
"Mas Yudha, kalau tahu keadaanmu seperti ini, aku pasti segera memberi jawaban padamu, aku takut kamu tidak sempat mendengar bahwa aku mau menjadi istrimu," ucap Qumil sambil terisak.
Tanpa diduga, Yudha membuka matanya dan tersenyum pada Qumil.
"Baiklah, besok kita menikah ya, aku mau kamu selalu di sampingku," ucapnya.
"Ha.. Mas Yudha denger semuanya? Mas Yudha ga lagi tidur?" tanya Qumil yang terkejut.
"Iya, aku tidur, ngantuk banget ini, tapi aku dengan jelas mendengar semua ucapan mu, besok kita menikah ya, hmm?"
.
"Kenapa buru-buru sih Yud?" tanya Helena setelah Qumil dan Najma pamit pulang.
"Kalau Mama Papa sudah setuju, orangtua Qumil juga mengizinkan, mengapa ditunda lagi Ma?"
"Tapi kamu masih sakit sayang, tahan sebentar, kalau sudah keluar dari Rumah Sakit ya, masa kamu gak pengen foto pernikahan yang bagus?" Helena berusaha membujuk Yudha.
"Janji ya Ma, kalau aku sudah sembuh, aku menikah dengan Qumil," Yudha akhirnya setuju. Dia berpikir juga, anak orang ia nikahi bukan disayang dan dimanjain malah buat ngerawat dia yang lagi sakit ini.
"Iya, kamu senang banget sepertinya lamarannya diterima, nanti Mama akan bicara sama papa, kamu istirahat dulu aja," ucap Helena sambil mengelus kepala anak semata wayangnya itu. Baginya Yudha adalah anak kesayangannya selalu.
.
.
Di rumah sakit umum..
Ardi baru keluar dari ruang operasi ketika Adzan dhuhur berkumandang. Sungguh operasi itu amat sulit dan melelahkan. Setelah melepas gaun operasi dan sarung tangan serta masker, ia segera mencuci tangan. Kemudian masih memakai baju seragam bedahnya ia pergi ke masjid. Ketika keluar dari masjid ia bertemu dengan Ilham asistennya di poli klinik, mereka membicarakan sesuatu yang penting dan serius.
"Baiklah Ilham, terima kasih informasinya," ucap Ardi kemudian pergi ke kantin rumah sakit.
Najma menunggu di kantin rumah sakit umum karena mereka berjanji untuk makan siang bersama setelah tadi pagi mereka tidak bisa sarapan bersama karena sudah telat berangkat.
Najma duduk di kantin, ia memesan vanilla latte kesukaannya, dan memutuskan menunggu Ardi untuk memesan makanan bersama.
__ADS_1
Najma merasa berpasang-pasang mata melihatnya, dan Najma melihat sekeliling, memang benar mereka yang di sana sebagian besar melihat ke arahnya, bahkan ada yang berbisik seperti membicarakan dia.
Najma berpikir, sebenarnya apa yang terjadi, apa ada yang salah dengan dirinya.
"Babe, udah lama nungguin?" tanya Ardi yang baru muncul di depannya.
"Baru sepuluh menit Mas," Najma melirik sekitar, dan mereka masih seperti berbisik membicarakan dirinya.
"Ini minuman aku?" tanya Ardi.
"Iya, tadi aku pesenin es vanilla latte, Mas, ada yang salah denganku? Dari tadi aku di sini, semua kaya pada ngelihatin aku, ada yang bisik-bisik juga,"
Ardi menyeruput minumannya, dan mengajak Najma berdiri.
"Ayo Babe, kita ke ruangan aku, aku sudah pesan makanan dari luar tadi, paling sebentar lagi nyampe, kita bicara di ruangan ku saja," ajak Ardi, Najma pasrah mengikuti suaminya saja, pasalnya sudah tidak nyaman banget berada di kantin itu.
"Ah sudah sampai rupanya makan siang kita," ucap Ardi ketika membuka pintu ruang istirahatnya dan melihat dua kotak makan ada di atas meja.
"Wah, Mas pesan nasi bento kesukaanku," ucap Najma seraya mengikuti Ardi masuk ruangan itu dan duduk di sofa dekat Ardi.
