Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Menikmati Waktu Berdua


__ADS_3

Malam harinya Ardi dan Najma bersiap tidur..


"Mas, bahagia banget sepertinya hari ini.."


"Kenapa emangnya Babe?"


"Ya kelihatan senang aja, sampai traktir bapak-bapak ojol segala,"


"Lho kamu kok tahu?"


"Iyalah, kelihatan dari dalam mobil,"


"Iya alhamdulillah Babe, banyak sekali nikmat Allah yang telah aku terima, apalagi sekarang Mas punya kamu, Mas bekerja dengan gaji yang lumayan, kita sudah punya rumah walaupun dibelikan papa, dan banyak lagi nikmat yang tak terhitung jumlahnya, bolehlah sedikit berbagi, di dalam rezeki kita juga ada rezeki mereka," Ardi mengeratkan pelukannya.


"Mas, tiba-tiba aku teringat ayah ibu rahimahumallaah, aku juga ingin menyisihkan sedikit penghasilanku, dan bersedekah atas nama mereka, boleh kan?"


"Tentu boleh sayang, itu kan uang kamu sendiri juga, sekarang kita tidur ya Babe, besok biar bisa bangun pagi,"


"Hmm, iya Mas,"


.


.


.


Keesokan paginya seperti biasa Najma dan Ardi melakukan aktivitas pagi. Sepulang dari masjid, Ardi membaca Al Quran dan dzikir pagi bersama Najma, kemudian Ardi membersihkan rumah dan Najma menyiapkan sarapan pagi. Mereka bergantian, terkadang Ardi yang memasak dan Najma membersihkan rumah. Mereka tidak memakai jasa ART, karena masih bisa mereka lalukan sendiri, dan tak jarang Ardi membantu Najma melakukan semua pekerjaan rumah.


Ardi yang selesai bersih-bersih, duduk di kursi makan menunggu Najma selesai memasak.


"Mas kok sudah selesai sih? Aku masih belum selesai,"


"Masak apa sih Babe?"


"Itu cuma bikin tumis brokoli jamur, sama goreng nuget ayam," sahut Najma sambil membalik gorengannya.


"Okey, aku bantuin ya sayang, bantuin apa ini?"


"Ambil nasi aja Mas, uda mateng itu di magicom,"


"Baik sayangku," Ardi kemudian mengambil dua piring dan mengisinya dengan nasi putih yang telah dimasak Najma terlebih dulu, kemudian meletakkannya di atas meja makan.


"Kamu udah bikin minum?" tanya Ardi.


"Hehehe, belum," sahut Najma.

__ADS_1


"Okey, aku buatin," Ardi lalu membuka kulkas dan mengambil satu buah lemon dan mengirisnya tipis, menaruhnya ke dalam dua mug, kemudian menambahkan air hangat, jadilah air lemon hangat.


Najma juga selesai memasaknya dan menyajikan di piring lalu membawanya ke atas meja makan. Mereka kemudian sarapan bersama.


"Kamu hari Jumat ikut Mas ya," ucap Ardi memecah keheningan sarapan mereka, karena dua-duanya sama-sama lapar dan fokus dengan makannya.


"Kemana Mas?"


"Ke luar kota, nginap sampai Ahad,"


"Kemana? Ngapain selama itu, honeymoon lagi?"


"Iya, sambil honeymoon lagi kalau kamu mau," sahut Ardi sambil mengerlingkan sebelah matanya genit ke arah Najma.


"Mas, apaan sih, serius ini aku nanya,"


Ardi menggenggam tangan Najma, dan memandangnya, Najma juga menghentikan makannya dan memperhatikan apa yang akan diucapkan Ardi.


"Selama satu semester ke depan, setiap Jumat Sabtu, aku diundang jadi dosen tamu di kampus tempat Yudha kuliah, ngajar mahasiswa keperawatan, tapi aku takut bakal kangen sama kamu kalau nginap di sana sendirian, makanya itu kamu aku bawa ke sana aja, sayang, pumpung kita masih berdua, puas-puaskan setiap momen yang kita punya, hmm,"


Najma tersenyum sambil mengangguk mengiyakan, dia tak punya alasan untuk menolak, untuk urusan toko ia sudah percayakan kepada karyawannya, dia hanya mengamati dari rumah, dan lagi kalau ditinggal Ardi sendirian dia juga pasti kesepian, seperti yang dibilang Ardi, ia akan kangen pastinya, hmm mulai bucin nih.


