
Dari pintu masuk terlihat gadis-gadis cantik, terlihat seperti sosialita muda berjalan bersama-sama di atas karpet merah, dan ketika melihat Ardi, mereka langsung menyapa.
"Kak Ardi.. kak Ardi," mereka saling berebut mendekati Ardi untuk berfoto bersama.
Mereka tidak melihat Najma di sampingnya, bahkan sengaja ada yang mendorongnya menjauhi Ardi.
Najma hanya terbengong melihat kelakuan gadis-gadis itu. 'Apa-apaan ini,' batin Najma.. kemudian ia menjauhi mereka dan mengambil minuman lalu duduk di kursi untuk tamu. Menyedot habis jus jeruk di tangannya. Sebal, jengkel, sedih itulah yang dirasakan Najma. Dan sekarang ia melihat Ardi dibawa naik ke panggung untuk berfoto bersama kedua mempelai.
Najma melihat dari bawah, suaminya memang tampan dan gagah, apalagi memakai setelan jas hitam dan dasi warna abu tua bergaris silver, membuat Ardi semakin memukau, tak kalah dengan Yudha pengantin prianya.
Meskipun sebal, Najma tetap percaya bahwa suaminya lelaki yang setia, tidak akan tergoda dengan perempuan lain. Berusaha menundukkan pandangan dari yang bukan mahramnya. 'Mau gimana lagi, suamiku memang ganteng,' batin Najma setelah menghabiskan jus dari gelas keduanya.
Setelah berfoto Ardi segera pamit kepada gadis-gadis yang notabene adalah adik tingkatnya waktu kuliah kedokteran, karena Ardi dan Yudha memang dekat dengan adik tingkat mereka bukan hanya yang perempuan tapi yang laki-laki juga.
"Maaf aku turun dulu ya, ga enak sama istriku," pamit Yudha.
"Aaah bentar dong Kak, kita ambil video toktok juga," ajak salah satu dari mereka.
"Iya nih Kak, pumpung ketemu," imbuh yang lain.
"Udah-udah biarin aja, kasian nanti malam ga dapat pintu kamar dia," celetuk Yudha.
"Itu tau, udah ya selamat bersenang-senang kalian, selamat menikmati hidangan, aku nyari istri aku dulu," ucap Ardi dan segera berlari turun dari panggung.
"Kenapa Ar? Kok lari-lari," tanya Rahman. Ardi berhenti di dekat orang tuanya sambil melihat ke sana kemari.
"Papa sama Mama lihat Najma?" tanya Ardi.
"Nggak tuh, kan tadi sama kamu Ama nya," sahut Hamida.
"Iya, tadi sama aku, tapi aku diculik adik tingkat naik ke panggung, pas turun eh dia ga ada," ucap Ardi sedikit panik. Baik Rahman, Hamida, maupun Ardi tidak melihat Najma karena aula itu sangat besar dan tamu yang datang sangat banyak.
"Telpon aja dia Ar," tutur Rahman.
"Ah iya Pa," Ardi kemudian merogoh ponsel di saku celananya dan menelpon belahan jiwanya itu.
"Babe kamu dimana?"
--- "Duduk di dekat pintu keluar,"
"Mana sih ga kelihatan?"
__ADS_1
---"Ya Mas ke sini aja,"
"Oke, tunggu aku sayang, kamu di situ dulu ya,"
Ardi menutup sambungan teleponnya dan menyimpan kembali ponselnya dalam saku celananya. Kemudian ia berjalan sesuai degan arahan Najma tadi. Dan benar saja Najma tidak kelihatan, ternyata Najma yang mungil duduk di belakang ibu-ibu berbadan subur yang sedang makan prasmanan.
"Ah...ternyata kamu di sini Babe, aku takut banget kamu ngilang," ucap Ardi sambil berjongkok di dekat Najma.
"Udah selesai jumpa fansnya?" tanya Najma dengan nada seperti orang sebal.
"Fans apa sih, cuma adik tingkat waktu kuliah," kilah Ardi.
"Seneng banget kayanya dirubung cewek cantik sebanyak itu," Najma masih sebal.
"Ga ada, ga ada yang cantik mereka, bagiku yang cantik cuma satu, Najma Burhanuddin,"
Najma tersipu mendengar ucapan Ardi..bisa banget ngegombal nih mas dokter.
