
Mereka akhirnya tiba di depan rumah mereka, namun keduanya terkejut melihat ada seorang pria tengah baya sedang berteduh di teras garasinya, sambil mendekap sesuatu.
"Siapa itu Mas?" tanya Najma.
"Entahlah, kita masuk dulu, baru kita tanyai," ucap Ardi.
Ardi membuka pintu garasi dengan remote di mobilnya, kemudian memasukkan mobil itu ke dalam garasi. Keduanya turun dan terkejut mendengar suara tangisan bayi dalam dekapan pria itu.
"Om Indra?" Najma lebih terkejut lagi, ternyata lelaki yang menggendong bayi itu Om Indra, suami Tante Samira adik dari ibunya rahimahallaah.
Najma dan Ardi saling menatap penuh tanya, ada apa ini? Kenapa Om Indra di sini? Bayi siapa itu? Apa sebenarnya yang terjadi?
"Iya Ama, ini Om.. ssstt cup cup sayang.." sahut Indra sambil mencoba mendiamkan bayi yang digendongnya.
"Pasti ia kedinginan, kita masuk dulu Om," ucap Ardi mempersilahkan Indra masuk, ia juga membawakan tas bayi yang ditaruh di bawah begitu saja, kebasahan tentu saja.
"Sini Om," Najma mempersilahkan Indra menuju ruang tengah.
"Ditidurkan di sini Om bayinya, pasti kedinginan dia," ucap Najma.
Indra menaruh bayi kecil yang masih merah itu di sofa, Ardi datang dari kamar atas membawa selimut lembut untuk menghangatkan bayi itu. Dan handuk untuk Indra yang kebasahan juga.
"Ini Om," ucap Ardi seraya memberikan handuk kepada Indra untuk mengeringkan rambut dan bajunya yang sedikit basah.
"Agak basah bajunya Mas, bisa sakit ini, tapi gimana gantinya, aku belum pernah gantiin baju bayi," ucap Najma.
"Sini biar aku yang gantiin," Ardi dengan sigap mengganti baju bayi mungil itu dengan baju yang diambilnya dari tas bayi. Beribu pertanyaan ingin segera ia dan Najma tanyakan pada Indra, namun mereka saat ini mementingkan keselamatan bayi mungil itu.
Setelah itu Ardi membuatkan susu untuk bayi itu, dengan susu formula dalam tas bayi. Najma kemudian membuat teh hangat untuk mereka bertiga.
Ardi menggendong bayi itu dan memberikan susu, dengan piawai, seperti sudah ahli dan terbiasa.
__ADS_1
Najma ingin sekali bertanya, bagaimana Ardi ahli melakukan itu semua. Namun ia lebih penasaran ingin bertanya-tanya pada Om nya yang membawa bayi itu.
Setelah kenyang menyusu, Ardi menyendawakan bayi itu dengan menengkurapkan si bayi di pundaknya, kemudian menepuk-nepuk punggung bayi itu sampai bersendawa. Lalu menidurkannya dalam balutan selimut lembut yang hangat.
"Ama.. Nak Ardi.. kalian pasti bertanya-tanya, kenapa Om kemari, bagaimana Om bisa tahu alamat kalian.. siapa bayi ini..dan kenapa Om bawa kemari..." ucap Indra.
Najma dan Ardi terdiam ingin mendengarkan semua keseluruhan cerita dari Indra.
"Pertama-tama Om mau minta maaf atas semua kesalahan om sekeluarga terutama pada kamu Ama, sepeninggal orang tuamu kami tidak menjagamu dengan baik, malah membiarkan kamu menikah sendiri, itu tidak pantas dilakukan oleh orang yang disebut keluarga, maaf...maafkan om Ama..maafkan kami.." ucap Indra dengan muka yang amat sedih.
"Sudah Om, kami sudah ikhlaskan semuanya, ini sebenarnya anak siapa Om?" Najma penasaran.
"Anak Syila," sahut Indra.
"Syila sudah nikah om?"
