Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Qumil dan Yudha


__ADS_3

Hari Jumat tiba, seperti biasa Ardi ke luar kota untuk mengajar, membawa Najma, naik mobil range roper Ardi, dengan Pak sopir di depan, Ardi dan Yudha di kursi tengah, dan yang di bangku paling belakang ada Najma dan Qumil. Wait.. wait mengapa ada Yudha dan Qumil di situ?


Jadi hari ini, mercy Yudha sedang jadwal servis, jadi nebeng Ardi untuk berangkat ke kampus. Kalau Qumil? Karena hari Rabu-Kamis dia tidak ada kuliah maka dia putuskan untuk pulang dan kembali Jumat siang bareng mereka, karena Sabtu pagi ada acara kampus. Dan Pak Sopir, kenapa mereka pakai sopir? Iya, Yudha dan Ardi sama-sama lelah, Yudha banyak janji temu pasien fisioterapi, dan Ardi telah melakukan operasi sejak pagi, namun tak sampai hati juga jika Najma atau Qumil harus menyetir ke luar kota. Maka dari itu Ardi meminta Pak Ilyas sopir keluarganya untuk mengantarkan mereka keluar kota. Kembali ke dalam mobil...


"Mas ini makan siangnya, sama dokter Yudha juga, tadi aku pesan nasi bento dari restoran mas Arya," ucap Najma sambil menyerahkan dua box nasi dari belakang, Ardi menerimanya.


"Kamu dan Qumil udah makan?" tanya Ardi.


"Sudah Mas," sahut Najma.


"Qumil ga ada suaranya, tidur kah?" tanya Yudha.


"Gak kok, saya gak tidur Dok," sahut Qumil.


"Kalian ini jangan panggil dok gitu dong, pengen dipanggil Mas juga kaya Ardi, biar ga kaku banget gitu," pinta Yudha.


"Hahaha iya iya, Mas," ucap Qumil.


Akhirnya mereka tiba juga di kampus, Ardi dan Yudha turun di sana, Ardi akan mengajar, dan Yudha ada kuliah. Sedangkan Najma dan Qumil turun di tempat kost Najma.


"Alhamdulillah nyampe juga," ucap Najma sesampainya di dalam kamar, sore itu Ardi meminta Qumil menemani Najma terlebih dulu.


"Hmm bantuin bersih-bersih ya Mil," pinta Najma, Qumil mengangguk mengiyakan.


Najma mulai dengan mengganti sprei dengan yang baru, Qumil membersihkan lantai dengan vacum cleaner. Kemudian Najma membersihkan kamar mandi, dan Qumil membuat sesuatu di dapur karena mereka mulai lapar. Setelah selesai mereka berdua makan mie instan dan secangkir teh madu.


"Aaah lega, alhamdulillah," ucap Qumil yang merebahkan tubuhnya di karpet dekat tempat tidur.


"Di kasur sana Mil kalau mau rebahan," ucap Najma.


"Ga boleh say, sayang habis ditata, lagian mama bilang ga boleh tiduran di ranjang teman atau saudara yang sudah nikah, nanti suaminya bisa tersinggung, itu kan tempat istirahat suamimu, orang yang kamu muliakan,"


"Hahaha bisa aja Mil, tapi bener juga ya, gak enak juga," Najma ikut berbaring di sebelah sahabatnya itu.


"Ama, kamu tiap malam begituan?"


"Begituan apaan Mil?" Najma belum paham.


"Itu, tuh masa perlu aku perjelas,"


"Iya apaan, tiap malam banyak yang aku lakuin," Najma belum juga ngeh.


"Hubungan suami istri," gumam Qumil.

__ADS_1


"Hahahaha, oalah, kenapa? Kepo banget sih,"


"Ya pengen tau aja, karena dari itu, orang bisa saling mencintai, ada juga yang karena itu berselingkuh bahkan bercerai,"


"Hmm kalau kamu tahu rasanya pasti menyesal Mil,"


"Menyesal gimana Ama?"


"Menyesal ga dari dulu menikah, hahahaha," Najma dan Qumil terbahak.


"Ada aja kamu Ama,"


"Emang kamu ga pengen nikah muda juga Mil?"


"Dulu sih ga pengen, tapi lihat kamu sama suami kamu, jadi pengen, tapi apalah daya, belum ada yang lamar," sahut Qumil.


"Kalau ada yang lamar kamu mau?"


"Ya lihat dulu dong orangnya kek gimana, ga mau asal juga, dan yang paling penting, dapat restu dari mama papa,"


"Emang boleh sama mama papa kamu kalau kamu nikah muda?" Najma mulai mendetil mencari informasi.


