Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Masa Kritis


__ADS_3

"Babe, tunggu di sini ya, aku masuk dulu, bismillah dzikir aja biar tenang, nanti aku susul lagi buat masuk bareng," ucap Ardi.


"Iya Mas," ucap Najma hanya menurut saja dengan perintah suaminya.


Ardi dan Yudha masuk ke dalam ruang bayi itu. Rupanya dokter Aldo sedang berjuang menyelamatkan baby Icha.


"Gimana Dok?" tanya Ardi.


"Denyut nadinya melemah, ini saya sudah usahakan dengan obat, kita observasi lagi, Dokter Ardi...." ucap dokter Aldo.


"Iya Dok," sahut Ardi dengan raut muka sedih.


"Bersiaplah untuk kemungkinan terburuk, memang tidak mudah merawat bayi prematur," ucap dokter Aldo.


Ardi menghela nafas, ia melihat Najma yang berada di ruang tunggu, entah bagaimana cara menjelaskannya.


"Kamu bingung cara menjelaskan pada Najma?" Tanya Yudha. Ardi mengangguk.


"Pertama kamu harus kuat dulu, aku tahu kamu sedih dengan keadaan bayimu, tapi kalau kamu tidak kuat, bagaimana kamu menjaga Najma, bagaimana kamu menopang pundaknya, dan tetap berusaha berpikir positif, gantungkan semua pada Allah, lemparkan doa ke langit sebanyak-banyaknya, " ucap Yudha.


"Baik Yud," ucap Ardi, kemudian bangkit dan menghampiri Najma yang sedari tadi menunggu.


"Gimana Mas? Aku sudah boleh masuk?" tanya Najma pada suaminya.


"Boleh, tapi kamu dengar dulu aku bicara, kamu pasti paham kan semua yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Allah yang sudah tertulis di lauhil mahfudz," tutur Ardi, dan Najma mendengar dengan seksama.


"Baby Icha keadaannya tidak terlalu baik sekarang," lanjut Ardi seraya menggenggam tangan Najma.


"Iya Mas, tapi aku masih bisa terus meminta pada Allah agar Dia menyelamatkan putri kita kan?" ucap Najma berusaha tegar, walaupun hatinya hancur mendengar keadaan putri kecilnya yang sedang kritis.


"Iya, babe, tentu saja," sahut Ardi.


"Bolehkah aku masuk dan melihatnya?" Tanya Najma.


"Iya, kita masuk ya," ucap Ardi kemudian mendorong kursi roda Najma.

__ADS_1


"Ini ibunya?" tanya dokter Aldo setelah Ardi dan Najma ada di dalam.


"Iya Dok, ini istri saya," sahut Ardi.


"Bayinya pagi ini denyut jantungnya melemah Bu, sudah kami usahakan dengan obat lewat infus, kita tunggu saja, ibu bantu dengan doa ya," ucap Dokter Aldo.


Najma hanya mengangguk. Dia melihat bayi yang sangat kecil di dalam inkubator, tanpa baju, hanya memakai diaper, dengan elektroda di dadanya, juga di kakinya terpasang alat yang tersambung pada monitor tanda-tanda vital.


"Boleh saya pegang Dok?" tanya Najma.


"Boleh, silahkan cuci tangan dulu dengan hand sanitizer," sahut dokter Aldo. Najma kemudian membersihkan tangannya sesuai instruksi dokter Aldo tadi.


Najma kemudian memasukkan tangannya ke dalam lubang tangan di inkubator bayi itu, lalu tangannya menyentuh bayi mungil itu, kakinya sangat kecil, begitu pula tangannya. Najma membelai pipinya yang tirus.


"Baby Icha, ini Umma sayang, baby Icha cepat sehat ya nak, biar kita bisa pulang sama-sama," ucap Najma yang menitikkan air mata.


Dan yang terjadi adalah, monitor tanda-tanda vital yang semula lampu alarm kegawatan menyala merah tiba-tiba padam ketika Najma menyentuh baby Icha, perlahan denyut nadinya kembali normal.


"Ma syaa Allah, normal lagi denyut nadinya," ucap dokter Aldo.


"Iya Dok, tapi saya masih takut sebenarnya," sahut Najma.


