
Malam hari setelah isya, Ardi membuat janji temu dengan dokter gigi spesialis bedah mulut kenalannya di rumah sakit umum, Safira.
"Kenapa ga ke rumah sakit aja Dok, ada dokter Rayhan dan dokter Andi?" tanya Safira pada Ardi, sembari ia memeriksa dalam mulut Najma.
"Dokter gigi spesialis bedah mulut milik rumah sakit umum yang perempuan cuma anda, ga rela deh kalau istri saya diperiksa sama dokter laki-laki, kecuali kalau memang benar-benar darurat, dan alhamdulilah anda bersedia, maaf lho ya ngerepotin dan maksa buat buka tempat prakteknya," ucap Ardi.
Sebenarnya Safira sedang cuti pasca melahirkan, jadi dia libur full untuk mengurus bayinya.
"Ga papa Dok, pekan depan saya juga sudah mulai masuk kerja lagi, ah iya di rumah sakit Airlangga ada dokter Cindy juga," ucap Safira.
"Dokternya sibuk, banyak operasi, jadi gimana itu keadaan gigi istri saya?" Ardi sengaja mengalihkan pembicaraan, karena tidak mau berbicara tentang dokter Cindy tadi, takut mulutnya menceritakan sesuatu yang tidak boleh diceritakan, bisa jadi ghibah di antara mereka.
"Iya, ini harus dicabut gigi bungsunya, bisa dilakukan sekarang kalau mau, kumur dulu Mba," ucap Safira, Najma berkumur di tempat yang disediakan.
"Sakit nggak Dok dicabutnya?" tanya Najma.
"Dibius biar ga sakit," sahut Safira.
"Mas, gimana?" tanya Najma pada Ardi.
"Ga papa, jangan takut Babe, kan aku temani di sini," Ardi mencoba menenangkan Najma.
"Udah makan kan?" tanya Safira.
"Seharian ini cuma minum jus, ga bisa makan apapun," sahut Ardi.
"Iya ga papa, udah dapat makanan cair, gimana? Kalau iya saya bius sekarang, setelah itu nunggu lima belas menit dan kita mulai tindakannya," ucap Safira.
"Ya udah, saya sudah pengen makan nasi besok," Najma akhirnya mengiyakan.
"Oke, saya siapkan dulu ya obatnya, dokter Ardi bisa duduk di kursi sebelahnya, bisa ditemani istrinya,"
Ardi kemudian duduk di dekat Najma, dan menggenggam tangannya.
"Mba Najma kelihatannya masih muda, selisih berapa tahun dengan dokter Ardi?" tanya Safira.
"Hampir sepuluh tahun Dok," sahut Najma.
"Beruntung sekali nih Dokter Ardi dapat istri muda belia,"
"Saya juga sangat beruntung Dok," sahut Najma.
"Oke, bismillah saya suntik ya," ucap Safira sambil menyuntikkan obat bius pada gusi bawah gigi yang akan dicabut. Najma memejamkan mata dan mengeratkan genggaman tangannya pada Ardi.
"Oke, sudah.. tunggu lima belas menit ya, saya izin ke dalam dulu waktunya menyusui," pamit Safira sambil melepas sarung tangannya dan mencuci tangan pada wastafel.
__ADS_1
Tinggallah Najma dan Ardi di ruang praktek itu.
"Sakit Babe?" tanya Ardi.
"Pipiku jadi tebal rasanya," sahut Najma sambil meraba pipinya yang terasa tebal dan kebas.
"Iya itu reaksi obat biusnya sayang,"
"Mas, aku laper," ucap Najma.
"Iya habis ini mau makan apa?"
"Mas aku kok gemetar," ucap Najma yang merasa detak jantungnya semakin cepat.
'Hah.. apa efek dari obat biusnya ya,' Ardi membatin, ia memeriksa denyut nadi Najma, dan memang sedikit lebih cepat dari normal. Ardi juga memeriksa ampul bekas obat bius yang disuntikkan kepada Najma.
"Ini obat yang biasanya, apa karena Najma ga makan sama sekali, hanya tiga gelas jus, pasti sangat kurang," gumam Ardi, kemudian ia melihat ada sari kacang hijau kemasan kotak di meja ruang tunggu, Ardi segera mengambilnya dan memberikannya pada Najma. Najma meminumnya sampai habis.
"Gimana Babe?" tanya Ardi sambil memeriksa kembali denyut nadi Najma.
