Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Mengambil Keputusan


__ADS_3

Pukul sebelas malam, Ardi baru pulang, ia masuk rumah yang sudah dalam keadaan gelap, namun rupanya Najma ada di dapur mengambil minum. Ardi segera mendekat dan memeluk Najma dari belakang.


"Babe, kamu belum tidur? Kangen banget sama kamu..." ucap Ardi. Yang dipeluk pun tersenyum bahagia.


Ardi merasa aneh... seperti bukan aroma tubuh Najma.


"Klik .." lampu menyala.


"Mas Ardi.... kalian ngapain?"


Ardi spontan melepaskan pelukannya dan menoleh ke sumber suara. Najma di sana, terus siapa yang dia peluk...


"Babe...kamu...." Ardi syok kehabisan kata-kata.


"Lalu ..ini...siapa?" Ardi masih belum tahu.


Lalu wanita yang dipeluk Ardi tadi berbalik... ternyata Fifi yang memakai baju Najma dan rambutnya tergerai seperti rambut Najma.


"Astaghfirullah..." Ardi memijat pangkal hidungnya yang mendadak kepalanya pusing.


"Babe... aku ga tahu..." Ardi mencoba menjelaskan.


"Iya Mas, aku paham kok, Mas naik dulu gih, aku mau bicara dengan Fifi," ucap Najma mencoba bersabar.


Ardi menatap istrinya cemas, dan naik ke kamarnya menuruti kata Najma.


"Duduk Fi," pinta Najma. Ia dan Fifi duduk berhadapan di meja makan.


Fifi masih terdiam, memainkan jari tangan di pangkuannya, dia merutuki apa yang telah dia perbuat, dia sebenarnya juga tidak sejahat itu ingin merebut Ardi dari Najma, namun rasa iri juga keinginan besar memiliki suami seperti Ardi, membuatnya hilang akal sejenak.

__ADS_1


"Kamu menyukai suamiku?" tanya Najma membuka suara.


"Mengapa Mba Najma bilang begitu? Jelas-jelas cuma salah paham, tadi pak Ardi salah peluk, dikira aku Mba Najma," Fifi mencoba mengelak.


"Ga usah bohong Fi, pikir kamu aku itu wanita bodoh apa gimana? Kalau tadi kamu gak menikmati pelukan suamiku, pasti kamu sudah menghindar, berbalik, dan bilang... maaf pak saya bukan Mba Najma... tapi kamu diam aja, sampai ada lima menit aku lihat dari sana," ucap Najma membungkam Fifi.


Fifi terdiam, mukanya berasa panas seolah ketahuan mencuri.


"Aku juga sering pergokin kamu mandangin mas Ardi, apa kamu mau ngrebut mas Ardi dari aku?" tanya Najma sedikit meninggi.


Fifi mulai terisak... "Maaf Mba Najma, aku ga bermaksud seperti itu, apalagi sampai merebut Pak Ardi dari Mba Najma, tapi aku akui iya aku menyukai pak Ardi, aku iri dengan Mba Najma yang punya suami baik, tampan dan kaya, juga seorang dokter, juga ayah yang sangat menyayangi anaknya, aku juga pengen punya suami seperti pak Ardi, makanya tadi aku kaget dan terlena sejenak," ucap Fifi dengan penuh air mata.


Najma juga iba sebenarnya melihat Fifi, di toko dia rajin, ceria dan akrab dengan teman, juga ramah kepada pelanggan, ia juga sayang dengan baby A, tapi dia sangat mengancam keselamatan rumah tangga Najma dan Ardi.


Najma membuang nafas panjang, ia tidak sampai hati juga memecat Fifi, tapi juga tidak bisa membiarkan Fifi di rumah ini yang pasti setiap hari bertemu Ardi.


"Begini Fi, maaf kamu tidak bisa lagi jadi pengasuh Akbar," ucap Najma.


