
Ardi menggendong Baby A di halaman belakang seperti biasa, pagi itu ia telah berpakaian rapi bersiap ke rumah sakit. Tadi Najma memintanya turun duluan, karena Najma juga bersiap ke toko.
Hari itu Fifi juga mulai bekerja sebagai pengasuh baby A, ia sedang membantu Bu Ani menyiapkan sarapan. Sambil mencuci peralatan masak di dapur, matanya sesekali melirik Ardi yang menggendong baby A. 'Beruntung sekali Mba Najma, punya suami tampan dan kaya ...' batin Fifi.
Ardi melihat jam di tangannya, kenapa Najma lama sekali... pikirnya, sambil sesekali melihat jendela kamar mereka, sesekali juga melihat ke dapur, kenapa Najma belum memanggilnya.
"Bu Ani... titip Akbar, saya mau lihat Najma dulu di atas," ucap Ardi setengah berteriak.
"Biar saya aja Pak," ucap Fifi yang datang mendekat dan tangannya hendak meraih baby A dari gendongan Ardi.
"Tunggu, ambil kereta bayinya," ucap Ardi.
"Iya," ucap Fifi, segera berbalik mengambil kereta bayi di dekat tempat cuci baju.
"Ini Pak,"
Tanpa menyahut dan melihat Fifi, Ardi meletakkan baby A dalam kereta bayinya, dan meninggalkan mereka begitu saja.
Fifi terheran, apa Ardi tidak menyukai kehadirannya...kenapa dia tidak memberikan baby A langsung kepadanya, bicara juga tidak melirik sama sekali. Berbagai pertanyaan muncul di benak Fifi.
Ardi berlari menuju lantai atas, dimana kamar mereka berada.
"Babe..." panggil Ardi ketika memasuki kamarnya. Tidak ada sahutan, tidak terlihat Najma juga. Ardi masuk ke dalam kamar mandi. Betapa terkejutnya dia melihat Najma tengah berjongkok di samping closet, sambil terisak.
"Babe, kamu kenapa?" tanya Ardi.
Najma segera menghapus air matanya dan bangun lalu memeluk Ardi.
"Hey ..kenapa Babe? Kamu habis muntah?"
"He em..."
"Kok nangis? Itu wajar Babe buat ibu hamil, karena ada perubahan hormon,"
"Iya aku tahu Mas..."
"Berat ya hamil anakku?"
__ADS_1
"Bukan gitu Mas, aku tahu semua kesulitan ini berbuah pahala dari Allah jika kita sabar menjalaninya..."
"Itu kamu tahu .. kenapa nangis?"
"Aku jadi ingat ibu ... pasti berat juga mengandungku..." Najma mulai terisak lagi dalam pelukan Ardi.
Ardi membelai rambut Najma, agar lebih tenang.
"Mas.."
"Hmm..." sahut Ardi.
"Aroma tubuhmu...biar aku cium sebentar lagi ya, rasanya mualku mulai reda..."
"Iya...cium aja sepuas kamu..."
"Udah Mas, nanti Mas telat... hari ini dinas dimana?"
"Ga papa, hari ini mau visit pasien di rumah sakit Airlangga, siang baru ke rumah sakit umum, dan malam nanti In syaa Allah ada operasi," sahut Ardi.
"Ya udah ganti baju gih, kemeja Mas basah kena air mata dan ingusku," ucap Najma yang melepaskan pelukannya. Najma mencuci mukanya yang sembab habis menangis. Ardi melepas kemejanya dan kembali ke kamar hendak mengambil kemeja baru.
"Mas ga bisa libur aja pagi ini... " ucap Najma yang berdiri di hadapan Ardi, sambil membelai dada suaminya yang bidang, dan menenggelamkan kepalanya di sana, memeluk erat dan menghirup dalam-dalam aroma maskulin itu yang sudah menjadi candu baginya.
Ardi merogoh sakunya guna mengambil ponselnya. Ia mengirim pesan pada seseorang. Tak lama kemudian ia mendapatkan balasan dan menaruh ponselnya di meja. Lalu menggendong Najma ke kasur.
"Oke, aku berangkat siang, kamu mau apa?"
.
.