"Alhamdulillah sudah lebih baik Mas," lirih Najma.
"Alhamdulillah," Ardi juga merasakan denyutan itu mulai normal kembali.
"Gimana?" tanya Safira yang baru kembali dari dalam rumahnya.
"Iya, mungkin syok sebentar kena obat bius," ucap Safira.
"Tapi sekarang sudah gak papa kan?" tanyanya lagi.
"Iya ga papa, eh maaf tadi aku ambil minuman di meja," ucap Ardi.
"Iya ga papa, memang disediakan buat pasien atau tamu, gimana sudah siap? Sudah kebas dan tebal sininya?" tanya Safira.
"Iya, udah," sahut Najma.
"Oke, kita mulai ya, tenang ya Mba Najma, ditemani suami tercinta ini," ucap Safira. Safira memang terkenal ramah kepada pasiennya
Najma menurut saja, dia hanya membuka mulutnya agar dokter Safira melakukan tugasnya, ia diam sambil memandangi wajah suaminya, lega karena Ardi selalu ada untuknya, selalu di sisinya. Najma tidak tahu apa yang terjadi di dalam mulutnya, ia hanya mendengar seperti suara pemotong keramik.
Setelah itu dokter Safira meminta Ardi agar memegang kepala Najma tepat pada kedua telinganya, seperti menutup telinga Najma rapat-rapat, kemudian dokter Safira mencabut gigi bungsu Najma dengan kuat.
"Alhamdulillah tercabut, sekarang tinggal jahit saja, ga sakit kan?" tanya Safira. Najma hanya menjawab dengan kedipan mata. Kemudian Safira menjahit gusi yang terbuka setelah pengambilan gigi bungsu tadi.
Setelah dijahit, semua tindakan selesai, dan Safira memberikan beberapa obat untuk anti nyeri, anti inflamasi, dan anti biotik.
__ADS_1
"Alhamdulillah, semoga ga sakit lagi ya Babe," ucap Ardi.
"Aamiin, iya Mas, Dok makasih banyak ya, semoga Allah yang membalas semuanya dengan kebaikan," ucap Najma.
"Aamiin," ucap Safira.
"Biayanya berapa Dok?" tanya Ardi.
"Dua juta," sahut Safira.
Najma dan Ardi saling berpandangan, mereka terkejut akan angka yang disebutkan Safira, mengapa jauh dengan yang ditarifkan Cindy.
"Baik, saya transfer ya, nomor rekeningnya?" tanya Ardi.
"Ini, di sini," sahut Safira sambil menyodorkan pamflet berisi iklan klinik giginya, dan disana ada nomor rekeningnya.
"Baik, sudah saya transfer, silakan dicek," ucap Ardi.
Safira membuka mobile bankingnya dan memeriksa dan memang ada uang masuk, namun bukan dua juta, tapi tiga juta.
"Tiga juta?" tanya Safira sambil melongo.
"Iya, yang sejuta buat adik bayi, terima kasih sudah boleh pinjam mamanya sebentar," ucap Ardi.
"Ah... terima kasih banyak kalau gitu Dok," ucap Safira.
"Kami yang terima kasih dan mohon maaf telah merepotkan," ucap Ardi. Mereka kemudian pamit untuk pulang ke rumah.
Di luar hujan deras...
"Kamu sini dulu Babe, aku ambil mobilnya," ucap Ardi sambil menerjang hujan, berlari ke arah mobil mereka, dan membawanya ke dekat Najma berdiri menunggunya. Najma segera masuk ke dalam mobil. Dan mengelap wajah dan bajunya yang sedikit basah dengan tissue.
"Mas, pelan-pelan aja, hujannya deras banget," pinta Najma.
"Katanya laper, pengen segera makan sesuatu,"
"Minum sesuatu Mas, belum bisa makan," ucap Najma.
Mereka akhirnya tiba di depan rumah mereka, namun keduanya terkejut melihat ada seorang pria tengah baya sedang berteduh di teras garasinya, sambil mendekap sesuatu.
"Siapa itu Mas?" tanya Najma.
"Entahlah, kita masuk dulu, baru kita tanyai," ucap Ardi.
Ardi membuka pintu garasi dengan remote di mobilnya, kemudian memasukkan mobil itu ke dalam garasi. Keduanya turun dan terkejut mendengar suara tangisan bayi dalam dekapan pria itu.
__ADS_1
"Om Indra?"