"Kalau kamu sangat butuh pekerjaan, harusnya kamu bekerja juga hati-hati, ga usah pakai naksir suami orang," Najma merasa kesal.


"Maaf Mba...maaf saya janji ga akan ngulangin lagi," Fifi memohon kepada Najma.


"Ya jangan sampai kamu ulangi, dimanapun, baik suami saya atau suami siapapun, jangan pernah Fi, kalau kamu mau melakukan hal seburuk itu, ingatlah wajah ibumu, pasti beliau sedih kalau anaknya sampai jadi pelakor," tutur Najma.


Air mata Fifi lolos lagi mendengar penuturan Najma, serasa tertampar, benar sekali yang dikatakan Najma, ibunya pasti sedih jika tahu kelakuannya.


"Mulai besok pagi, kamu kembali kerja di toko lagi, dan jangan ceritakan hal ini kepada siapapun kalau kamu gak ingin malu sendiri, bilang aja sama anak toko kalau Akbar sudah ada yang ngasuh," lanjut Najma.


"Baik Mba," tidak ada lagi yang bisa Fifi lakukan selain menuruti kata Najma. Dia sangat menyesal kenapa tadi tidak segera menghindar saat Ardi salah mengira. Ah penyesalan pasti datang terlambat.

__ADS_1


Najma beranjak dari duduknya. Namun tangan Fifi meraih tangan Najma.


"Mba, aku mohon malam ini, biarkan aku tidur menemani dek Akbar," pinta Fifi.


"Iya, sudah ya Fi, jangan pernah bahas hal ini lagi dengan siapapun, dan besok setelah subuh kamu bisa pulang dulu, bersiap ke toko lagi," ucap Najma.


"Iya Mba, terima kasih," sahut Fifi kemudian membiarkan Najma naik ke kamarnya.


"Mas belum tidur?" tanya Najma yang melihat Ardi masih duduk di sofa menunggunya.


"Bagaimana bisa tidur, tanpa istriku ini," ucap Ardi yang meraih tangan Najma dan mendudukkan di pangkuannya. Najma hanya terdiam.


"Maafin Mas ya Babe ... tadi aku benar-benar ga tau kalau itu bukan kamu, lain kali jangan biarkan orang lain memakai baju kamu di rumah ini," ucap Ardi.


"Iya Mas, aku percaya kok sama Mas Ardi," kata Najma membelai wajah tampan suaminya.


"Tadi kamu ngomong apa sama Fifi?" tanya Ardi.


"Aku berhentikan dia jadi pengasuh Akbar," sahut Najma.


"Kamu pecat dia Babe?"


"Kamu khawatir sama dia Mas?"


"Bukan gitu, cuma tanya aja, itu semua terserah kamu sih, senyaman kamu aja Babe,"


"Aku ga sejahat itu Mas, aku kembalikan dia ke toko," sahut Najma.


"Akbar aku asuh sendiri aja, sama Bu Ani di rumah, kan Dinda juga pintar dan ga begitu rewel, aku yakin bisa Bu Ani megang dua anak, dan aku kerja dari rumah aja Mas, biar Risma yang kirim laporan tiap harinya," lanjut Najma.

__ADS_1


"Iya my baby sweetie honey, terserah kamu, dan senyaman kamu, tapi aku bangga dengan keputusan kamu tidak memecat Fifi, bukan aku khawatir dengan Fifi ya, tapi kamu tentu punya pertimbangan sendiri dengan keputusan kamu, proud of you Babe..." ucap Ardi kemudian mencium pipi Najma, dan menggendongnya ala bridal style ke tempat tidur.


"Hai sayang, apa kabar anak baba yang di sini?" ucap Ardi sambil mengelus perut Najma yang mulai membuncit. Najma tersenyum dibuatnya, ia merasa bahagia, di masa kehamilan ini Ardi begitu memperhatikan dirinya. Semoga gini terus ya Mas, jangan tinggalkan aku dan anak-anak kita... ucap Najma dalam hati.


__ADS_2