Najma sebenarnya ingin menanyakan perihal di kantin tadi, namun ia mencoba bersabar dahulu, karena sang suami terlihat sangat lapar, dan akhirnya ikut makan dengan khidmat.
"Alhamdulillah," ucap Ardi selesai menghabiskan makan siangnya, dan meminum es teh pandan dari restoran Arya tadi.
"Kenyang Mas?" tanya Najma. Ia hendak bertanya tentang yang tadi namun sebelum ia bicara, Ardi sudah melontarkan pertanyaan duluan.
"Gimana tadi Qumil ketemu Yudha?" tanya Ardi sengaja sambil mengulur waktu hingga Najma menghabiskan makan siangnya, karena kalau dengar kabar tidak enak tadi, Ardi takut Najma tidak bisa makan karena sedih dan terkejut.
"Eh iya itu Mas, pas Qumil masuk ruangan, kak Yudha lagi tidur, Qumil nangis lihat keadaan kak Yudha, terus sambil nangis dia bilang, intinya itu kalau dia harusnya lebih cepat beri jawaban bahwa dia mau jadi istrinya kak Yudha,"
"Terus terus.." Ardi tak sabar ingin dengar kelanjutannya.
"Terus kak Yudha bangun dong, ternyata dia dengar semua yang diucapkan Qumil, Qumil malu dan kaget dong, mana kak Yudha bilang gini, baiklah besok kita menikah ya,"
"Terus, jadi mereka besok menikah?" tanya Ardi.
__ADS_1
"Ya itu, kalau mendadak kaya gitu kan repot semuanya Mas, untungnya dengan izin Allah juga tante Helena bisa bujuk kak Yudha nikah pas sudah sembuh aja," pungkas Najma yang juga meyuapkan sendok terakhirnya.
"Alhamdulillah kenyang," ucap Najma.
"Ada-ada aja Yudha ini," imbuh Ardi.
"Eh iya Mas yang tadi gimana?" Nama teringat yang ia tanyakan tadi.
"Kamu siap-siap ya Babe, ada kabar tidak menyenangkan tentang aku di rumah sakit ini, aku minta maaf sama kamu, karena berita itu mereka semua membicarakanmu juga," tutur Ardi.
"Sebenarnya ada apa Mas?"
"Kamu ingat perawat yang dulu mengejar-ngejar aku?" tanya Ardi pada Najma.
"Yang mana? Apa yang rambutnya keriting itu? Dia cantik sih, kenapa Mas?"
"Dia hamil, dan bilang ke semua orang kalau dia hamil anak aku," ucap Ardi.
Najma ternganga, beberapa kali ia mengedipkan matanya, terkejut tentunya.
"Tapi kamu percaya sama aku kan Babe? Demi Allah itu bukan anak aku," ucap Ardi.
"Ya iyalah Mas, ga usah ditanya lagi, selama ini kita sama-sama terus, terpisah cuma selama jam kerja Mas aja, selebihnya kita selalu bersama, heran aja kok beraninya dia bilang itu anak kamu,"
"Dia bilang sudah cerita ke aku dan minta pertanggungjawaban tapi aku menolaknya, katanya dia punya bukti rekaman cctv waktu kami bicara," ucap Ardi.
"Memang kalian pernah bicara tentang hal itu?" tanya Najma.
"Gak pernah Babe, semenjak aku pindahkan jadwal operasinya dulu itu, aku gak pernah lihat dia,"
"Besok aku mau diperiksa di komite medik sama jajaran direksi, dan aku bingung harus buktikan apa, karena kalau cuma bicara saja, pasti tidak dipercaya,"
"Sabar sayang, in syaa Allah pasti ada jalan, yakinlah Allah pasti menolong kita," ucap Najma yang memeluk dan mengelus punggung Ardi. Tak dipungkiri Ardi juga merasa tidak tenang, nama baiknya dan keluarganya dipertaruhkan.
"Besok aku akan temani Mas ke komite medik, dan kalau Mas sudah tidak ada kerjaan, kita ke rumah Mama Papa, kita ceritakan apa adanya, dari pada nanti beliau berdua tahu dari orang lain dan jadi salah paham, mending kita sendiri yang langsung cerita," tutur Najma, usianya memang sepuluh tahun lebih muda, namun pemikirannya terkadang bisa lebih dewasa dari Ardi.
__ADS_1