"Rekomendasi Yudha lagi?"


"Bukan, teman aku dekan di sana, sebenarnya aku juga pengen ambil S2 kaya Yudha, pumpung kita masih berdua juga, nanti kalau ada bayi, aku ingin fokus nemenin kalian, gimana menurut kamu?"


"Tentu saja aku akan bicara sama mereka, tapi yang paling penting kamu dulu, kalau kamu gak keberatan, aku baru bicara sama mereka,"


"Kenapa begitu Mas?"


"Iyalah, kamu istri aku, satu-satunya yang menemaniku setiap hari dan in syaa Allah selamanya," Ardi kemudian mengecup tangan Najma yang sedari tadi di genggamnya, lalu melepaskannya agar Najma bisa lanjut makan.


Selesai Najma dan Ardi sarapan, keduanya bersama-sama membereskan meja makan dan dapur.


"Ting tong.." bel pintu berbunyi. Ardi berjalan ke arah monitor di tembok, terlihat di layar ternyata Arya, Sarah, dan Salma yang datang.


"Napa Mas?" tanya Ardi pada Arya.


"Mau numpang berenang,"


"Oke, tunggu sebentar, Babe ganti baju gih, ada Mas Arya," ucap Ardi memperingati istrinya yang saat itu memakai daster pendek.


"Ah, iya Mas," Najma segera berlari menuju kamar atas.


"Tiit," Ardi memencet monitor itu kemudian kunci pagar otomatis terbuka, juga pintu rumah ikut terbuka.

__ADS_1


"Assalamualaikum," sapa Arya dan Sarah.


"Waalaikumusalam," sahut Ardi.


"Maaf ganggu ya pengantin agak baru, berenang yuk dik," ajak Arya.


"Iya, duduk dulu, hai Salma ikut Om yuk," Ardi mengambil Salma dari gendongan Sarah.


Arya dan Sarah kemudian duduk di ruang tengah. Sarah meletakkan paper bag di atas meja.


"Ini teokpokki buat kalian, katanya Salma suka," ucap Sarah.


"Iya, suka banget, makasih ya,"


"Sama-sama, eh kamu di rumah berdua terus, pasti sering begituan ya.." goda Arya.


"Yaa begitulah.. Namanya suami istri Mas, nyari pahala," Ardi terlihat bisa mengimbangi candaan kakaknya.


"Pumpung masih berdua, puas-puaskan Ar, kalau sudah ada anak, bakal susah, apalagi kami sama-sama kerja, ketemu cuma mau tidur dan bangun tidur," tutur Sarah tak sengaja curhat.


"Curcol nih Mba," celetuk Najma yang baru turun.


"Eh," Sarah yang tersadar segera menutup mulutnya, takut hal yang lebih pribadi meluncur begitu saja dari mulutnya.


"Iya emang gitu kalau sudah ada anak, apalagi anaknya banyak, pasti semakin susah buat berduaan, karena itu nikmati saja," Arya membenarkan kata istrinya.


"Katanya suruh berduaan, terus ngapain kalian ke sini," gerutu Ardi.


"Ya emang sengaja ganggu kalian,ayuk ah ke kolam," Arya lalu merangkul pundak Ardi dan mengajak adiknya berenang di kolam belakang dapur.


Najma dan Sarah duduk di karpet ruang tengah menemani Salma bermain.


"Kamu gimana? Masih sakit pas berhubungan?" tanya Sarah sebagai dokternya Najma.


"Sudah enggak Mba, alhamdulillah,"


"Kalian jarang ya berhubungan?"


Najma memerah pipinya merasa malu hendak menjawab, namun harus ia jawab karena Sarah adalah dokter kandungan yang merawatnya.


"Apanya yang jarang Mba, tiap hari," lirihnya.


"Hah seriusan? Berarti beneran sudah ga sakit ini, alhamdulillah kalau gitu, Senin ke tempat praktek aku ya, kita cek lagi,"


"Iya Mba in syaa Allah,"

__ADS_1


"Nikmati dulu waktu kalian masih berdua, syukuri, nikmati," tutur Sarah.


"Iya Mba, kami menikmati dan mensyukuri masa-masa ini, anggap aja pacaran setelah menikah, tapi kalaupun Allah segera memberikan anak untuk kami, in syaa Allah kami juga akan sangat senang," ucap Najma.


__ADS_2