
Hari berganti hari.. semakin dekat dengan hari pernikahan Yudha dan Qumil. Bukan hanya keluarga dokter Rendra dan pak Ridwan yang sibuk, Najma juga ikut sibuk membantu, karena itu pernikahan Qumil yang sudah seperti saudari kandungnya sendiri. Apalagi keluarga pak Ridwan juga yang telah berjasa mendampingi Najma waktu pernikahannya.
Najma bertanggung jawab atas pakaian pengantin dan keluarga Qumil. Juga souvenir yang berjumlah tiga ribu buah. Ardi juga sibuk dengan operasinya.
"Ris, souvenirnya gimana?" tanya Najma pada Risma.
"Masih proses packing Mba," sahut Risma.
"Di bawah ya, aku mau lihat," Najma diikuti Risma kemudian turun ke bawah di ruang belakang. Di sana tampak beberapa karyawan sedang membungkus bantal peluk berbentuk hati, tentu saja berbahan perca, dengan gradasi warna apik, sehingga terlihat elegan. Apalagi dibungkus kain kaca warna putih, semakin terlihat mewah. Helena sengaja memilih souvenir sederhana namun elegan, karena undangan mereka adalah orang-orang penting di kota ini.
"Udah, bagus, nanti taruh di kardus lalu simpan di garasi belakang ya, saya mau ke tempat konveksi dulu ngecek gaun pengantinnya," pamit Najma pada karyawannya.
Setibanya di konveksi, Najma segera naik ke lantai tiga dimana kantor kedua mertuanya berada.
"Assalamualaikum," sapa Najma.
"Waalaikumusalam,"
"Mas kok di sini?" tanya Najma yang terkejut melihat Ardi bersama kedua orang tuanya. Najma lalu mencium punggung tangan ketiganya bergantian dengan takzim.
"Iya, mau ngejutin kamu, kata mama kamu mau ke sini, ya udah jam makan siang ini aku ke sini aja," ucap Ardi yang mentoel pipi Najma yang baru saja menurunkan cadarnya.
"Iya mau ngecek gaunnya Qumil," sahut Najma yang terlihat lelah.
"Makan dulu yuk," ajak Rahman.
"Iya tadi dibawain bu Marni sayur bening kelor, pepes tahu, sama ikan patin goreng," ucap Hamida.
"Hmm enak sekali kedengarannya, cepetan Babe ambilin buatku," pinta Ardi.
Najma segera mengambil makan untuk Ardi, begitu pula Hamida mengambil juga untuk Rahman. Kemudian mengambil untuk mereka sendiri dan makan bersama.
"Ama kamu jangan capek-capek, udah cukup semua kan?" tanya Hamida.
"Nggak kok Ma, ga capek, senang kok," sahut Najma.
__ADS_1
"Apaan, pasti capek tuh Ma, kalau malem aja tidurnya pules banget, ga bisa diganggu," ucap Ardi.
"Ga ada kaya gitu, pas Mas pulang aja aku pasti bangun kok, Mas Ardi tuh Ma yang capek-capek, operasi pagi sama malem, pulangnya tengah malam," Najma jadi ikut mengadu.
"Kalian kok malah berantem," Hamida menengahi. Rahman juga ikut tertawa melihat anak dan menantunya itu.
"Jadi bukan buat Ama aja, Ardi juga jangan capek-capek, Ama kan banyak karyawan, jangan turun tangan sendiri semuanya, suruh bantu karyawannya, kamu tinggal ngawasin aja, Ardi juga, kalau bukan operasi darurat, sehari sekali saja, operasi kamu susah dan lama, mata pasti lelah, pundak juga kan, kalau udah kecapean semua sampai rumah ya tidur doang, ga ada komunikasi, nanti pagi udah pisah lagi," tutur Rahman, Ardi dan Najma dengan khidmat mendengarkan.
"Iya Pa," ucap Ardi, sedangkan Najma hanya mengangguk-angguk.
"Jangan iya aja, lakuin, kalau kamu sampai sakit, Rumah Sakit gampang cari gantinya, panggil dokter tamu, atau pasien dirujuk, tapi keluargamu kan yang sedih," lanjut Rahman.
