
"Assalamualaikum," ucap Ardi ketika memasuki kamar setelah Nama membukakan pintu. Ardi baru pulang selepas Isya, sebenarnya sudah selesai mengajar sebelum Maghrib tadi, namun ia membeli makanan dan mampir ke masjid untuk sholat Isya berjamaah terlebih dahulu.
"Waalaikumusalam pak dosen," sahut Nama menyambut suaminya dengan senyuman, Najma tahu betul suaminya lelah, sedapat mungkin ia berdandan yang baik, memakai wewangian, dan tersenyum agar menjadi penyejuk mata pangeran cintanya itu.
Ardi melepas sepatu dan kaos kakinya, lalu menyimpan di lemari sebelah pintu. Kemudian mencuci tangan di wastafel dapur. Lalu Najma mencium tangan Ardi dan Ardi menyambutnya dengan kecupan di kening sang istri.
"Ini buat makan malam, kamu siapin ya, aku mandi dulu," ucap Ardi.
"Iya Mas," sahut Najma, Ardi meninggalkan Najma menuju kamar mandi, dan Najma membuka plastik yang diletakkan Ardi di atas meja makan, berisi dua bungkus nasi goreng. Najma memanaskannya kembali dan menggoreng telur mata sapi untuk pelengkapnya.
Tak lama kemudian Ardi keluar dari kamar mandi, sudah berganti dengan celana pendek dan kaos polos warna hitam. Rambutnya masih basah karena keramas, membuat ia semakin sexy.
"Yuk makan Mas," ucap Najma setelah selesai menyajikan nasi goreng di atas piring.
"Kamu dapat telur dari mana?" tanya Ardi sembari duduk di kursi makan.
"Kulkasnya kosong, jadi tadi aku sama Qumil belanja di minimarket bawah,"
"Oh iya, kamu nyaman ga di sini?" tanya Ardi sambil menikmati makan malamnya.
"Hmm, nyaman ga nyaman sih,"
"Ga nyaman gimana Babe? Apa kita perlu cari tempat tinggal baru? Kamu mau yang seperti apa?"
"Sebenarnya nyaman banget, perabotannya lengkap juga, pemandangan dari balkon juga indah, ini kamar terawat banget, bahkan semuanya terlihat baru," ujar Najma.
"Terus masalahnya apa?"
"Mahal Mas,"
"Ini termasuk murah sayang, tapi sebenarnya ada yang lebih murah, tapi dapurnya di luar kamar, aku ga bisa bayangin kamu yang biasanya masak pake daster, terus harus masak dengan pakaian tertutup dari ujung kaki sampai ujung kepala, pasti ga nyaman banget kan," tutur Ardi.
__ADS_1
"Iya sih, eh emang aku harus masak ya tiap hari? Padahal aku pengen nyobain kuliner di sini juga Mas,"
"Gak, ga harus, cuma kadang aku juga pengen dibuatin makanan sama istriku, lebih enak dari kuliner manapun buat aku," ucap Ardi dengan tatapan menggoda pada Najma. Najma menjadi bersemu merah pipinya karena gombalan Ardi.
"Sudah ya Babe, ga usah pusingin masalah biaya, urusan aku buat cari duit, pokoknya kamu bisa hidup nyaman bersamaku,"
"Dimanapun Mas ngajak aku tinggal, in syaa Allah aku nurut, aku nyaman walau tinggal di kamar kost sempit,"
"Kalau itu, aku yang ga nyaman Babe, hahaha,"
Najma ikut tertawa, ia paham alasan Ardi rela menyewa tempat kost dengan harga lumayan ini, Ardi juga butuh tempat yang nyaman untuk beristirahat setelah perjalanan dari kota mereka ke kota ini, dan setelah mengajar juga.
"Mas tadi ngajar berapa kelas?" tanya Najma yang penasaran dengan pekerjaan baru suaminya itu.
"Ada dua kelas Babe," jawab Ardi.
"Kok cuma akhir pekan? Bahkan Hari Ahad juga, apa ga libur mahasiswanya?"