"Biar aku bantu Babe," ucap Ardi. Kemudian Ardi membersihkan tangannya dengan hand sanitizer, dan membuka tutup inkubator, kemudian mengambil baby Icha dari dalam inkubator dan menaruhnya dalam gendongan Najma, dengan selang alat bantu nafas yang masih terpasang di hidung sang bayi, juga elektroda yang menempel di dada bayi, Najma mendekap buah hatinya untuk pertama kalinya agar tidak kedinginan.


"Kecil sekali, berapa beratnya Dok?" tanya Najma.


"Dua kilo pas," sahut dokter Aldo.


"Subhanallah," ucap Najma.


"Saturasi oksigennya bagus, kita coba lepas sebentar ya alat bantu nafasnya," ucap dokter Aldo, Ardi dan Yudha mengiyakan.


Dokter Aldo tidak langsung melepas begitu saja, namun menurunkan persentase oksigen yang masuk ke baby Icha, dan diobservasi. Beberapa menit kemudian tidak ada tanda-tanda penurunan saturasi oksigen lagi, kemudian dokter Aldo melepas alat bantu nafasnya. Dan baby Icha malah menangis, walau tidak sekeras bayi yang sehat. Najma terlihat bingung.


"Mas gimana nih Mas, Icha nangis," panik Najma.

__ADS_1


"Itu tandanya baby Icha semakin bagus perkembangannya, menangis itu melatih kerja jantung juga," tutur dokter Aldo.


"Ah, seperti itu, Alhamdulillah," ucap Najma.


"Sekarang PR nya tinggal dokter Yudha ini, baby Icha belum bisa menghisap dan menelan dengan benar," ucap dokter Aldo.


"Iya Dok," sahut Yudha.


"Kita observasi lagi, jika dilepaskan ibunya bayi bisa tetap stabil, dan bisa menelan susu dengan baik, maka boleh pulang besok," ucap dokter Aldo.


"Baik Dok," ucap Ardi.


"Kalau begitu saya pamit dulu, saya catat dulu rekam medisnya, nanti bila ada apa-apa perawat akan langsung menghubungi saya," ucap dokter Aldo. Setelah dokter Aldo pergi, Najma dibantu Ardi meletakkan baby Icha pada box bayi reguler, dan Yudha mulai memberikan terapi.


Ardi membelai pundak Najma yang masih duduk di kursi roda, mereka berdua tersenyum bahagia, tak pernah menyangka Allah akan berikan keajaiban pada putri mereka yang baru saja menjalani masa kritis.


"Udah Ar, coba dikasih dot nya," ucap Yudha setelah memberikan terapi pada baby Icha. Perawat memberikan botol susu berisi asi Najma, baby Icha meminumnya dengan lahap, tidak ada susu yang tumpah dari mulut kecilnya.


"Oh, ternyata kamu pengen ditungguin Umma sama baba kamu ya, hmm Icha," ucap Yudha yang juga merasa gemas dengan baby Icha.


Lagi-lagi Najma dan Ardi tersenyum dibuatnya.


"Alhamdulillah....Ma syaa Allah..." ucap Najma.


"Oke, udah bisa nafas sendiri, udah bisa minum, rawat gabung aja kali ya, itu lebih baik buat ibu dan bayinya," ucap dokter Yudha.


"Alhamdulillah," ucap Ardi dan Najma.


"Kami siapkan dulu Dok nanti adik bayi akan kami antar ke kamar rawat ibunya," ucap Mba perawat yang sedari tadi membantu dokter Aldo dan dokter Yudha merawat baby Icha.


"Iya Mba, makasih ya," ucap Ardi.


"Sama-sama Dokter," ucap perawat yang merawat baby Icha itu.


Ardi dan Najma kembali ke ruang rawat inap Najma. Ternyata mama Hamida telah menunggu mereka bersama Akbar dan Bu Tami.

__ADS_1


Najma pun segera memeluk mama mertuanya itu. Lalu Najma dan Ardi menceritakan semua kejadian baby Icha tadi di ruang bayi. Hamida menitikkan air mata ketika mendengar cerita dari putra dan menantunya, namun juga bersyukur cucunya kini sudah melewati masa kritisnya.


__ADS_2