
Najma dan Ardi memasuki rumah orang tua Ardi. Seperti yang mereka rencanakan, mereka akan menceritakan masalah Ardi di rumah sakit umum.
"Assalamualaikum," ucap Ardi dan Najma.
"Waalaikumusalam," sahut Hamida dan Rahman di dalam rumah.
Ardi dan Najma bergantian menyalami Hamida dan Rahman. Dan akhirnya Ardi memeluk mamanya.
"Kenapa ini peluk-peluk segala, malu ah ada istri kamu itu," ucap Hamida.
"Kangen aja Ma, biarin sebentar lagi," ucap Ardi. Najma melihat saja, ternyata ada sisi seperti ini dari suaminya, manja.
"Kalian kok tumben main ke sini, ga pake telpon dulu," ucap Rahman.
"Iya Pa, tadi saya temani mas Ardi makan siang, habis itu kita pengen aja ke sini," sahut Najma, karena suaminya masih di pelukan mama mertuanya.
"Papa sama Mama kok tumben sudah di rumah? Biasanya masih di kantor," ucap Ardi seraya melepaskan pelukannya dari Hamida sang mama.
"Kami sudah semakin tua Ar, sekarang jam kerja kami berdua dikurangi satu jam sama Papa kamu," sahut Hamida. Kemudian mereka berempat duduk di ruang tengah.
"Sebenarnya kami juga pengen pensiun Ar, tapi siapa yang mau ngurus konveksi, kamu sibuk jadi dokter, Arya sibuk dengan restoran dia," ucap Rahman.
"Najma yuk, ikut bantuin di kantor, nanti pada saatnya kamu saja yang jadi penerus usaha kami," tutur Hamida. Najma hanya terdiam, ia terkejut akan penuturan ibu mertuanya itu, baginya ia masih baru dalam keluarga itu, bagaimana bisa mereka mempercayakan usaha mereka padanya.
"Saya mana bisa Ma," ucapnya kemudian.
"Makanya belajar, ikut kami ke kantor," sahut Hamida.
"Iya, in syaa Allah kalau dibolehin mas Ardi," ucap Najma.
"Boleh sayangku, aku malah senang ada kamu yang temani mama papa, menggantikan aku," ucap Ardi.
Kemudian Ardi mengelus tangan papanya, seakan ikut merasakan lelah dan jenuh setelah bekerja lebih dari tiga puluh tahun.
__ADS_1
"Konveksi itu sudah lama kah Pa berdirinya?" tanya Najma.
"Iya, satu bulan setelah Arya lahir, dulu Papa kerja di konveksi juga, tapi gulung tikar karena anaknya pemiliknya habiskan uang pabrik, terus papa kehilangan pekerjaan, terus mau gadaikan sertifikat rumah kakeknya Ardi buat modal usaha, tapi qodarullah dulu itu ngurus sertifikat lama banget, mungkin itu juga cara Allah menghindarkan kami dari riba gadai sertifikat, sebelum sertifikat rumah jadi, Allah beri pertolongan, papa ditelpon teman lama di ibukota, dia pengusaha kain, dia pinjamkan modal, dan bahan kain tanpa jaminan apapun dan tanpa bunga, dan sampai sekarang beliau itu jadi supliyer utama konveksi kami, dan Alhamdulillah bisa sekolahkan dua anak ini, bahkan salah satunya jadi dokter spesialis, padahal dulu gak pernah bayangkan bisa punya rumah sendiri," tutur Hamida sambil mengenang perjuangan mereka.
"Memangnya dulu ga tinggal di sini Ma?" tanya Najma.
"Dulu pindah-pindah Ama, karena ngontrak ya, tapi Alhamdulillah begitu Ardi lulus SMP di pesantren, rumah ini terbeli," sahut Hamida.
"Oh begitu.." Najma mengangguk-anguk.
"Kalian istirahat dulu, pasti capek kan, sana naik ke kamar, dibersihin kok tiap hari sama bu Marni," ucap Rahman yang melihat wajah lelah anaknya.
