
Enam bulan kemudian....
"Ummaa...." si gembul Akbar merengek menarik jilbab Najma yang sedang sibuk duduk bekerja, berkutat dengan buku sketsa dan alat gambarnya. Najma sejenak menghentikan goresan pada buku sketsanya, Menaruh pensil yang sedari tadi dia genggam. Tarikan Akbar menyadarkannya, bahwa ia harus kembali memperhatikan si kecil yang tampan itu.
"Iya sayang, mau apa?" tanya Najma yang berdiri dan menggendong Akbar meninggalkan meja kerjanya.
"Mam sama Umma," sahut Akbar.
"Saya suapin ga mau Mba," ucap Bu Tami yang duduk di karpet di sebelah Icha yang sedang tidur di kursi ayunan bayi.
"Ga pa pa Bu, saya suapin aja, Bu Tami juga makan yuk," ajak Najma yang duduk di sofa bersama Akbar.
"Saya mau izin sholat dulu aja Mba," ucap Bu Tami.
"Iya Bu, silakan, lagian Icha juga masih pules, biar saya aja yang jaga," sahut Najma, Bu Tami dengan tenang meninggalkan mereka bertiga di ruangan itu.
Najma mulai kembali bekerja, namun dia tidak bekerja di tokonya. Toko kerajinan tangan miliknya dipercayakan kepada para pegawainya, ia hanya mengawasi dan menerima laporannya saja.
Najma sekarang membantu mama Hamida dan papa Rahman menjalankan bisnis keluarga yaitu brand pakaian muslim Ar Rahman.
Najma bertanggung jawab atas desain dan bahan-bahan yang digunakan untuk pakaian yang ia desain.
Papa Rahman dan mama Hamida, merasa senang ada yang membantu mereka. Beliau berdua tentu juga semakin lama semakin tua, butuh penerus untuk melanjutkan usaha yang mereka rintis mulai dari nol.
Lalu anak-anak bagaimana? Tentu saja Najma tetap mengasuh mereka, Najma tidak ingin pekerjaannya mengalahkan tugas fitrahnya sebagai istri dan ibu bagi Akbar dan Nafisah. Ia membawa Akbar dan baby Icha di kantor. Papa Rahman memberikan ruangan yang luas untuk Najma, agar bisa bekerja sembari mengasuh kedua anaknya, tentu saja Bu Tami ikut membantunya menjaga anak-anak.
"Assalamualaikum," pintu terbuka dan seseorang yang sangat mereka rindukan masuk ke ruangan itu.
"Waalaikumussalam," sahut Najma.
"Babaaa!!!!" seru Akbar yang segera melompat dari sofa untuk berlari memeluk Ardi.
"Ah jagoan Baba, ssttt, jangan berisik, nanti adik Icha bangun, tuh adik Icha masih ngantuk," ucap Ardi. Akbar menutup mulutnya dengan kedua tangannya, seolah berkata ....ops maaf keceplosan.
Najma berdiri dan menghampiri mereka, lalu memeluk keduanya, dan Ardi mencium pipi Najma.
"Mas kok tiba-tiba ke sini?" tanya Najma.
__ADS_1
"Kangen kalian," sahut Ardi yang membawa mereka duduk ke sofa kembali.
"Lah kan baru tadi pagi ketemu sebelum berangkat kerja,"
"Iya, jam istirahat, setelah sholat dhuhur, aku kabur ke sini,"
"Ya udah, makan yuk, belum makan kan? Itu dimasakin Bu Ani tadi, sayur asem sama pepes tahu, ayo Akbar makan lagi...aaaa..."
Bu Tami yang mendengar suara Ardi di depan pintu, mengurungkan niatnya untuk masuk, dan berjalan menjauh dari ruangan itu, ia tidak mau mengganggu acara makan siang keluarga itu, karena sering kali Ardi dan Najma bersikap mesra.
"Mau kemana?" tanya mama Hamida yang tak sengaja bertemu Bu Tami di dekat ruangannya.
"Mau keluar beli makan Bu," sahut Bu Tami.
"Ga makan sama Ama?"
