
Di balik selimut, Najma masih terlelap dalam dekap peluk Ardi, keduanya masih terbuai di alam mimpi. Dari semalam posisi tidur mereka tidak bisa jauh dan terpaut satu sama lain. Mereka melakukan sesuatu yang semakin menambah kasih sayang antara keduanya, sesuatu yang semakin mengeratkan ikatan cinta halal mereka, sesuatu yang merupakan usaha dan ikhtiar mereka untuk mendapatkan keturunan yang shalih shalihah.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi, tak biasanya mereka sampai ketinggalan waktu untuk sholat subuh di masjid, namun kali ini Ardi sudah terlambat untuk ke masjid.
Ardi perlahan membuka matanya, melirik jam dinding, sedikit terkejut namun tetap tenang dan mencoba membangunkan Najma.
" Babe, my baby... bangun sayang, mandi yuk,"
"Hmm Mas, I love you..I love you.. I love you.. so much..," ucap Najma yang masih mengantuk.
"I love you to.. tapi bangun gih, kita mandi, subuhnya mau habis waktunya.."
Najma membuka matanya dan melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul lima pagi. Ia perlahan duduk menyusul Ardi.
"Mas mandi duluan aja, aku beresin tempat tidurnya," ucap Najma.
"Oke," sahut Ardi kemudian ia berlari ke kamar mandi.
Najma segera merapikan tempat tidur, kemudian menyusul Ardi mandi karena matahari sebentar lagi akan terbit.
Setelah mandi, mereka berdua kemudian sholat subuh berdua di kamar. Ardi membaca surat Al Fatihah dan surat Al Mudatsir di rokaat pertama, kemudian Al Fatihah dan Al Muzzamil di rokaat kedua, seperti biasa suaranya mengalun merdu membuat hati Najma semakin meleleh mendengarnya.
Selepas sholat mereka membaca dzikir pagi dan murojaah hafalan mereka bersama. Setelah satu juz mereka mengakhirinya.
"Babe, aku nanti temani kamu di toko ya," ucap Ardi.
'Tumben banget..' batin Najma.
"Mas ga ke rumah sakit?" tanya Najma.
"Hari Sabtu Babe, lupa ya?"
"Oh iya, ini Sabtu, eh kok kemarin kita ga ke luar kota tempat Mas ngajar?"
"Udah selesai Babe, aku cuma ngajar satu semester ini, tahun depan lagi, in syaa Allah,"
"Lha barang-barang kita masih di sana Mas, kok ga bilang sih kalau ngajarnya udahan.."
"Nanti sore kita ke sana, anggap aja hanimun lagi," ucap Ardi seraya memeluk dan menciumi Najma.
"Mau ngapain di sana?"
"Pacaran sama kamu sayang,"
"Emangnya harus ya pacaran di sana?"
"Aku suka banget kamar itu, suasana kotanya yang dingin juga, aku suka banget pokoknya, sewanya masih enam bulan lagi, jadi aku pengen kita ke sana tiap akhir pekan,"
"Iya Mas, aku nurut aja.." ucap Najma.
__ADS_1
"Babe, kamu bahagia jadi istriku?"
"Pertanyaan macam apa itu pak dokter..."
"Tinggal jawab aja kan, bahagia ga?"
"Ehmm... gak Mas, gak bahagia,"
Ardi mengerutkan dahinya mendengar jawaban Najma, kurang apa lagi pikirnya, uang belanja dan nafkah juga cukup banyak, rumah dan mobil juga diberikan, nafkah batin juga memuaskan... Najma tersenyum nakal pada suaminya yang terlihat kecewa.
"Aku gak bahagia Mas, tapi sangaaaat bahagiaaa..."
"Babe!!!" Ardi melotot matanya..
"Nakal ya kamu..hmm.." ucap Ardi sambil menggelitik pinggang Najma.
"Aaaww.. geli Mas.. geli...ampuuunn ampun.. aaaa..."
Ardi menghentikan aksinya setelah ia puas menggelitiki Najma. Ia kemudian memeluk Najma dari belakang.
"Gini ya enaknya kalau sudah nikah, ngobrol aja berpahala, pegangan tangan berpahala, apalagi yang lainnya, anehnya di luar sana banyak yang milih pacaran, padahal itu pintu dosa, melakukan apa yang dilarang.." tutur Ardi.
