
Tiga bulan berlalu... kandungan Najma memasuki usia empat bulan. Najma tetap bekerja dari rumah, hanya sesekali ke toko. Dan di rumah dibantu Bu Ani mengurus baby A, kadang kala mama mertuanya juga datang mengunjunginya.
Baby A sudah berumur tujuh bulan, bertambah gembul dan sudah sudah bisa bermain bersama Dinda.
Malam ini Najma menyiapkan koper Ardi yang akan seminar ke ibukota. Rencananya Ardi akan pergi selama satu pekan. Dan baru kali ini Ardi pergi ke luar kota tanpa Najma. Entah mengapa rasanya berat mengemas pakaian dan keperluan Ardi, mungkin karena ia tidak ingin berpisah dari Ardi.
"Mas..." panggil Najma. Suaminya masih sibuk di depan laptop.
"Iya Babe, kenapa?" tanya Ardi.
"Sini Mas, sebentar tolong lihat, aku mau jelasin," pinta Najma. Ardi segera berdiri dan mendekat ke arah Najma.
Najma meraih lengan Ardi agar mereka semakin dekat.
"Ini kemeja dan celananya, sampai hotel langsung digantung ya, ini baju dalaman, sepatu ada di sini, ini kaos polo kesukaan kamu, ini sirwal dan baju gamis untuk sholat, ini alat mandi, ini nanti buat skincare Mas, ini ikat pinggang,...." tutur Najma.
Ardi hanya tersenyum mendengar penuturan istrinya, ia merengkuh pinggang Najma dari belakang, dan membelai perut buncit berisi buah cinta mereka.
"Mas, dengerin ga sih..."
"Iya sayang, mas dengar, mas pasti kangen sama kalian..." ucap Ardi sambil terus mengelus perut Najma itu.
"Kami juga akan kangen sama Baba..." sahut Najma.
"Babe, kamu ngerasa baby ini perempuan apa laki-laki ya?" tanya Ardi, karena jenis kelaminnya belum terlihat waktu pemeriksaan USG terakhir.
"Ga tahu Mas, ini hamil pertama, belum tahu gimana juga bedanya, entah laki-laki atau perempuan, yang penting dia sehat," ucap Najma penuh harap.
"Nanti kalau anak perempuan kita kasih nama Nafisah ya ... artinya yang sangat berharga, karena dia sangat berharga buat kita..." ucap Ardi.
"Kalau laki-laki...."
"Kamu yang kasih nama Babe, udah ya aku tutup kopernya, kamu istirahat dulu, aku mau ambil Akbar di rumah mas Arya," ucap Ardi kemudian mengecup kening Najma. Najma mengangguk dan tersenyum mengiyakan.
Akbar dari sore tadi dibawa pengasuh Salma dan diajak bermain di rumah Arya, Akbar sangat lucu, suka bermain dengan siapapun, dan ikut siapapun yang dikenalnya.
__ADS_1
Ardi menggendong Baby A yang sudah terlelap di pundaknya.
"Biarin tidur di sini napa Ar, kasian masih pules gitu," kata Sarah.
"Besok mau aku tinggal lama Mba, jadi malam ini aku harus tidur dengannya," sahut Ardi.
"Lah Najma??"
"Itu mah otomatis Mba, kami selalu bersama, duh rasanya berat deh, mau ninggalin dia, setelah menikah dia selalu ia ikut kemanapun aku pergi, kali ini ga bisa ikut, ada Akbar apalagi dia sedang mengandung,"
"Iya Ar, berat janinnya masih kurang juga, biar di rumah aja, kamu jangan khawatir, in syaa Allah aku tengokin Najma tiap hari selama kamu pergi,"
"Iya Mba, makasih, aku balik dulu ya, Najma pasti sudah nunggu, assalamualaikum," pamit Ardi.
"Waalaikumussalam," sahut Sarah kemudian menutup pintu belakang setelah Ardi pergi.
Malam ini Ardi tidur di tengah Najma dan baby A. Mereka berdua tidur memeluk Ardi.
.
.
