Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Kejutan untuk Ardi


__ADS_3

"Assalamualaikum Mas," ucap Najma.


"Waalaikumussalam," sahut pria dalam panggilan itu.


Najma terkejut melihat orang itu, dan segera menutup mulut dan hidung menutupi wajahnya karena ia tidak memakai cadar.


"Kamu siapa?" tanya Najma, dengan segera ia menyerahkan ponselnya kepada papa mertuanya.


"Dokter Gading?" Rahman bertanya karena sedikit lupa dengan wajah teman anaknya itu.


"Iya Om, ini saya Gading, maaf tadi saya panik, mau nyalakan loud speaker malah minta panggilan video, maaf sekali lagi Om," jaeab Gading.


"Iya, tapi kenapa ponsel kamu nelpon pakai nomor Ardi?" tanya Rahman.


"Itu tadi diperjalanan dari beli ponsel dan pembuatan SIM card baru, Ardi pingsan di jalan, lalu saya takut karena tidak tahu riwayat kesehatan Ardi, makanya saya bawa ke rumah sakit," tutur Gading.


"Innalillahi... mas Ardi kenapa?" tanya Najma dengan sedih.


"Dia sudah siuman, ini masih diinfus dan tertidur, nanti setelah infus habis bisa kembali ke hotel," ucap Gading.


"Terus kata dokter dia kenapa?" tanya Hamida ikut bicara.


"Kemungkinan kelelahan Tante, tapi ini terlihat semakin membaik, sepertinya Ardi kepikiran terus sama keluarganya di rumah," sahut Gading.


"Keluarga bapak Ardi Abdurahman Sholih ...." terdengar seorang perawat memanggil.


"Saya dipanggil perawat Om, Tante, saya tutup dulu ya," ucap Gading.


"Iya Dokter Gading, terimakasih banyak, titip Ardi dulu ya," ucap Hamida.


"Baik Tante, assalamualaikum," pungkas Gading sebelum memutus panggilan itu.


"Waalaikumussalam,"


Najma kembali sesenggukan... Rahman dan Hamida saling berpandangan. Mereka tahu bagaimana Najma dan Ardi saling mencintai dan mungkin tidak bisa hidup terpisah satu sama lain.


Hamida memeluk Najma. Menepuk lembut pundak menantu perempuannya itu.


"Ma, aku harus gimana Ma? Mas Ardi kenapa lagi?" Najma semakin pecah tangisannya.


"Sabar sayang, yakin aja Ardi baik-baik saja, kita titipkan dia pada Sebaik-baik Penjaga yaitu Allah," ucap Hamida berusaha menguatkan Najma.


"Najma kenapa Ma?" tanya Sarah yang baru datang melewati pintu belakang.


"Tadi Gading telpon, Ardi pingsan, sekarang di rumah sakit, nanti kalau infusnya udah habis bisa kembali ke hotel," jawab Hamida.


"Ama, jangan gitu dong, Ardi sudah ditangani dokter di sana, juga ada Gading yang menjaganya, kalau kamu emosional kaya gini, kasihan janin kamu, yuk kita ke kamar tamu, aku periksa.

__ADS_1


Najma kemudian ke kamar tamu mengikuti Sarah. Kemudian Sarah melakukan pemeriksaan pada Najma.


"Mba Sarah, gimana janin aku?" tanya Najma.


"Sejauh ini baik, kamu dan janin kamu sehat, tapi jangan terlalu sedih, itu bisa berpengaruh buat perkembangan janin kamu, be happy, demi Ardi juga, kalau Ardi tahu kamu nangis terus di sini, dia pasti akan merasa bersalah, dan tidak bisa belajar dengan baik, kamu lebih tenang ya, berdzikir agar hati tetap tenang, kamu harusnya lebih tahu kan," tutur Sarah.


"Iya Mba, tadi katanya janin aku baik kan? Jadi apa boleh aku bepergian?" tanya Najma.


Sarah membuang napas dengan berat, ia menatap dalam mata Najma, memikirkan sesuatu.


.


.


.


Ardi telah selesai diinfus dan kembali ke hotel ia pun sudah merasa jauh lebih baik, kemudian mengikuti workshop dan mengejar ketinggalannya. Namun dia gelisah sedari tadi tidak bisa menghubungi Najma. Kemudian ia mengirim pesan pada mamanya.


'Ma lagi sama Najma?'


'Nggak Ar, kenapa?'