"Ada Mas Ardi baru datang, saya ga enak Bu ikutan nimbrung makan, ga pa pa saya pengen beli batagor di depan,"
"Udah ikut saya ke ruangan saya, yuk, makan sama saya, bapak lagi meeting sama klien, sekalian makan siang di luar, saya ga ada temennya," ucap mama Hamida, dan Bu Tami hanya menuruti perintah saja.
Najma melihat jam dinding menunjukkan pukul satu siang. Najma hendak membangunkan Ardi, namun terlihat suaminya itu sangat lelap tertidur sehingga tak tega membangunkannya. Namun Ardi tadi tidak berpesan mau dibangunkan atau tidak, dan Najma takut kalau ternyata Ardi telat kembali ke rumah sakit.
"Mas, Mas Ardi, bangun Mas," Najma menggoyang tubuh suaminya pelan.
"Hmm..." Ardi terbangun lalu duduk, di dekat Najma yang tengah berjongkok.
"Apa Babe, masa iya di kantor kamu mau minta jatah..." goda Ardi.
"Ih nggak lah, emang pernah aku bangunin Mas tidur buat minta jatah..." Najma tidak terima.
"Eh nggak ya...itu aku ya, yang suka bangunin kamu?" Ardi makin menggoda Najma.
"Iih...apaan sih, sudah jam satu ini, Mas mau balik ke rumah sakit ga?"
"Iya, aku harus kembali, dan nanti ada operasi, kemungkinan aku pulang malam, maaf ya,"
"Kenapa minta maaf? Aku ga pa pa kok, namanya juga kerja,"
__ADS_1
Ardi mencuci muka di wastafel dan Najma mengelap dengan handuk kecil setelahnya.
"Makasih Babe," ucap Ardi, ia memakai jasnya, mencium kening istrinya dan bersiap pergi.
"Aku berangkat dulu, assalamualaikum baby,"
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh, jangan lupa mampir ke ruangan mama,"
"Baik sayang,"
Ardi mampir ke ruangan mamanya sebentar untuk menyapa, kemudian meninggalkan kantor itu.
Jalanan hari ini begitu ramai namun tidak sampai macet. Ardi menjalankan mobilnya dengan kecepatan rendah, ia ingin sedikit bersantai.
Di dekat lampu merah ada sebuah restoran, dan Ardi melihat-lihat ke arah sana, dan rupanya ada seseorang yang sangat dikenalnya keluar dari restoran itu sambil menangis terisak.
Ardi menepikan mobilnya, dan membuka jendela.
"Brin!!!" panggilnya. Wanita itu dokter Sabrina, berjalan menghampirinya.
"Mas Ardi," ia kemudian masuk ke dalam mobil Ardi.
"Aku ga nyangka bisa ketemu mas Ardi di sini," ucapnya, Ardi kembali menjalankan mobilnya.
"Kamu kenapa?" tanya Ardi.
"Aku...itu .... Aldo selingkuh," lirih dokter Sabrina.
"Apa??" Ardi tidak pernah menyangka dokter Aldo yang terkenal ramah itu tega berbuat seperti itu, pada Sabrina, iya memang mereka berdua dijodohkan, tapi Sabrina itu cantik, pandai, anak orang kaya, kenapa dokter Aldo bisa berbuat sekejam itu, Ardi masih tidak habis pikir.
"Padahal aku sudah serahkan semuanya sama dia, tapi dia ga mau bertanggung jawab, dan kembali sama mantan pacarnya itu," dokter Sabrina jadi menumpahkan semua keluh kesahnya pada Ardi.
"Sekarang kamu mau kemana?" tanya Ardi.
"Hari ini aku libur, sebenarnya pengen pulang ke rumah mama, tapi kalau melihat aku seperti ini, mama papa pasti sedih, Mas Ardi tolong antar ke apartemenku saja ya.
"Baiklah," sahut Ardi, sebenarnya ada rasa tidak nyaman di hari Ardi berduaan di mobil dengan wanita yang bukan mahram, apalagi pakaian dokter Sabrina ini terlalu terbuka baginya, atasan tanpa lengan dan rok di atas lutut, membuat Ardi banyak-banyak beristighfar. Tapi meninggalkan dokter Sabrina di jalanan, Ardi tidak bisa melakukan itu, ia menyetir saja dan secepatnya membawa dokter Sabrina ke apartemennya.
__ADS_1