Sudah dua jam lamanya Ardi di kamar atas. Fifi mondar-mandir seperti setrikaan menunggu Najma dan Ardi turun. Kemudian ia menghampiri Bu Ani yang sedang menjemur pakaian di belakang.
"Bu, kok lama ya mereka belum turun juga, jangan-jangan Mba Najma sakit, apa aku naik aja ya? Takutnya kenapa-kenapa..." ucap Fifi yang gusar di hari pertamanya bekerja di rumah itu.
Bu Ani malah tersenyum.
__ADS_1
"Sudah jangan ganggu mereka, biarin aja," sahut Bu Ani.
"Tapi Bu..."
"Peraturan pertama di rumah ini, kita ga boleh masuk kamar Mba Najma dan Pak Ardi, kalau ada apa-apa, pasti telpon saya di bawah, tapi kalau ga telpon, tunggu saja, paling sejam lagi telpon..."
"Kenapa begitu Bu? Bu Ani juga ga pernah masuk kamar itu?" tanya Fifi.
"Iya ga pernah sama sekali," sahut Bu Ani yang masih sibuk dengan cucian baju.
"Emang ga dibersihin kamarnya?" tanya Fifi lagi.
"Walaupun sibuk, mereka sempatkan bersihkan kamar, Mba Najma dan Pak Ardi itu sangat suka rumah yang bersih dan rapi, kamu lihat sendiri rumah ini bersih kan, itu bukan karena saya yang bersihkan, mereka sendiri, saya cuma bantu-bantu sedikit, masak juga seringan Mba Najma, saya kadang-kadang aja kalau Mba Najma capek," Bu Ani sengaja cerita panjang lebar, agar Fifi lupa perihal kegiatan Najma dan Ardi di dalam kamar yang tak kunjung keluar.
Fifi hanya mengangguk-angguk. Ia lalu bermain bersama Salma dan baby A, sambil membantu Bu Ani menjemur pakaian.
"Kok baju besar semua, sama baju Akbar, ini sprei," gumam Fifi.
"Ga ada baju dalam Bu?" tanya Fifi.
"Iya, Mba Najma nyuci sendiri baju dalam mereka, ga suka mungkin mereka baju dalamnya dipegang orang lain," sahut Bu Ani.
"Oh ..apalagi Bu kebiasaan di rumah ini?" tanya Fifi.
"Ga ada lagi sih, semua sama dengan rumah lain, lama-lama kamu juga nanti terbiasa," jawab Bu Ani.
"Eh iya Bu, tadi itu saya mau ambil Akbar dari gendongan pak Ardi, kok orangnya malah nyuruh saya ambil kereta bayi, dan kalau bicara ga pernah ngelihat ke saya,"
"Iya memang begitu, kalau kamu ambil langsung dari gendongan pak Ardi, yang ada tangan kalian bisa bersentuhan, dan pak Ardi memang selalu menundukkan pandangan, dia hanya mau menyentuh dan memandang yang menjadi mahramnya saja, lelaki yang baik ya seperti itu, jadi wanita secantik apapun ga akan bisa merebut pak Ardi dari Mba Najma," tutur Bu Ani.
"Apalagi jilbab kamu ga menutup dada, itu jangan diikat ke belakang jilbabnya, diurai aja ke depan, dan pakai kaoskaki, itu juga aurat, di sini semua yang kerja di sini, diminta begitu, mungkin Mba Najma lupa ngasih tahu kamu..." lanjut Bu Ani.
Tak lama kemudian, terlihat Najma dan Ardi yang sudah berganti baju dengan kaos polo duduk di meja makan, keduanya rambutnya setengah basah seperti habis mandi.
"Itu Mba Najma ga pakai jilbab, dan bajunya juga pendek," ucap Fifi.
"Ya Mba Najma kan istrinya, ya hanya boleh lihat istrinya begitu, begitu juga Mba Najma, hanya pak Ardi saja yang boleh melihatnya tanpa jilbab," sahut Bu Ani.
__ADS_1
'Ah.... beruntungnya Mba Najma suaminya tampan dan hanya melihatnya, semoga suatu saat aku juga punya suami yang seperti itu,' batin Fifi.