Ardi jadi berpikir, benar juga yang dikatakan papanya, uang bisa dicari, tapi kesehatan tidak bisa dibeli dengan apapun.
"Baiklah in syaa Allah nanti aku jadwal ulang operasi ku," ucap Ardi.
Setelah makan siang, dan melihat progres gaun pengantin Qumil beserta seragam keluarga, mereka berdua meninggalkan konveksi, Ardi menuju rumah sakit untuk visit pasien, sedangkan Najma pulang ke rumah.
"Assalamualaikum," ucap Najma ketika masuk rumahnya.
"Dindaaa.." ucap Najma ketika melihat Dinda sedang bermain sendiri di dekat dapur menemani ibunya mencuci piring. Najma merasa gemas melihat gadis kecil itu yang mulai bisa bicara dan berjalan itu.
"Ate..(Tante)" ucap Dinda.
"Ini tante bawain roti tadi dari kantor," ucap Najma seraya memberikan satu kantung berisi beberapa potong roti manis.
"Mba, makasih kok repot, hampir tiap hari Dinda dibawain jajan," ucap bu Ani, merasa sungkan.
"Ga papa Bu, saya sudah senang ditemani Ibu sama Dinda, jadi ga kesepian lagi,"
"Nanti buat makan malam mau disiapin apa Mba?" tanya bu Ani.
"Ehmm.. apa ya.. eh itu aja Bu, ayam lengkuas yang di freezer tolong dikeluarkan, ibu bikinin sambel tomat aja ya, sama bumbuin tempe, nanti malam biar saya goreng sebelum makan," sahut Najma.
"Oh, baik Mba,"
__ADS_1
"Saya ke atas dulu ya Bu, udah risih, mau mandi," pamit Najma kemudian segera ke kamarnya.
Dua jam kemudian terdengar suara mobil Ardi memasuki garasi, dan muncul Ardi dari pintu yang terhubung dari garasi ke dapur.
"Assalamualaikum," sapa Ardi.
"Waalaikumusalam," jawab bu Ani yang nampak sudah siap untuk pulang.
"Om.." panggil Dinda.
"Hai Dinda, sebentar ya Om mau cuci tangan dulu, tangan Om kotor," ucap Ardi kemudian mencuci tangan di wastafel cuci piring.
"Nah ini sudah bersih, sudah siap buat cubit pipi Dinda!!!" seru Ardi kemudian mengejar gadis berpipi gembul itu, Dinda dan Ardi berlarian ke sana kemari dan akhirnya Ardi menangkap dan menggendong Dinda.
Ardi terlihat sangat senang bermain bersama Dinda, dan pemandangan itu terlihat oleh Najma dari depan pintu kamarnya. Tak dapat dipungkiri hatinya merasa sedih, bukan karena cemburu kepada Dinda, namun sedih karena dia tak kunjung punya anak juga..
Alangkah bahagianya bila yang digendong dan membuat Ardi begitu bahagianya adalah buah cinta mereka.
Ardi yang sekelebat melihat Najma memandangnya, seakan tahu isi hati Najma, ia segera menurunkan Dinda dari gendongannya.
"Dinda mau pulang ya? Besok kita main lagi ya," ucap Ardi
"Iya Om," sahut Dinda.
"Da da..." ucap Ardi yang melambaikan tangan pada Dinda yang hampir keluar pintu.
"Da..da.." sahut Dinda membalas lambaian tangan Ardi.
Ardi melihat kembali ke arah Najma, namun istrinya sudah tidak ada lagi di depan kamar. Ardi segera menyusul Najma ke kamar.
"Assalamualaikum," ucap Ardi ketika membuka pintu kamar.
"Waalaikumusalam Mas," ucap Najma yang langsung berdiri menyambut Ardi, mencium punggung tangan suaminya dengan takzim, dan Ardi membalasnya dengan kecupan di kening, kemudian Najma menenggelamkan dirinya dalam pelukan Ardi.
"My baby.. kenapa? Aku bau keringat ini, kok dipelukin,"
__ADS_1
"Biarin Mas, aku suka baumu ini, bau lelah mu yang mencari nafkah buat aku,"