"Makan yuk, Mas laper nih," ajak Ardi.
"Ambil sendiri aja," Najma masih sewot walau tadi sempat tersenyum.
"Bener nih mau kehilangan pahala menyiapkan makan suami?"
"Ini Mas," ucap Najma seraya menyerahkan piring berisi makanan untuk Ardi.
"Jazaakillaahu khayran," ucap Ardi.
"Waiyyak," sahut Najma.
"Kok cuma satu, kamu ga makan? Mau aku suapin?"
"Masih kenyang Mas, tadi habis minum jus dua gelas,"
"Ah...iya," Ardi kemudian memakan makan siangnya.
.
Malam harinya setelah isya, resepsi dilangsungkan lagi untuk tamu kolega dokter Rendra, teman-teman Helena, dan karyawan rumah sakit Airlangga, juga teman sejawat dokter-dokter dari Rumah Sakit lain di kota ini.
Najma dan Ardi serta mama Hamida dan papa Rahman tetap menjadi penerima tamu seperti tadi siang, karena sebagian tamu adalah teman sejawat dokter yang tentunya mengenal Ardi juga, dan sebagian lagi teman sosialita Helena yang juga teman mama Hamida.
__ADS_1
"Kamu capek Babe?" tanya Ardi.
"Lumayan sih Mas, kita aja kaya gini lumayan capek, apalagi pengantinnya tuh, jadi penasaran gimana nanti malam mereka, hihihi,"
"Napa? Pengen first night juga sayang?"
"Mulai deh... aku mau tidur nyenyak malam ini Mas.."
Mereka terus menyambut tamu yang berdatangan. Dari karyawan rumah sakit, jajaran manajemen, teman sejawat dokter, sosialita, hingga anggota dewan dan walikota juga hadir.
Melihat orang-orang penting datang, Najma sempat iri dengan Qumil, kalau saja dia yang berjodoh dengan Yudha...
"Babe.." Ardi menyadarkan lamunan Najma.
"Mas," ucapnya..seakan tertampar, 'Najma..Ardi suami terbaik untukmu, dia sabar dan pengertian, mencukupi semua kebutuhan kamu, melindungi kamu, bersyukurlah Najma..' batinnya.
"Kamu capek? Kita makan dulu yuk, kamu pasti lapar, ini sudah hampir jam sembilan malam," ucap Ardi. Najma mengangguk dan melingkarkan tangannya di lengan Ardi.
"Aku minum aja deh Mas, makan di rumah aja," ucap Najma.
"Eh nggak nggak.. makan dulu, nanti kamu bisa sakit, kita sudah seharian sibuk di acara ini, makan ya," ucap Ardi memaksa, Najma hanya mengangguk akhirnya.
"Kamu duduk aja, aku ambilin makanannya," ucap Ardi.
Mereka duduk di meja makan VIP karena hari sudah malam, sehingga tamu-tamu mulai meninggalkan aula itu, hanya tinggal beberapa tamu saja dan keluarga besar Yudha dan Qumil.
Dan tiba-tiba datang lagi segerombolan gadis cantik yang masuk ke dalam aula itu, langsung naik ke panggung pelaminan Yudha dan Qumil.
Ardi yang mengetahuinya segera memanggil security. Namun terlambat karena para gadis itu sudah berulah.
"Apalagi ini??" Najma bertanya-tanya.
Di atas panggung para gadis itu mengerubungi Yudha. Yudha terlihat kikuk dan menggaruk dahinya yang tidak gatal.
"Pinjam suaminya dulu ya Mba," ucap salah satu dari mereka pada Qumil. Qumil hanya mengangguk lalu duduk di kursinya lagi.
Entah apa yang Yudha dan para gadis yang berjumlah sekitar sepuluh orang itu.
"Plis deh, kalian jangan ngaco," ucap Yudha.
"Kita cuma pengen tahu, seperti apa istri kamu sayang, apa lebih cantik dan sexy dari kita-kita.." ujar Stevy.
__ADS_1
"Ternyata ini istri kamu Mas, suka banget sama yang muda-muda, boleh juga," ucap Lidya sambil mengamati Qumil.