Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Sidang Komite Medik


__ADS_3

Najma sedari tadi mondar-mandir di kamar, menunggu kabar dari Ardi. Pagi tadi Ardi meminta Najma tetap di rumah, padahal ia ingin sekali menemani suaminya pada pemeriksaan kasus itu. Namun Ardi tidak mau Najma ikut terlibat dalam masalah ini, ia sepenuhnya ingin menyelesaikan sendiri dengan caranya.


Berkali-kali ia melihat ponselnya, menunggu Ardi mengabarkan. Namun tak kunjung berkabar juga. Najma hendak menelpon, namun takut mengganggu jalannya pemeriksaan. Akhirnya ia membuka al quran dari ponselnya dan membacanya, agar perhatiannya sedikit teralihkan.


Pukul empat sore, mobil Ardi memasuki garasi rumah orang tuanya, Najma dan Ardi masih menginap di rumah itu. Najma memahami bahwa suaminya ingin dekat dengan orang tuanya sementara waktu, dan diapun tidak keberatan akan hal itu.


"Assalamualaikum," ucap Ardi ketika memasuki rumah.


"Waalaikumusalam Mas," sahut bu Marni yang sedang beberes di dapur.


"Najma mana Bu?" tanya Ardi sambil mencuci tangannya pada wastafel dekat pintu dapur.


"Masih di atas Mas," sahut Bu Marni.


"Oke, saya ke atas dulu ya Bu," ucap Ardi kemudian naik ke kamarnya di lantai atas.


"Babe," ucap Ardi ketika membuka pintu kamar, namun tidak ada sahutan dari istri kecilnya itu. Rupanya Najma ketiduran di sofa. Ardi menggendong Najma ala bridal style, memindahkan Najma ke atas tempat tidur.


Ketika Ardi meletakkan tubuh Najma di atas kasur, Najma terbangun dan memeluk Ardi.


"Mas," ucapnya sambil terpejam lagi karena masih mengantuk.


"Hmm, apa Babe? Mau aku ceritain gimana tadi?"


"Hmm, jangan bilang apa-apa dulu, gini aja dulu, aku kangen banget sama kamu Mas, kita uda pisah sembilan jam," ucap Najma yang tak mau melepaskan pelukannya dari Ardi.


"Iya, baiklah, kamu kok jadi bucin sih Babe,"


"Biarin, bucin sama suami sendiri ini," ucap Najma lalu membuka matanya dan mendongakkan wajahnya memandang sang suami. Mereka saling memandang.

__ADS_1


"I love you Babe," ucap Ardi. Senyum Najma makin lebar mendengarnya.


"I love u too Mas dokter, kok masih pake baju bedah?" tanya Najma yang melihat Ardi memakai setelan baju bedah berwarna hijau toska.


"Iya, tadi habis pemotretan untuk iklan Rumah Sakit, udah selesai aku langsung pulang deh," sahut Ardi.


"Terus gimana tadi ceritanya?" tanya Najma. Kemudian Ardi mulai bercerita.


.


Flash back on...


Pukul sepuluh pagi, setelah melakukan visit pasien, Ardi pergi ke ruang komite medik dimana ia diminta datang untuk diperiksa.


Di sana sudah ada Rhea yang duduk di salah satu kursi. Ardi menghentikan langkahnya, ia membuka pintu dengan lebar dan tetap berdiri tidak jauh dari pintu, karena di situ hanya ada mereka berdua. Ardi tidak ingin terjadi fitnah lagi.


"Hanya dengan cara ini dokter bisa jadi milik saya," ucap Rhea. Ardi masih tak habis pikir tentang apa yang terjadi. Namun ia diam saja mendengar jawaban Rhea tadi, karena dewan direksi sudah datang di ruangan itu.


Ardi duduk di balik meja berhadapan dengan Rhea.


Dokter Bima selaku ketua komite medik membuka pertemuan itu. Sedangkan wakil direktur pelayanan dan kepala kepegawaian dengan stafnya hanya ikut menyaksikan jalannya pemeriksaan.


