
"Tante Samira... Om Indra..." ucap Najma ketika melihat om dan tantenya di ruang tengah.
Najma segera mencium tangan dan memeluk Samira, kemudian menangkup kedua tangannya kepada Indra karena mereka bukan mahram.
"Tante... gimana sekarang keadaannya?" tanya Najma.
"Alhamdulillah, sudah bisa jalan, walaupun pelan," sahut Samira.
"Maaf, Najma jarang nengok Tante dan Om, kok malah Tante dan Om yang ke sini, aduh Najma malu,"
"Ndak pa pa Ama, kalian juga pasti sibuk, ini tadi saja kita ga sengaja ketemu nak Ardi di rumah sakit," Indra kemudian menceritakan bagaimana kejadian di rumah sakit tadi sampai mereka bisa ke rumah itu.
"Nah... ini eyang putri dan eyang Kakung," ucap Ardi yang datang dengan Akbar di gendongannya.
Samira tersenyum bahagia melihat Akbar yang sudah tumbuh besar, dan Indra segera meraih Akbar dari gendongannya untuk diajaknya bermain. Rasa syukur dan suka cita menyelimuti mereka, bisa bertemu kembali dalam keadaan yang jauh lebih baik.
.
.
.
Malam harinya selepas isya, Ardi pamit kepada Najma untuk memimpin operasi di rumah sakit Airlangga.
"Baby aku pergi dulu ya, kalau ngantuk langsung tidur, ga usah nunggu aku pulang," pamit Ardi ketika Najma mencium punggung tangannya, dan Ardi membalas dengan kecupan di pipi Najma.
"Assalamualaikum," ucap Ardi.
"Waalaikumussalam," sahut Najma.
__ADS_1
Sepuluh menit berselang ada yang datang.
"Ting...tong...."
Bu Tami segera melihat siapa yang datang dari monitor dalam rumah.
"Siapa ya?" tanya Bu Tami, suara Bu Tami terdengar dari monitor depan.
"Qumil Bu, Najma ada?" tanya Qumil.
"Siapa Bu Tami?" tanya Najma yang baru saja menidurkan Akbar di kamarnya.
"Namanya Qumil katanya Mba," jawab Bu Tami.
"Iya, bukain aja, itu teman saya," pinta Najma.
"Assalamualaikum," ucap Qumil yang datang bersama Yudha.
"Waalaikumussalam... Qumil...." ucap Najma yang segera memeluk Qumil ketika melihat sahabatnya itu.
"Lama banget ga ketemu, kamu lagi libur ini?" tanya Najma, dan mereka bertiga ngobrol ke sana kemari.
"Ardi ada operasi malam?" tanya Yudha.
"Iya, di rumah sakit kak Yudha," sahut Najma.
"Enak habis ini Ardi temannya, ada dokter spesialis bedah syaraf baru yang temenin dia," ucap Yudha.
"Hah iya kah?" tanya Najma.
__ADS_1
"Ardi ga cerita?" tanya Yudha.
"Ga sempat tadi kali, oh iya tadi pagi emang dipanggil sama pak direktur, mungkin bahas mengenai itu," sahut Najma.
"Mas kenal sama dokter baru itu?" tanya Qumil.
"Kenal lah, dia teman aku di kedokteran, juniornya Ardi, lalu dia ambil bedah syaraf kaya Ardi, Sabrina namanya," tutur Yudha.
"Eh bentar aku angkat telepon dulu," ucap Yudha kemudian menjauh dari Qumil dan Najma.
Najma masih terkejut dengan apa yang dikatakan suami Qumil itu, perasaannya kembali tak enak, sesak di dada, rasa cemburunya muncul lagi, takut juga bila Sabrina bisa membuat Ardi jatuh hati.
"Kamu kenapa Ama? Kok bengong??" tanya Qumil yang merasa Najma jadi diam tiba-tiba.
Najma sebenarnya ingin menceritakan semua yang ada di dalam pikirannya pada Qumil, namun keadaan telah berbeda, ia takut pembicaraan tentang suaminya bisa menjadi celah untuk membuka aib dan menunjukkan kejelekan suaminya, karena suami ibarat pakaian, jika membuka kejelekan suami, berarti ia juga menelanjangi diri sendiri.
"Nggak papa, lagi angen-angen aja, semoga operasi malam ini lancar dan mudah, dan mas Ardi segera pulang, aku dah kangen," sahut Najma.
"Dasar bucin, pasti mau begituan ya," goda Qumil.
"Iyalah, kan cari pahala Mil," ujar Najma menanggapi Qumil.
"Emang lu hamil gini ga bahaya begituan terus,"
"Ya pelan-pelan Qumil, sebenarnya kamu kan yang jarang ketemu suami, ngapain di sini sekarang... ajak pulang tuh suaminya," goda Najma gantian.
"Hahahaha...." mereka tertawa bersama.
Mulut Najma tertawa, namun hatinya sedang menangis....
__ADS_1