Ardi, diikuti papa Rahman dan mama Hamida. Dan keluarga lain yang menjadi penerima tamu di sepanjang karpet merah menuju pelaminan.
Para tamu berdatangan, ada teman-teman Qumil kuliah, ada tetangga kanan kiri tokonya, ada juga teman kuliah kedokteran dan pasca sarjana Yudha, sedangkan kolega dokter Rendra dan teman-teman Helena juga karyawan rumah sakit diundang pada resepsi malam hari.
"Undangannya banyak banget Mas," bisik Najma.
"Iya, teman Yudha memang banyak," sahut Ardi.
"Dan semuanya kenal sama Mas Ardi juga, dari tadi Mas disapa,"
"Ya iyalah, kan kami satu kampus, satu tempat waktu jadi dokter residen juga, satu kelompok juga waktu baksos di pesantren kamu, terus ketemu kamu," sahut Ardi dengan senyum lebarnya di sela mereka menyambut tamu yang terus berdatangan. Najma juga tersenyum mengingat waktu itu.
__ADS_1
Dari pintu masuk terlihat gadis-gadis cantik, terlihat seperti sosialita muda berjalan bersama-sama di atas karpet merah, dan ketika melihat Ardi, mereka langsung menyapa.
"Kak Ardi.. kak Ardi," mereka saling berebut mendekati Ardi untuk berfoto bersama.