
Selepas maghrib Ardi baru sampai di rumahnya, ia terkejut mendapati teras rumah dalam keadaan gelap.
'Apa sedang mati lampu, tapi rumah tetangga nyala semua, apa korsleting listrik, Najma pasti ketakutan,' batin Ardi, diapun segera memarkirkan mobilnya di garasi dan segera menutup kembali garasi dengan remote ditangannya dan melompat keluar mobil.
Ia semakin heran dengan pemandangan dalam rumah yang juga gelap, tangannya memencet saklar menyalakan lampu, dia melihat gelas bekas susunya tadi pagi masih di posisi yang sama, susu Najma masih utuh, bahkan roti panggang yang disiapkan Najma tak tersentuh, hanya menjadi lunak terkena angin.
"Babe...kamu dimana? Sayang..."
Tidak ada sahutan, Ardi langsung naik ke kamarnya.
"Babe,"
Lagi-lagi kamar gelap, Ardi menyalakan lampu, dan terlihat Najma meringkuk di balik selimut di atas kasur. Ardi segera menghampirinya.
"Babe," panggil Ardi, dan lagi-lagi tidak ada sahutan. Ardi mengubah posisi tidur Najma menjadi terlentang, dan dia sangat terkejut ketika menyentuh Najma yang sangat panas badannya.
"Subhanallah.. Babe, bangun sayang, ini Mas, bangun sayang," Ardi menepuk pipi Najma.
"Hmmmh Mas, maafin aku," rintih Najma, kemudian ia kembali terlelap.
Dia segera membuka selimut tebal yang membungkus tubuh Najma, dan mengganti gamis panjang Najma dengan baju yang lebih tipis.
"Kamu demam, ga boleh pake baju tebal,"
Ardi mengambil minum dan obat, mencoba membangunkan Najma namun dia hanya merintih dan terus menutup matanya.
Ardi mengambil termometer di laci mejanya dan mengukur suhu tubuh Najma.
"Subhanallah 39,4 panas sekali kamu Babe, ga bisa gini," Ardi merogoh sakunya meraih ponsel dan menelpon Sarah.
"Assalamualaikum Mba,"
__ADS_1
"Waalaikumusalam Ar, ada apa?"
"Punya parmadol di rumah? Sama infus set,"
"Buat apa?"
"Najma demam, ini ga mau bangun buat minum obat, pengen aku infus aja,"
"Kalau parmadol ga ada, tadi di rumah ada barang datang untuk klinik aku, katanya ada paracetamol injeksi, kamu bisa pakai, ada juga transfusi set, ga ada infus set, kamu pakai aja lah, ambil seperlumu, di kamar depan ya, ada D5, spet juga kamu pakai aja,"
"Iya Mba, makasih, aku ambil sekarang ya, ada orang kan di rumah?"
"Ada bibi sama Salma, kamu bilang aja udah bilang aku, semoga cepat sehat ya Najma nya,"
"Iya Mba, aamiin," Ardi menutup telponnya kemudian berlari turun ke bawah menuju halaman belakang dimana ada pintu menuju rumah kakaknya.
Dan ia bertemu pengasuh Salma dan meminta izin lalu mengambil apa yang dia butuhkan sesuai instruksi Sarah tadi. Kemudian ia kembali lagi ke rumahnya dengan berlari.
Setelah itu dia juga merasa lapar, akhirnya dia turun membuat makanan, juga merapikan meja makan bekas tadi pagi. Ia membuat bubur labu, pikirnya siapa tau nanti Najma bangun dan mau makan.
Sebenarnya Ardi kesal dengan Najma tadi pagi, namun semuanya berubah menjadi rasa takut, rasa bersalah, rasa iba, dan ikut sakit melihat istri tercintanya terbaring lemah seperti itu.
Ardi kembali ke kamar, ia memeriksa Najma kembali, rupanya sudah agak turun demamnya. Lalu ia menyusul Najma tidur di sampingnya.
.
Tengah malam Najma terbangun, ia silau dengan sinar lampu, karena ia ingat tadi belum menyalakan lampu. Ia terkejut melihat infus menggantung di dinding dan terhubung pada tangannya. Bajunya sudah ganti dengan baju tipis yang biasanya ia pakai untuk menghabiskan malam indah dengan Ardi, ia merasa malu melihat tubuhnya sendiri, dan Ardi terlelap di sampingnya, 'Pasti mas Ardi yang melakukan itu semua,' batin Najma.
"Mas..." lirihnya. Dengan tangannya yang masih bebas, ia belai lembut pipi suaminya, yang membuat sang empunya terbangun.
"Kamu bangun," Ardi sedikit bangkit, dengan setengah duduk, ia menyentuh dahi Najma dengan punggung tangannya.
__ADS_1
"Alhamdulillah sudah turun demamnya, kamu tidur lagi ya," ucap Ardi.
Najma menggeleng menatap wajah Ardi, lalu bulir-bulir air matanya lolos lagi.
"Kenapa?"
"Maaf.." ucap Najma.
"Kamu mau makan? Aku bikin bubur labu tadi, aku ambilin ya.."
Najma mengangguk, Ardi segera bangkit untuk ke dapur mengambilkan bubur yang masih ada di panci tadi. Kemudian kembali lagi ke kamar dan menyuapi Najma. Dia diam saja, hanya fokus menyuapi Najma, dan itu makin membuat Najma merasa bersalah.
Setelah selesai menyuapi Najma dan memberinya minum, Ardi beranjak dari kasur lagi hendak mengembalikan mangkuk bekas makan Najma.
"Mas," panggil Najma.
"Mau apa?" tanya Ardi.
"Aku pengen ke kamar mandi," sahut Najma. Ardi menaruh mangkuk di meja dekat sofa dan segera mendekat untuk membantu Najma berdiri lalu memapahnya ke kamar mandi.
"Kamu mau apa?" tanya Ardi sesampainya di kamar mandi.
"Pee," sahut Najma.
Dengan telaten Ardi membantunya sampai selesai dan membawa Najma ke kasur lagi.
"Mas aku mau ini dilepas aja, aku udah ga papa," pinta Najma sambil menunjuk infus yang menancap di tangannya, karena dia merasa kesulitan bergerak.
Ardi juga sudah melihat Najma baikan, akhirnya ia menuruti permintaan Najma, dan mencabut infus dari tangan Najma, kemudian menutup lukanya dengan plester.
"Mas aku mau ngomong tentang masalah yang tadi,"
__ADS_1
"Besok saja, aku sangat lelah, kita tidur saja," ucap Ardi sambil mematikan lampu kamar. Ardi langsung berbaring di samping Najma.