"Ini kelas program khusus Babe, jadi perawat yang cuma diploma 3, lanjut strata 1 gitu, dan khusus buat pegawai, atau perawat yang sudah bekerja, jadi rata-rata yang aku ajar itu bapak-bapak dan emak-emak,"
"Ya ga ada Babe, kalau kamu kuliah kan harusnya kelas reguler tingkat satu semester dua kaya Qumil,"
"Oh iya, Qumil ambil Farmasi ya, itu kalau lulus bisa langsung kerja?" tanya Najma.
"Itu mirip sekolah kedokteran Babe, lulus cuma jadi sarjana kedokteran, kalau farmasi sarjana farmasi, terus lanjut ambil profesi apoteker baru deh kalau lulus bisa jadi apoteker, kamu juga pengen kuliah Babe?" tanya Ardi.
Najma hanya menggeleng.
"Kenapa? Jangan khawatir dengan biaya, aku yang biayain kalau kamu mau kuliah," tutur Ardi.
Najma tersenyum.
__ADS_1
"Dulu mungkin iya aku pengen kuliah Mas, ayah ibu sudah tiada, aku pengen ngurus toko sambil kuliah, tapi aku gak pernah sangka bisa dapat jodoh secepat ini, aku sudah mengambil keputusan ketika kamu melamar ku, kalau kita sudah menikah, aku akan menggunakan kesempatan indah yang Allah berikan ini sebaik-baiknya, menjadi hamba Allah yang baik, dan juga menjadi istri yang baik buatmu, meraup sebanyak-banyaknya pahala dari rumah sesuai fitrahku,"
"Iya, ma syaa Allah kamu Babe," ucap Ardi seraya membelai jemari Najma.
Mereka telah selesai makan, dan sekarang minum teh madu buatan Najma, yang membantu memulihkan stamina dan tenaga mereka setelah perjalanan jauh.
"Habis Babe, ma syaa Allah enak banget," ucap Ardi setelah meneguk habis minumannya.
"Bocor Mas gelasnya?"
"Iya paling, hahaha, bisa minta isi ulang lagi Babe? Buat temani Mas bikin materi untuk ngajar besok,"
"Hahaha, iya sayang, apa sih yang gak buat Mas," sahut Najma seraya berdiri dan mengambil mug dari hadapan Ardi, kemudian ia memasak air, sembari mencuci piring bekas mereka makan.
"Ini Mas," ucap Najma ketika menaruh mug berisi air madu hangat di meja belajar sebelah laptop Ardi, Ardi sendiri sudah sibuk membuat power point untuk bahan mengajarnya besok.
"Ah iya Baby, jazaakillaahu khairan," ucap Ardi tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Wa jazaakallaahu khairan, semangat Mas," sahut Najma.
Najma lalu duduk di atas tempat tidur, menyandarkan punggungnya pada sandaran dipan, dan membawa bantal di pangkuannya. Meraih remote tv dan menonton film. Sesekali ia memperhatikan suaminya yang sedang bekerja. Ardi juga sesekali menerima telepon dari rumah sakit, ada perawat atau dokter jaga yang berkonsultasi tentang pasien kepadanya.
Setelah habis satu film, Ardi belum selesai juga membuat materi, Najma kemudian menonton film yang lainnya, namun lama-lama ia merasa bosan. Ia putuskan ke kamar mandi, menggosok gigi dan mencuci muka.
Sesudahnya Najma membuka kimononya hingga tinggal baju tidur warna hitam setali dengan panjang di atas lutut, ia memakai skin care malamnya dan memakai body lotion seperti biasa, ia juga menyemprotkan parfum yang khusus dipakainya ketika bersama Ardi.
Namun... Ardi sama sekali tak terpengaruh, ia tetap khidmat menatap laptop dan mengetik sesuatu di sana.
"Mas belum selesai juga?" tanya Najma yang memberanikan diri memeluk leher Ardi dari belakang.
"Iya nih belum selesai Babe, kamu tidur dulu aja," sahut Ardi.
__ADS_1
"Baiklah Mas, aku tidur dulu ya, Mas juga harus segera istirahat ya," ucap Najma kemudian mencium pipi Ardi dengan lembut dan lama, menghirup aroma maskulin dari facial foam yang dipakai Ardi tadi, aroma kesukaannya, aroma yang selalu membuatnya menggila. Kemudian Najma pergi tidur.
"Maafkan aku Babe, jangan malam ini," lirih Ardi sambil melihat punggung mulus istrinya yang tidur membelakanginya.