"Jadi kita di sini untuk membahas, laporan perawat Rhea yang mengaku telah hamil di luar nikah oleh dokter Ardi, ini saya tanya dulu pada perawat Rhea, apa anda yakin bahwa janin yang dikandung adalah anak dari dokter Ardi?"


"Iya," sahut Rhea.


"Sedangkan dokter Ardi, apakah anda mengakuinya, kalau janin itu anak anda?" tanya dokter Bima.


"Tentu saja tidak, saya tidak merasa pernah melakukan hal itu dengan perawat Rhea," sahut Ardi mencoba tenang.

__ADS_1


"Baik, perawat Rhea kenapa anda begitu yakin bahwa dokter Ardi adalah ayah dari janin anda? Anda punya bukti?" tanya dokter Bima.


"Iya, ini hasil tes DNA janin saya dan dokter Ardi, dan ini rekaman cctv pintu utama rumah sakit, dimana malam itu dokter Ardi mengajak saya masuk ke dalam mobilnya, dan ada video lain juga," ucap Rhea sambil menyerahkan flashdisk kepada staf untuk di perlihatkan di monitor. Di video itu memang terlihat mobil Ardi berhenti dan Rhea masuk ke dalam mobil itu.


Ardi mengingat-ingat kejadian itu, sebenarnya ia hampir lupa bahwa Rhea pernah memintanya mengantar pulang ke kos dia, dengan alasan dia tidak enak badan.


"Ah rupanya ini yang dijadikan senjata Rhea," gumam Ardi, namun dia masih diam saja ikut mendengarkan apa kata Rhea.


Kemudian video itu dilihat oleh para jajaran manajemen, dan diperlihatkan juga pada Ardi.


Ada dua video, yang pertama ketika Rhea masuk ke dalam mobil Ardi. Dan yang kedua ketika mereka berbincang di depan ruangan Ardi. Rhea bilang video pertama dimana dia dan Ardi hendak ke tempat kost Rhea waktu Ardi memaksanya melakukannya, dan video yang kedua itu ketika Rhea meminta pertanggungjawaban Ardi bahwa dirinya hamil, Ardi menolak hingga dia berlari sambil menangis. Itu video dari cctv sekitar ruangan istirahat Ardi, yang tidak ada suaranya.


Ardi hanya tersenyum melihat video itu dan mendengar cerita Rhea, ia sangat pandai mengarang cerita, bisa jadi author novel nih, batin Ardi. Ardi sama sekali tidak membantah omongan Rhea, ia yakin tim manajemen dan komite medik pasti akan memberikan kesempatan padanya untuk berbicara nanti, ia tidak ingin ribut saling menyangkal dan menuduh.


"Baiklah, Dokter Ardi, dari tadi diam saja, mungkin ada yang ingin disampaikan, silakan," ucap dokter Bima.


"Iya, terima kasih Dokter Bima atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menjelaskan versi saya," ucap Ardi.


"Yang pertama mengenai surat hasil DNA itu, saya ingin pemeriksaan yang benar dan jujur serta netral, sebab selama ini saya tidak merasa pernah melakukan tes DNA apapun, saya ingin diperiksa dengan benar," lanjut Ardi.


"Iya, karena anda menolak, maka saya ambil diam-diam sampel dari sikat gigi dokter di ruang istirahat, dan menukar dengan sikat gigi baru agar tidak ketahuan," Rhea berdalih.


"Maka dari itu, jika itu menurut anda memang benar sampel saya, maka anda tidak usah khawatir, hasilnya akan sama jika diulang lagi, dan saya minta pihak rumah sakit yang memfasilitasi kami," sahut Ardi.


"Tapi itu terlalu berbahaya untuk janin ini, apa perlu sampai dua kali diperiksa seperti itu," Rhea mencari alasan.


"Baiklah mengenai tes DNA, nanti kita bisa konsultasi dengan dokter kandungan, kemungkinan bisa atau tidak, dan seberapa bahaya bagi janinnya," ucap dokter Bima menengahi.


....bersambung....

__ADS_1


__ADS_2