
"Maaf ya Mas, hari ini kita makan masakan Bu Ani dulu, besok in syaa Allah aku masakin," ucap Najma sambil mengambilkan nasi putih dan lauknya ke piring Ardi.
"Ga papa sayang, kamu lagi mual, kamu ga masak juga ga papa, aku makan apa aja kok," ucap Ardi.
"Eh iya, hari ini Fifi datang ya, aku mau sapa dia dulu, juga mau lihat Akbar, sebentar ya Mas," ucap Najma. Ardi hanya mengangguk dan tersenyum mengiyakan. Najma segera menghampiri Fifi yang sedang bersama Bu Ani dan anak-anak.
"Hai Fi...gimana... udah akrab sama Bu Ani?" tanya Najma.
"Iya Mba, udah dijelasin banyak hal sama Bu Ani," sahut Fifi.
"Iya, makasih Bu Ani," ucap Najma.
"Saya yang makasih Mba, udah dicariin teman, eh Mba Najma sama Pak Ardi libur?" tanya Bu Ani.
"Saya yang libur, tadi pagi mual, kalau mas Ardi berangkat siang," sahut Najma.
"Oh iya..." sahut Bu Ani.
"Ini udah pada sarapan tadi?" tanya Najma.
"Sudah Mba, alhamdulillah," sahut Bu Ani.
"Ya udah saya nemenin mas Ardi sarapan dulu, nitip Akbar ya, Akbar sama Mba Fifi dulu ya, Umma lagi kurang enak badan," ucap Najma.
Najma kembali lagi ke kursi makan di hadapan Ardi, ia heran melihat makanan Ardi masih utuh.
"Lho Mas, belum dimakan??"
"Nungguin kamu sayang, yuk makan," sahut Ardi.
"Mas makan duluan kan bisa, kenapa harus nunggu aku, kan udah aku ambilin tadi,"
__ADS_1
"Hmm rasanya lebih enak aja makan bareng kamu Babe,"
Najma mengangguk dan tersenyum, kemudian mulai menyendok makanannya.
"Eh iya, tadi Mas kirim pesan ke siapa sebelum memutuskan berangkat siangan?" tanya Najma.
"Ya bos nya lah, Yudha, biar ga dipecat," sahut Ardi setengah bercanda.
"Eh Babe, nanti minta Fifi nginap aja malam ini, aku ada operasi tengah malam mungkin baru selesai, aku ga mau kamu sendirian sama Akbar, kadang kalau malam kan dia suka rewel, aku takut kamu kewalahan sendirian, dan yang paling aku khawatirkan kamu lagi hamil, aku ga tega kamu sendirian, kalau ada apa-apa gimana?" tutur Ardi.
Najma terdiam sejenak, ia berpikir rasanya tidak benar kalau hari pertama Fifi bekerja di rumah ini harus menginap.
"Ehm...gimana kalau aku nginap di rumah mama aja, aku kok kangen sama mama, pengen makan masakan mama," ucap Najma menutupi kekhawatiran yang ia rasakan, tapi memang Najma membutuhkan perhatian seorang ibu juga disaat ia mengandung, apalagi kehamilan pertama.
"Oke, aku kabarin mama nanti, berangkatnya kita bareng aja, aku anterin kamu ke rumah mama papa," ucap Ardi, dia senang sekali istrinya bisa dekat dengan kedua orang tuanya.
"Kita ajak Fifi aja ya Mas, sekalian mau kenalin ke mama, biar nanti dia pulang dari rumah mama,"
"Iya sayang, terserah kamu saja,"
"Mas,"
"Hmm...ya Babe?"
"Mau kopi?"
"Boleh, jangan manis-manis ya, soalnya kamu sudah terlalu manis," gombal Ardi. Yang membuat pipi Najma memerah.
"Apa sih Mas, gombal aja,"
Najma segera ke dapur membuat kopi untuk Ardi. Di masa hamilnya ini, ia ingin dekat terus dengan Ardi, ingin bermanja-manja, dan melakukan hal apapun dengan Ardi. Walaupun sebelumnya juga sudah manja.
__ADS_1
Baby A menangis, spontan Fifi berlari mendekati baby A yang ada di dekat Ardi juga, dan segera melihat baby A, memeriksa popoknya. Ardi melirik Fifi yang ada di belakangnya. Rasa tidak nyaman muncul karena terlalu dekat dengan Fifi.
"Oh, Akbar pup, risih ya dek, Mba Fifi ganti ya popoknya," ucap Fifi.
"Fi, minta tolong ganti popoknya di kamar aja bisa?" pinta Ardi.
"Oh, iya Pak," sahut Fifi yang segera menggendong baby A ke kamar bayi di dekat ruang tengah itu. Dadanya bergemuruh mendengar Ardi bicara padanya, dan mereka sedekat itu, tercium juga wangi maskulin dari tubuh Ardi yang membuat Fifi tersenyum-senyum sendiri.
"Mas, ini kopinya," ucap Najma meletakkan mug berisi kopi krim buatannya di samping laptop Ardi.
"Iya, sayang, jazaakillaahu khayran," sahut Ardi.
"Wa jazaakallaahu khayran, Akbar mana Mas?"
"Tadi pup, diganti popoknya sama Fifi di kamar," sahut Ardi. Ardi merasa dari dalam kamar Fifi mengamatinya, yang membuat Ardi tidak nyaman.
"Babe, kita ke kamar yuk, kamu istirahat, aku temenin," ucap Ardi.
"Sebentar Mas, aku mau bilang Fifi dulu buat siapin baju sama keperluan Akbar buat nginap di rumah Mama," ucap Najma kemudian masuk ke kamar baby A.
Fifi ketakutan rasanya, jangan-jangan Mba Najma tahu aku mengamati Pak Ardi... batinnya, dadanya berdegup kencang ketika Najma menghampirinya.
"Fi, minta tolong kamu siapin baju sama keperluan Akbar yang lain ya, mau nginap di rumah orang tua Mas Ardi, buat dua hari aja bajunya, sekalian mau ngenalin kamu ke mamanya mas Ardi," ucap Najma.
"Iya Mba, baik," sahut Fifi, sambil bernapas lega, ternyata Najma hanya memintanya menyiapkan keperluan baby A.
"Yuk Mas, ke atas, aku bawain kopinya," ucap Najma. Kemudian mereka naik ke kamar.
Ardi duduk bersandar di kepala ranjang, di sampingnya Najma tidur miring menghadap Ardi, memeluk pinggang Ardi.
Tak berselang lama Najma terlelap. Ardi merasa iba melihat Najma, di kehamilan pertama ini, tadi pagi dia mual muntah dan terlihat pucat.
__ADS_1
Ardi membelai rambut panjang Najma, menyingkirkan anak rambut di dagu Najma.
"I love you Babe...yang kuat ya, yang sabar, aku akan terus di sampingmu, menemani perjuangan kamu mengandung anakku," ucap Ardi.