"Ga tau Ama, belum pernah ngomongin itu juga, astaga jam berapa ini?" ucap Qumil sambil melihat jam tangannya.


"Jam lima Ama, aku pulang dulu ya, nanti suami kamu keburu pulang,"


.


"Waalaikumusalam," sahut Najma dengan senyum manisnya, dalam beberapa bulan ini ia telah belajar banyak, ketika suami pulang kerja pasti lelah, capek, dengan segala macam stres di tempat kerja, maka dari itu, rumah yang bersih dan rapi, dan penampilan istri yang cantik dan wangi bisa mengurangi lelah fisik dan mental sang suami.


"Bentar aku cuci tangan dulu Babe," tutur Ardi yang segera menuju wastafel dapur.


"Mas bawa apa ini?" tanya Najma seraya membuka tas plastik di atas meja makan.


"Aku tadi beli kebab, buat ganjal perut aja, nanti aku pengen makan di luar sama kamu Babe,"


"Iya Mas, mandi dulu gih,"


"Hmm, bau ya, okelah aku mandi dulu," Ardi segera ke kamar mandi untuk mandi.


Najma kemudian menyiapkan pakaian ganti untuk Ardi, selanjutnya ia menyalakan kompor dan membuat teh madu seperti biasa.


Ardi keluar dari pintu kamar mandi, ia tidak segera mengambil pakaian gantinya, namun menghampiri Najma di dapur, memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Hmm Mas," ucap Najma yang terkejut, ia membalikkan badan sehingga melihat Ardi masih memakai lilitan handuk menutupi tubuh bawahnya. Najma memeluknya, mencium aroma badan orang tercintanya.


"Pakai baju dulu Mas, ini teh nya mau siap, habis itu kita makan kebabnya, aku sudah mau ngiler rasanya," tutur Najma melepas pelukan suaminya. Ardi hanya menurut, ia berpakaian dan kembali ke meja makan, menyeruput teh madu hangat dan memakan kebab yang ia beli tadi, sambil melihat ponselnya.


"Ada pesan dari Yudha Babe, dia minta kumpul malam ini, dia siapin barbeque, gimana? Kita ke sana apa makan di luar aja?" tanya Ardi.


"Kan uda disiapin Mas barbeque nya, kasian dong kalau kita ga datang,"


"Iya juga sih, kamu kabarin Qumil Babe, Yudha undang dia juga katanya,"


"Iya Mas, aku kabarin dia, kita jemput aja gimana? Kasihan malam-malam anak gadis pergi sendirian,"


"Iya, nanti habis maghrib in syaa Allah kita jemput,"


.


Sesuai rencana tadi, selepas Maghrib, Najma dan Ardi menjemput Qumil di tempat kost nya, lalu membawanya ke rumah Yudha. Ketika Isya tiba, Ardi dan Yudha pergi ke masjid, sedangkan Najma dan Qumil sholat berjamaah di rumah Yudha.


Sepanjang perjalanan pergi dan pulang ke masjid, Ardi menceritakan informasi mengenai Qumil yang ia dengar dari Najma.


"Oh gitu, berarti aku bisa eksekusi nanti ya, aku takut banget Ar kalau sampai ditolak," keluh Yudha.


"Ah cemen kamu, kamu tuh dokter spesialis, calon pewaris rumah sakit besar, keluarga kamu kaya, pasti gampang cari calon istri Yud, dan kalau sampai Qumil nolak, masih banyak yang ngantri buat jadi istrimu," ucap Ardi.


Akhirnya mereka sampai di rumah Yudha, tercium bau daging panggang, rupanya Najma dan Qumil sudah mulai memanggang daging slice dan sosis. Yudha langsung melompat duduk di depan Qumil, sedangkan Ardi duduk berhadapan dengan Najma. Mereka mulai mencicipi daging yang telah matang.


"Ma syaa Allah enak banget, siapa yang bikin bumbu?" tanya Yudha.


"Qumil," sahut Najma.


"Wah, udah siap nikah nih, pinter bikin bumbu barbeque, ma syaa Allah," puji Yudha.


"Hahaha, belum ada calonnya," sahut Qumil.


"Iya kah? Kamu ga punya pacar?" tanya Yudha.


"Ga ada," ucap Qumil sambil mengunyah sosis berukuran jumbo itu.


"Kalau ada yang lamar mau?" tanya Yudha lagi, Najma dan Ardi saling pandang mendengar Yudha.


"Calon aja ga ada siapa yang mau lamar, jangan ngadi-ngadi deh Mas," ucap Qumil.


"Aku yang mau lamar kamu," ucap Yudha.

__ADS_1


"Ah becanda nya ga lucu," sahut Qumil.


"Aku serius lamar kamu, kamu mau jadi istriku?"


__ADS_2