'Dari tadi aku telpon ga bisa, aku kirim pesan nomornya ga aktif,'


'Iya nanti mama cek ke rumah,'


Ketika istirahat dan bersiap sholat Maghrib, Gading menghampiri Ardi.


"Bro kayanya ponsel aku yang satunya ketinggalan di kamar kamu deh pas ngantar kamu tadi, itu penting banget, boleh pinjam cardlock kamu? Aku mau nyari di sana, nanti Disha ngambek kalau aku ga jawab pesan atau telponnya," kata Gading.


"Kamu tuh ceroboh banget, nih," ucap Ardi seraya memberikan cardlock kamarnya pada Gading.


"Jangan pacaran aja bro, nikah dong, udah ga muda lagi kamu, pacaran mulu bikin dosa, sok halalin bro," ucap Ardi memang sengaja menasehati temannya itu.


"Iya iya, bawel," ucap Gading kemudian pergi bersama cardlock kamar Ardi di tangannya.


Selesai sholat di Mushola hotel, ia kembali ke ruang pertemuan dan duduk di tempatnya semula. Ia membaca surat Abasa dengan pelan namun masih bisa terdengar.


"Abasa wa ta Walla, an jaa ahul a'ma...." beberapa yang ada di situ sudah kenal Ardi dan tahu bahwa dia juga seorang penghafal Al-Qur'an. Begitu lembut mendinginkan hati yang mendengar. Bagi yang tidak kenal, mereka terkagum-kagum mendengar lantunan Al Qur'an dari mulut Ardi, dan melihat Ardi membaca seperti sudah di luar kepala. Dan selesai begitu pemateri masuk ke ruangan kembali.


"Nih Bro," ucap Gading yang memberikan kembali cardlock milik Ardi.


"Ketemu?" tanya Ardi.


"Iya," sahut Gading.


Mereka kemudian kembali mendengarkan materi singkat dan selesai saat Isya.

__ADS_1


"Langsung balik kamar Bro?" tanya Gading.


"Sholat dulu, lalu keluar nyari makan," sahut Ardi.


"Kamu tadi pagi pingsan, jangan capek-capek, habis sholat langsung ke kamar aja, pesan antar hotel aja," Gading memberi saran.


"Iya," sahut Ardi, mungkin temannya itu merasa khawatir dengan keadaannya, tapi sebenarnya Ardi sudah merasa sehat kembali.


Ardi sholat sekalian di musholla berjamaah bersama Gading teman-teman sejawatnya. Selepas sholat ia kembali ke kamar berjalan beriringan dengan Gading.


Sampai di depan kamar, Ardi hendak membuka pintu.


"Mau masuk dulu Bro?" tanya Ardi.


"Aku juga capek, mau langsung ke kamar aja," ucap Gading.


"Eh, makasih bro buat semuanya, jazaakallaahu khayran, semoga Allah membalas mu dengan kebaikan," ucap Ardi.


"Waiyyak, sama-sama, makan dulu sebelum begadang," Ucap Gading sambil berlalu pergi menuju kamarnya.


Ardi membuka pintu kamarnya.


Ia heran melihat ada sepatu wanita di balik pintu, apa dia salah kamar? Ia keluar memeriksa nomor pintu kamarnya... benar kok, kamar dia sebelumnya... Kemudian kembali masuk dan melihat ada hand bag vintage di atas meja.


"Ini..." Ardi teringat hand bag vintage brand ternama yang ia belikan untuk Najma sebagai seserahan. Dan melihat di atas tempat tidurnya ada orang berkerudung tidur berselimut membelakanginya. Ardi menyalakan lampu, namun masih belum terlihat itu siapa.


Diam-diam ia mendekati wanita itu, memeringkan kepalanya menengok.


"Babe..." ucap Ardi.


Najma mengeriyipkan mata karena silau.


"Mas uda datang?" ucapnya sambil bangun, dan terduduk.


"Ini beneran kamu?" Ardi masih belum percaya.


"Hmm it's me," Najma berdiri dan memeluk Ardi.


Ardi masih tidak percaya dan masih terdiam, kemudian tangannya perlahan membalas pelukan Najma.


"Kenapa kamu bepergian tanpa mahram?" tanya Ardi dengan datar.


Najma melepaskan pelukannya, dia sadar Ardi marah.


"A..aku..." Najma menjawab dengan terbata.


"Kamu juga keluar rumah tanpa izinku,"

__ADS_1


__ADS_2