"Jadi tak lama setelah kamu menikah, Syila juga mendapat lamaran dari teman mainnya, tak lama kemudian mereka menikah, Surya namanya, dia baik dan bertanggung jawab, namun takdir Allah berkata lain, ketika Syila hamil dua bulan, Surya meninggal karena kecelakaan ketika pulang dari tempatnya bekerja,"
"Innalilahi wa inna ilaihi roojiun," ucap Ardi dan Najma hampir bersamaan.
"Dia drop, sangat drop..jadi dari kehamilan dua bulan hingga sembilan bulan, ia hanya diam di rumah, sedih terus kelihatannya, hingga waktu melahirkan ia mengalami perdarahan dan tak bisa diselamatkan," tutur Indra yang sangat sedih mengingat anaknya kembali.
"Syila.. innalillahi wa inna ilaihi roojiun," lagi-lagi Najma beristirja..
"Kenapa Om ga ngabari kami?" tanya Najma sambil terisak.
"Kami mana berani Ama, kami terlalu menyakitimu..."
"Lalu Tante Samira?"
"Tantemu sakit-sakitan semenjak hari itu, hari dimana kami ingin menikahkan nak Ardi dengan Syila, dia sangat menyesal bersikap tidak adil kepada kalian, sehingga sering sakit, maka dari itu kami ingin menitipkan Akbar pada kalian, karena om harus bekerja dan tantemu tidak bisa mengurusnya karena sakit, om ingin kalian jadi orang tuanya, om percaya kalian bisa mendidiknya dengan baik,"
__ADS_1
Tangis Najma tak terbendung lagi.. entah apa yang dia rasakan, sedih dan sesak mendengar keluarga bibinya tertimpa musibah bertubi-tubi, namun senang dan bahagia mendapatkan anugerah seorang bayi laki-laki.
"Mas .." ucap Najma seolah meminta persetujuan suaminya untuk merawat keponakan kecilnya yang yatim piatu sama seperti dia. Ardi mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu om pamit dulu ya," ucap Indra.
"Biar saya antar Om," ucap Ardi.
"Ndak, ndak usah Nak, kalian pasti lelah, tolong jaga anak dan cucu om ini," Indra menolak dengan halus, tak ingin merepotkan keluarga Najma lagi.
"Sebentar Om, tunggu dulu ya," Najma segera berlari menuju dapur, memasukkan beberapa box lauk beku, buah-buahan, dan sembako untuk bibinya.
"Titip ini buat Tante, dan ini ongkos taksinya, di depan perumahan in syaa Allah ada yang mangkal kok," ucap Najma sambil menyerahkan tas berisi barang-barang tadi.
"Makasih banyak Ama, semoga kalian bahagia selalu, oh iya surat-suratnya Akbar ada dalam map di tas itu, kalian pasti perlu untuk proses adopsi dan sebagainya," ucap Indra kemudian meninggalkan rumah itu.
Tinggal Najma dan Ardi serta baby Akbar di ruang tengah. Masih belum percaya dalam sekejap mata, rumah ini telah kedatangan warga baru yang akan memberikan keramaian di rumah ini.
"Mas ga papa kita rawat baby A ini?" tanya Najma yang mencoba menggendong Akbar yang terlelap dalam mimpi.
"Ya gapapa sayang, Mas akan menyayanginya seperti anak kandung kita sendiri,"
"Terus mama papa gimana? Mereka keberatan ga?"
"Ehm, paling juga tidak, besok Mas akan bicara dengan mama papa,"
"Iya Mas, kita naik yuk, aku pengen mandi, dan segera bobok sama baby A dan papanya? Abinya? ayahnya? mau dipanggil apa Mas?"
Mereka berdua tertawa, dalam pikiran mereka belum siap apapun untuk menjadi orang tua, panggilan belum ada, kamar bayi, dan sebagainya, karena mereka pikir, minimal sembilan bulan lagi baru punya anak kalau Najma benaran hamil.
"Umma..." panggil Ardi pada Najma.
__ADS_1
"Baba..." panggil Najma pada Ardi. Dan mereka tertawa lagi, aneh dan masih janggal rasanya memanggil dengan sebutan itu.
Namun mereka bersyukur, tak henti-hentinya bersyukur, mau anak yang lahir dari rahimnya, atau bukan, Allah telah menghadirkan bayi laki-laki mungil di tengah mereka.