
Tiga bulan kemudian...
Sarah mengamati layar USG, di sampingnya ada Najma yang terbaring, dengan stik USG menempel di perutnya. Iya mereka sedang memeriksa perkembangan penyakit Najma. Ardi dengan sabar duduk di dekat mereka sambil melihat layar USG.
"Bagaimana Mba?" tanya Najma.
"Bagus, sudah jauh membaik, alhamdulillah,"
"Alhamdulillah," sahut Najma dan Ardi berbarengan.
"Masih nyeri waktu keluar haidnya?"
"Gak sih Mba, pegel di pinggang aja," sahut Najma.
"Alhamdulillah...Tapi, kita masih terapi hormon lagi ya, jadi dalam waktu dekat kemungkinan kamu belum bisa hamil dulu, nanti kalau sekiranya sudah lebih baik, atau minimal konstan seperti ini, kita bisa coba program hamil untukmu," tutur Sarah.
"Alhamdulillah, ma syaa Allah," ucap Najma, Ardi tak kalah senangnya, ia tersenyum lebar mendengar penjelasan Sarah.
"Oh iya Mba, besok rencananya kami mau pindahan rumah, ke rumah baru," ujar Ardi.
"Lho iya kah? Sudah selesai renovasinya?"
"Alhamdulillah, semoga di rumah baru, kamu bisa lebih rileks, kalian bisa punya quality time yang banyak berdua,"
.
.
Keesokan harinya, semua keluarga berkumpul di rumah baru Ardi Abdurrahman Sholih.
Hamida, Sarah, dan Najma berada di dapur untuk menyiapkan makanan. Sedangkan Rahman, Arya, dan Ardi berada di halaman belakang sambil berbincang, juga mengajak, si kecil Salma bermain.
"Ardi, Papa lihat Najma semakin membaik, lebih ceria, tidak murung lagi,"
"Iya Pa, alhamdulillah, mba Sarah bilang sudah membaik dan beberapa bulan lagi in syaa Allah kami bisa program hamil, jadi dia senang,"
"Alhamdulillah, tapi semuanya kita kembalikan pada Allah nak, kita hanya bisa berusaha dan berdoa, hasilnya tetap Allah yang berkuasa menentukannya,"
__ADS_1
"Iya Pa,"
"Santai aja Ar, jangan terlalu keras berpikir, pekerjaanmu sudah berat, jalani saja apa yang Allah atur, bersyukur, qonaah.." imbuh Arya.
"Siap Bos, ah iya Mas, Najma itu suka sekali makanan restoran mu, kapan-kapan ajari juga dong aku, biar bisa juga masak korea jepang,"
"Gak ah, nanti kamu saingin restoran ku,"
"Arya, barusan nasehatin adiknya dengan baik, ini sudah lupa, mau bisnis ada yang nyamain, rezeki gak mungkin sama Arya,"
"Tau tuh Mas Arya, aku juga ga akan buka restoran, aku dah sibuk buka kepala pasien, aku tuh cuma pengen keren di depan istri aku, bisa masak makanan kesukaannya gitu,"
"Iya, iya, canda doang Ar, kalau kamu libur, atau luang datang ke restoran ku, aku ajarin in syaa Allah,"
"Oke,"
Sementara di dapur, Hamida dan kedua menantunya juga mengobrol sambil menyiapkan makan siang.
"Tuh Ma, lihat wajah Ama bersinar dan berseri-seri," ucap Sarah.
"Iya, ma syaa Allah tambah cantik, pasti bahagia keluar rumah mertuanya," sahut Hamida dengan bercanda.