"Iya Mas, aku lapar, turun yuk," ajak Najma.
"Iya yuk.."
"Dinda.." ucap Najma melihat gadis kecil itu.
"Ate.. Om.." sahut gadis itu.
"Bu Ani.. kita masak apa pagi ini?" tanya Najma.
"Kok tanya saya Mba? Mas Ardi sama Mba Najma mau sarapan apa?" bu Ani balik nanya..
"Mas sarapan apa?" tanya Najma kali ini pada Ardi.
"Apa aja Babe, seadanya bahan di kulkas aja," sahut Ardi. Kemudian lanjut main bersama Dinda.
Najma membuka kulkas dan melihat isinya, dan mengambil ikan tuna. Memasukkan bumbu rempah lengkap ke dalam blender dan menghaluskannya, mengiris tomat, cabai merah dan cabai hijau juga serai, memasukkan semuanya ke dalam panci berisi air mendidih, dan menambahkan gula garam sebagai perasa, terakhir ia masukkan ikan tuna yang sebelumnya ia bersihkan dan dilumuri air perasan jeruk nipis, jadilah asem-asem ikan tuna.
"Maaas uda mateng.. makan yuk.." panggil Najma setelah menyajikan masakannya di atas meja makan.
"Iya.." sahut Ardi dari depan, ia kemudian menggendong Dinda ke dapur.
"Masak apa Babe? Wangi banget baunya sampai ke depan,"
"Ini, cuma asem-asem ikan tuna Mas, yuk duduk, Dinda juga makan?" tanya Najma, Dinda hanya menggeleng.
"Dinda sudah sarapan tadi Mba, sama tempe kesukaan dia," sahut bu Ani dari belakang.
__ADS_1
"Iya Bu," sahut Najma.
Najma mengambilkan nasi untuk Ardi beserta ikan tuna dan kuahnya. Lalu Ardi mencicipinya setelah membaca bismillah.
"Hmm, ma syaa Allah, mak nyus pemirsa," ucap Ardi.
"Kok kamu pandai masak? Baarokallaahu fiik.." ucap Ardi.
"Wa fiik baarokallaah.. ya belajar Mas, biar Mas makin sayang sama aku," bisik Najma sambil mengerlingkan mata genit pada Ardi.
"Pagi-pagi jangan mancing-mancing ya.." bisik Ardi balik, mereka berdua berbisik karena tidak enak kalau didengar bu Ani. Kemudian melanjutkan ritual sarapan pagi mereka.
Setelah itu mereka kembali ke kamar untuk bersiap-siap ke toko.
"Bu Ani, kami mau ke toko dulu, nanti nasi sama sayurnya dibawa pulang semuanya aja Bu," pamit Najma sebelum pergi.
"Iya Mba, tapi nanti Mba Najma sama Mas Ardi ga makan lagi apa?"
"In syaa Allah kita mau ke luar kota Bu,"
"Oh, gitu.."
"Iya, kami pergi dulu Bu, kalau pekerjaannya sudah selesai, ibu boleh pulang jam berapa aja, jangan lupa kunci pintu ya Bu," pamit Ardi.
"Baik Mas Ardi," sahut bu Ani.
"Dinda mana Bu?" tanya Najma.
"Tidur Mba, tuh di kamar belakang," sahut Bu Wati. Najma dan Ardi memang mengizinkan bu Ani menggunakan kamar belakang untuknya dan Dinda beristirahat.
"Oh iya, kalau begitu, kami pergi dulu Bu, Assalamualaikum," ucap Najma. Sedangkan Ardi sudah menuju garasi duluan.
"Waalaikumusalam, hati-hati Mba Najma
..." sahut bu Ani.
"Iya Bu..."
Mereka pergi menggunakan mobil Najma, karena mereka hanya pergi berdua saja, lebih praktis memakai mobil yang berukuran lebih kecil.
"Mas," panggil Najma setelah memasang sabuk pengaman di dirinya.
"Iya Babe.." sahut Ardi yang mulai membawa mobil itu berjalan.
"Nanti ke toko aku cuma mau ngecek kerjaan anak-anak sebentar aja, habis itu kita langsung berangkat aja ya.."
"Kenapa gitu.. biasanya kamu sampai sore.."
"Aku....."
__ADS_1