
Sabrina memejamkan matanya, dia sangat lelah dalam perjalanan ini, dia tidur sebenarnya memaksa dirinya untuk tidur, karena di sepanjang perjalanan, yang duduk di jok belakang saling memanggil sayang, babe, atau apalah, Sabrina tidak ingin mendengarkan itu.
Sebenarnya baik Najma maupun Ardi tidak secara sengaja menunjukkan sikap romantis mereka, memang seperti itu keseharian mereka, memanggil sayang, babe, baby, saling menggenggam tangan, berpelukan, namun tidak sampai berciuman jika ada orang lain.
Najma juga terlelap dalam pelukan Ardi, sedangkan Ardi terjaga menemani Arif yang sedang menyetir.
"Ngantuk Rif?" tanya Ardi.
"Nggak Mas," sahut Arif.
"Istirahat dulu di rest area kalau kamu ngantuk atau capek, kita ga buru-buru kok," ucap Ardi.
"Baik Mas Ardi, rest area depan ya kita berhenti dulu, mau ke kamar mandi,"
"Oke," sahut Ardi.
Sejenak kemudian mereka sampai di rest area tol, Arif memarkirkan mobil milik Najma itu.
"Mas, saya ke kamar mandi dulu," ucap Arif yang keluar mobil, mungkin sudah kebelet kali, Ardi tersenyum saja melihat sepupunya.
"Babe, kita lagi istirahat, kamu mau ke kamar mandi?" tanya Ardi. Sebenarnya iya, Najma ingin ke kamar mandi, namun tidak mau meninggalkan Sabrina berduaan dengan suaminya. Diajak aja kali ya ..
"Hmm iya Mas, tapi Mas anterin ya, dokter Sabrina mau ke toilet?" tanya Najma yang melihat Sabrina sudah bangun.
"Iya," sahut Sabrina.
"Yuk sama-sama," ajak Najma. Mereka bertiga berjalan bersama dengan Najma yang ada di tengah Ardi dan Sabrina.
"Mas, aku sama dokter Sabrina aja ke toilet, Mas pesenin aku nasi sama ayam goreng di restoran ayam itu, kayanya laper deh aku," pinta Najma.
"Oke, nanti kamu nyusul sama Sabrina ya, biar Arif aku chat, sekalian kita makan sama-sama," Ardi pun mengiyakan dan berbelok arah menuju restoran ayam goreng.
__ADS_1
Tinggallah Sabrina dan Najma berjalan beriringan, tegang dan canggung di antara mereka itu pasti. Keduanya merasa berjalan dengan saingannya.
Namun Najma berbesar hati mengajak Sabrina ngobrol duluan, ia merasa lebih percaya diri karena dia sekarang adalah istri sah Ardi Abdurahman Sholih baik di mata hukum atau agama.
"Dokter Sabrina kelihatan capek sekali," ucap Najma.
"Ah iya, aga mabuk kendaraan rasanya, tapi it's okay istirahat sebentar pasti baikan lagi," sahut Sabrina yang sedang menguncir rambut ikalnya.
"Hmm iya," ucap Najma. Keduanya pun berpisah masuk ke dalam bilik toilet masing-masing.
Setelahnya keduanya bertemu kembali di wastafel untuk mencuci tangan.
"Kamu pakai baju tertutup gitu, sampai hanya kelihatan mata saja, apa gak gerah?" tanya Sabrina yang saat itu memakai celana di atas lutut dan kemeja lengan pendek.
"Hmm, Alhamdulillah nggak Dok," sahut Najma.
"Kenapa sih kamu tutup semua, kata kak Ardi kamu cantik, kenapa gak ditunjukkan aja, biar Ardi bisa bangga juga punya istri cantik,"
Ardi yang sudah duduk di kursi restoran bersama Arif, tersenyum-senyum melihat istrinya bisa berbincang dengan Sabrina, iya mereka berdua tampak di luar jendela berbincang sambil berjalan menuju restoran.
Najma menengok ke sana kemari sesampainya di dalam restoran yang cukup ramai itu, dan menemukan Ardi yang melambaikan tangannya.
"Oh itu mereka, yuk kita ke sana," ajak Najma. Sabrina pun mengikuti Najma menuju meja Ardi.
Najma duduk di hadapan Ardi dan Sabrina duduk di samping Najma, berhadapan dengan Arif.
"Babe, udah aku pesenin kesukaan kamu," ucap Ardi.
"Ah iya Mas, jazaakallaahu khayr," ucap Najma.
"Waiyyaki, makan ya, biar baby icha juga kenyang," kata Ardi.
__ADS_1
Najma juga tersenyum, dan mengajak Sabrina dan Arif makan juga. Mereka berempat makan bersama.
"Kak Ardi, nanti turunin aku di pertigaan keluar tol ini ya, aku dijemput sopir di sana," ucap Sabrina.
"Kenapa? Bukannya searah kita nanti," tanya Ardi.
"Ga papa, udah jalan sopirnya, aku turun di sana aja," sahut Sabrina yang dari tadi terlihat murung. Ardi hanya mengiyakan, dia juga memperhatikan Sabrina sebenarnya, namun tidak ingin bertanya lebih lanjut lagi, menjaga jarak dengan Sabrina, juga menjaga perasaan Najma.
Setelah selesai makan dan beristirahat sejenak, mereka melanjutkan perjalanan. Sekitar tiga puluh menit kemudian mereka sampai di pintu keluar tol, dan sesuai permintaan Sabrina, ia turun di sana, ada new Camry warna hitam sudah menunggunya di sana.
"Siapa yang jemput dokter Sabrina Mas?" tanya Najma.
"Ga tau babe, temannya mungkin," sahut Ardi.
"Apa ga nyaman denganku?" tanya Najma.
"Memang kamu apain dia?" tanya Ardi balik.
"Ga aku apa apain kok," jawab Najma.
"Ya udah ga usah dipikirin, sini bobo lagi," ucap Ardi membawa Najma ke dalam pelukannya.
.
.
.
Tak berselang lama mereka tiba juga di rumah. Akbar kecil yang sudah merindukan dua orang yang ia tahu sebagai orang tuanya itu, merengek dan minta gendong mereka. Ardi pun dengan senang hati meraih anak kecil itu dan mengajaknya ke kamar atas.
Mereka bermain hingga seperti biasa ketiduran di atas tempat tidur, Najma yang melihatnya hanya tersenyum ikut bahagia.
__ADS_1