"Mama bercanda sayang, tapi kamu seharusnya senang bisa tinggal di rumah kalian sendiri, bisa membeli atau menata perabot sendiri, masak yang kalian mau, lakukan apapun di rumah sendiri,"
"Iya Ma, Ama minta maaf ya Ma, kalau selama Ama tinggal sama Mama Papa, Ama pernah buat Mama Papa jengkel atau gimana, apalagi setelah Ama sakit ini, Ama lebih sering di kamar daripada bantuin Mama,"
"Sudahlah, Mama sangat mengerti sayang, dan Mama senang, kata Sarah kamu sudah membaik, dan kamu sudah mulai ceria sekarang, Mama ikut senang, tapi Mama pesan ya, jangan terlalu fokus dengan ingin hamil, iya semua perempuan yang telah menikah pasti ingin punya anak, tapi kalau terlalu keras kamu memikirkan nanti kamu bisa stres malahan, jalani saja dengan santai, berobat dengan patuh, nikmati waktu berdua kalian di rumah ini sebaik mungkin, itu Ardi sudah bikin kolam renang di dalam rumah, pasti pengen bersenang-senang sama kamu,"
Najma memerah wajahnya karena malu dengan yang terakhir diucapkan ibu mertuanya itu.
"Mama dulu sempat sedih karena tidak punya anak perempuan, habis lahiran Ardi, mama papa sibuk, gak sempat mikir mau punya anak lagi, tapi sekarang Alhamdulillah mama punya dua anak perempuan juga, yaitu kalian," Hamida lalu memeluk Sarah dan Najma.
"Eh lagi pelukan ikut dong," Ardi berlari dan memeluk Hamida dan Najma dari belakang.
"Apaan sih Ardi ikutan aja," teriak Sarah. Dan semua berhamburan melepaskan pelukan mereka.
"Ya kalian, yang di luar dah pada laper, yang di sini malah enak pelukan,"
__ADS_1
"Iya iya, maaf, itu sudah siap,panggil papa sama mas Arya," ujar Hamida.
"Baik Ma," Ardi segera berlari ke belakang memanggil Rahman dan Arya yang masih berbincang.
"Pah, Mas, makan yuk!!" teriak Ardi.
Najma tersenyum melihat suaminya itu, di rumah sakit dia menjadi dokter yang berwibawa dan disegani, jika bersamanya dia menjadi pria yang manis dan romantis, bersama orang tua dan kakaknya terkadang dia menjadi anak manja juga.
Akhirnya mereka makan bersama di meja makan dengan penuh suka cita, bahagia bisa berkumpul dengan keluarga, yang jarang terjadi karena mereka semua orang yang sibuk.
Setelah makan dan membereskan bekas makan mereka, Hamida dan Rahman, juga Arya dan Sarah, serta Salma meninggalkan rumah itu.
Ardi dan Najma segera ke atas menuju kamar mereka.
"Ah. .. alhamdulillah, akhirnya ketemu kasur," ucap Najma yang segera berbaring setelah berganti baju dengan baju santai.
"Capek Babe?" tanya Ardi yang baru saja keluar dari kamar mandi, ia juga melepas pakaiannya menyisakan boxer, penampilan favoritnya ketika di dalam kamar.
"Hmm, tapi sebanding dengan senangnya Mas, alhamdulillah ma syaa Allah,"
Ardi ikut berbaring di sebelah Najma, kemudian menarik istrinya itu ke dalam dekapannya.
"Aku ngantuk Babe, pengen tidur peluk kamu, diam ya jangan gerak, nanti yang di sana bangun kamu yang terancam," bisik Ardi di telinga Najma, Najma ketakutan dan membulatkan matanya. Sedangkan Ardi perlahan mulai terlelap.
Namun Najma merasa aneh, tak sampai jarak lima belas centi meter, dada bidang Ardi di depan matanya, Najma menurunkan pandangannya, ia melihat garis kotak-kotak mirip roti sobek di perut Ardi, hingga tak sadar dia mengelusnya, dan tak patuh pada Ardi yang memintanya untuk tidak bergerak. Ia tersenyum nakal, kemudian melakukan sesuatu yang tidak biasanya lalu membangunkan Ardi. Mata Ardi langsung terbuka dan menarik tangan Najma, kemudian membalikkan posisinya menjadi di atas Najma, dengan kedua tangan Najma dalam kungkungannya.
"Kamu gak patuh ya?" Ardi mulai berkata. Najma hanya mengangguk dan tersenyum.
"Kamu mulai berani ya.."
Najma mengangguk lagi.
"Kamu mulai nakal ya.."
Najma hanya mengangguk.
"Mau Mas hajar?"
__ADS_1
"Mau, mau Mas, mau banget,"