Sebelum bangkit ia terlebih dulu mencium baby A kemudian istri tercintanya. Namun Najma juga ikut terbangun.
"Mas .."
"Kamu bangun sayang...aku mau mandi dulu," ucap Ardi.
"Sebentar Mas lima menit aja Mas hadap sini Icha pengen peluk Baba..." ucap Najma.
"Icha?" tanya Ardi tak mengerti.
"Icha .. iyaa katanya mau dinamai Nafisah, dipanggil Icha saja, panggilan sayang kita buat dia," sahut Najma sambil membelai perut buncitnya.
"Hmm...kalau dia nanti lahir laki-laki gimana Babe?" Ardi merapatkan tubuhnya ke arah Najma. Lengan kirinya sebagai bantal kepala Najma, tangan kanannya membelai perut Najma.
__ADS_1
"Aku rasa dia perempuan Mas, ga tau ada rasa semacam yakin aja dia perempuan," sahut Najma.
"Okelah terserah kamu aja, Icha sayang, selama Baba pergi, jangan rewel ya, jangan nyusahin Umma, Baba sayang kamu nak," kata Ardi mengajak ngobrol janin di dalam perut Najma.
"Iya Baba, Icha juga sayang Baba, udah Mas, mandi gih, aku siapin bajunya," ucap Najma kemudian ia bangun.
.
"Iya Rif gimana?" tanya Ardi yang mendapat panggilan suara dari Arif.
"Oke, aku turun sekarang," pungkas Ardi.
"Babe, aku berangkat, kamu di sini aja, Akbar masih tidur, pasti dia nangis kalau bangun ga ada temannya," pamit Ardi.
"Iya Mas, fii amanillaah, kabarin kalau udah nyampe,"
"In syaa Allah," ucap Ardi seraya mengecup pucuk kepala Najma.
Pagi ini Ardi diantar Arif ke bandara. Dan tinggallah Najma dan Akbar dalam kamar. Entah mengapa Najma menangis, mungkin ini pertama kalinya mereka harus terpisah cukup lama.
"Mas Ardi ..." lirihnya. Kemudian ia mengambil album foto dari lemari. Membuka album foto itu, melihat satu persatu foto, mulai lamaran mereka, akad nikah, sampai resepsi pernikahan, wajah mereka terlihat bahagia, hingga sekarang setiap sebulan sekali, mereka mengambil foto berdua dan dicetak lalu disimpan dalam album itu.
Najma juga mengambil majalah dengan foto Ardi yang memakai pakaian ruang bedah sebagai covernya. Membelai gambar itu, rasa bangga memenuhi hatinya, memiliki suami yang tidak hanya penting bagi dirinya, juga penting di kotanya karena Ardi satu-satunya dokter bedah syaraf di sana.
"Maaaa ...." Najma menoleh ke arah suara, rupanya baby A sudah bangun dan terduduk.
"Akbar sudah bangun Nak, kita turun, mandi ya sama Bu Ani," ucap Najma yang menggendong baby A membawanya turun ke lantai bawah.
Sementara di bawah, Bu Ani sudah menyiapkan sarapan untuk Najma, dan dengan sigap mengambil baby A dari gendongan Najma, Bu Ani tidak enak melihat Najma yang perutnya mulai buncit menggendong baby A yang gembul dan sangat aktif itu.
"Akbar mandi sama Bu Ani ya, Mba Najma sarapan sudah siap, sarapan gih, tadi mas Ardi juga buatin susu Mba Najma sebelum berangkat," ucap Bu Ani.
"Ah iyalah, aku mau minum susu dulu kalau gitu Bu," Najma merasa terharu, disela kesibukan Ardi, setiap di rumah selalu membuatkan susu hamil untuk Najma. Sang bumil pun semakin bahagia meminumnya. Setelah menghabiskan satu mug susu, ia menaruh mug itu di meja dapur dan tangannya tidak sengaja menyenggol mug navy yang biasa dipakai Ardi minum kopi.
"Praaaanggg!!"
__ADS_1
"Mug mas Ardi...."