Najma dan Ardi pun menuju ke kamar mereka di lantai atas.
"Mas mau mandi dulu? Biar aku siapin airnya,"
"Iya Babe," sahut Ardi terlihat tak bersemangat.
Najma masuk ke kamar mandi dan mengisi bathub dengan air hangat dan kemudian menyiapkan baju ganti untuk Ardi.
"Mandi Mas, airnya sudah siap," ucap Najma.
"Iya Babe," sahut Ardi yang kemudian memutar tubuhnya dan ganti memeluk Najma sejenak lalu mereka masuk kamar bersama.
Ardi segera mandi dengan air yang telah disiapkan Najma, berendam air hangat membuatnya lebih rilex baik badan maupun pikirannya.
Ardi keluar kamar mandi dan terkejut karena Najma juga sudah mandi. Ia terlihat mengeringkan rambut basahnya di depan meja rias.
"Lho kamu udah mandi Babe?" tanya Ardi.
"Iya Mas, tadi aku kebelet pup jadi sekalian aja mandi di kamar sebelah," sahut Najma.
Ardi memakai pakaian yang telah Najma siapkan, kemudian ia mengambil alih pengering rambut dari tangan Najma, dan mulai mengeringkan rambut Najma. Najma tersenyum dibuatnya.
__ADS_1
'Bisa aja mas dokter ini memanjakan istrinya,' batin Najma.
"Apa senyum-senyum," celetuk Ardi yang melihat bayangan Najma dalam cermin sedang tersenyum.
"Alhamdulillah," ucap Najma.
"Alhamdulillah, kenapa?"
"Alhamdulillah dikasih Allah suami ganteng dan baik hati, ma syaa Allah," sahut Najma yang membuat Ardi ikut tersenyum, walaupun sebenarnya dia dilanda kegundahan atas masalah yang menimpanya.
Setelah itu sambil menunggu Maghrib tiba, mereka duduk bersantai di sofa.
"Sini Mas aku pijitin," ucap Najma memberi isyarat pada Ardi agar meletakkan kepalanya pada pangkuan Najma. Ardi menurut, dan Najma mulai memijat lembut pelipis dan pangkal hidung Ardi. Kenyamanan itu membuat Ardi perlahan terlelap. Najma memandangi wajah suaminya, dan mengingat apa yang sedang menimpa mereka, Najma menutup mulutnya menahan tangis, fitnah itu sungguh sangat kejam.
.
.
.
Selepas Isya, setelah makan malam, mereka semua, Rahman, Hamida, Ardi, dan Najma berkumpul di ruang tengah.
Ardi berbicara kepada kedua orang tuanya tentang masalah yang sedang dialaminya di rumah sakit. Hamida dan Rahman nampak syok mendengar penuturan putra bungsu mereka. Kenapa ada yang sampai setega itu kepada anaknya yang dibilang ma syaa Allah sangat baik itu.
"Aku mohon doa mama papa, besok aku diperiksa jajaran manajemen dan komite medik," ucap Ardi.
"Iya Ar, kami akan selalu mendoakan kalian, tapi masih heran saja, kenapa wanita itu bisa berani menuduh kamu menghamilinya, punya bukti apa dia," kata Rahman.
"Katanya dia ada hasil tes DNA antara janin yang dikandungnya dan aku cocok, aku juga bingung, dapat darimana dia, karena aku gak pernah merasa melakukan tes," sahut Ardi.
"Sudahlah sabar aja Ar, ini ujian dari Allah, Allah pasti memberikan jalan, dan kebenaran pasti terungkap," tutur Hamida.
.
__ADS_1
.
Di akhir sepertiga malam, Ardi terjaga, ia mengambil wudhu dan menggelar sajadah, melakukan sholat malam. Agar dia tetap tenang dan tidak terlalu over thinking dengan masalah ini. Dan berdoa semoga masalah ini segera selesai dengan baik sebagaimana mestinya. Seperti sabda Rasulullah shalallahu alayhi wasalam, jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu.