
"Kreek..." terdengar pintu dibuka. Ardi yang baru pulang dari rumah sakit sangat terkejut mendapati istrinya menangis sendirian di kamar.
"Babe... Kamu kenapa? Kok nangis ...hmm," tanya Ardi yang langsung ikut duduk di samping Najma dan memeluknya. Tangisan Najma semakin menjadi.
Ardi berpikir sejenak, mungkin ini yang disebut baby blues syndrom.
Ardi membiarkan Najma menangis hingga puas, ia membelai rambut Najma dan menepuk-nepuk pundaknya. Setelah agak tenang, Najma mulai bercerita. Ia mencurahkan semua yang ada di dalam pikirannya kepada Ardi. Ardi mendengarkan dengan sabar, ia telah bersiap-siap untuk menghadapi hari-hari ini.
"Babe...ga usah dipikirin omongan mereka, mereka ga tau aja kehebatan kamu, kamu seorang pengusaha sukses, kamu juga seorang Hafidzah, penghafal Al-Qur'an, kita sama-sama tahu beratnya proses menghafal itu, dan yang paling penting kamu sudah melahirkan anakku," kata Ardi membujuk Najma.
"Tapi lihat tubuhku Mas, perut aku buncit, Mas pasti ...." belum selesai Najma bicara, Ardi menghentikannya.
"Ssst....sudah babe, jangan pikirkan itu, bagi aku kamu tetap wanita tercantik di dunia, pikirkan saja sekarang gimana bisa menyusui baby Icha, dia sangat membutuhkan kamu, nanti kalau baby Icha sudah bisa makan, aku temani kamu berolahraga," ucap Ardi.
"Allah menitipkan rezeki baby Icha padamu, lewat asi kamu, tuh lihat tumpah-tumpah," Ardi menunjuk dada Najma yang basah karena asi sudah sangat banyak keluar dengan sendirinya.
"Ah...iya, baby Icha," lirih Najma.
"Aku bawa dia masuk ya, dia pasti sangat ingin menyusu Ummanya,"
"Iya Mas, aku ganti baju dulu," ucap Najma setelah pikirannya tenang kembali.
Ardi keluar dari kamar dan mengambil baby Icha yang ada di kereta bayi, yang ternyata mama Hamida telah lama menunggu Ardi keluar kamar.
"Gimana Ar?" tanya Hamida setengah berbisik menanyakan keadaan menantunya.
"Sudah Ma, sudah tenang, baby Icha aku bawa masuk ya," sahut Ardi.
"Iya Ar, sudah haus banget anak ini," ucap Hamida.
Ardi menggendong bayi kecil itu dan menidurkannya di pangkuan Najma yang telah berganti pakaian. Najma sudah tersenyum kembali. Ardi melipat lengan bajunya dan mulai bersih-bersih kamar, memungut tissue bekas yang berserakan di lantai, mengelap meja dan menata bantal di sofa.
"Mas, biar aku aja yang bersihkan nanti," ucap Najma.
"Ga pa pa babe, kamu sudah melewati hari yang berat hari ini," sahut Ardi.
"Kamu kalau aku ga ada, kamu bisa ceritakan ke Mama, jangan dipendam sendirian, ga pa pa cerita ke mama, mama juga sudah berpengalaman," lanjut Ardi.
"Iya Mas," sahut Najma.
__ADS_1
"Aku mandi dulu ya, sebentar lagi Maghrib," ucap Ardi.
"Hmm iya," sahut Najma.
Ardi telah menghilang di balik pintu kamar mandi. Baby Icha sudah terlelap, dan Najma menidurkannya di box bayi.
Najma mengambil pakaian ganti untuk Ardi. Ia mengetuk pintu kamar mandi.
"Tok...tok...tok..."
"Mas...Mas Ardi," panggil Najma, namun tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi. Najma membuka pintu, dan benar saja sang suami tengah mengguyur tubuhnya di bawah pancuran air shower, sehingga tidak mendengar panggilan Najma.
"Hmm...ma syaa Allah sexynya suamiku..." lirih Najma. Ia meletakkan baju ganti di atas meja wastafel, kemudian kembali ke kamar.
Tak lama kemudian, Ardi keluar kamar mandi dengan memakai baju yang telah Najma siapkan untuknya.
"Kita turun yuk, bentar lagi adzan Maghrib, aku mau ke masjid," ajak Ardi.
Najma tersenyum dan mengangguk, kemudian menggendong baby Icha dan mengikuti Ardi ke lantai bawah.
Di ruang tengah, si gembul Akbar melompat kegirangan menghampiri Najma dan Ardi. Anak kecil itu sangat menyayangi keduanya.
"Baba Umma... Baba Umma..." celoteh Akbar.
Najma menyerahkan baby Icha pada mama Hamida. Dan ikut memeluk dan mencium Akbar dalam gendongan Ardi. Ia tidak mau Akbar kurang kasih sayang semenjak adiknya lahir.
Adzan Maghrib berkumandang, Ardi dan Akbar pergi ke masjid untuk sholat berjamaah.
*
*
*
Pagi hari setelah sarapan, Ardi pamit ke rumah sakit untuk bekerja. Hari ini ada rapat komite medik di rumah sakit umum.
"Assalamualaikum Dok," sapa seseorang yang berjalan di belakang Ardi ketika turun dari mobilnya.
"Waalaikumussalam," sahut Ardi seraya menoleh ke belakang. Dan betapa terkejutnya karena ternyata yang memanggilnya adalah dokter Akbar juniornya ketika kuliah di kedokteran dulu.
__ADS_1
"Dokter Akbar?" tanya Ardi memastikan kembali.
"Iya, ini aku Bang," sahut dokter Akbar.
"Hey...apa kabar? Kok bisa disini? Eh jangan-jangan kamu dokter baru yang mau dikenalkan di rapat komite medik nanti?" Ardi melontarkan berbagai pertanyaan yang muncul di benaknya.
"Satu-satu dong tanyanya," ucap Dokter Akbar.
"Eh iya maaf," Ardi terkekeh jadinya.
"Kabar aku baik Bang, ga pa pa kan kalau lagi berdua gini aku panggil Abang?"
"Ga pa pa Akbar, kita juga teman lama kan,"
"Dan iya, aku dokter baru yang akan membantu Bang Ardi, aku sekarang dokter spesialis bedah syaraf yang baru ditugaskan di rumah sakit ini," sahut dokter Akbar.
"Ma syaa Allah, Alhamdulillah, berarti kamu juga kenal sama Sabrina, eh kalian seangkatan kan?"
"Iya Bang, kita satu angkatan, tapi aku ambil spesialisnya ga satu kampus dengan kalian," sahut dokter Akbar, dan mereka berdua masuk ke dalam rumah sakit bersamaan.
"Eh iya, kamu belum ada tempat istirahat kan, di ruanganku aja, masih ada satu meja kosong,"
"Boleh Bang, lagian aku belum kenal siapapun di rumah sakit ini," ucap dokter Akbar.
"Alhamdulillah, aku senang akhirnya nambah teman lagi, selama ini aku sendirian, sekarang ada teman jadi ga seberat dulu," tutur Ardi.
"Duitnya juga terbagi Bang, hahaha," canda dokter Akbar.
"Hahaha iya, tapi namanya rezeki sudah tertakar dan tidak pernah tertukar," sahut Ardi.
Mereka berdua akhirnya sampai di ruang pertemuan, seluruh dokter yang sedang tidak bertugas di poliklinik dan IGD berkumpul di sana.
Dan di dalam rapat itu dokter Akbar memperkenalkan diri. Selain itu, dalam rapat itu dokter Thamrin selalu direktur rumah sakit juga berpamitan, karena mulai besok beliau sudah pensiun. Seluruh anggota komite terkejut, pasalnya belum ada kabar siapa yang bakal menggantikan posisi direktur rumah sakit itu.
Juga ada rolling beberapa kepala instalasi, termasuk Ardi juga mendapat surat tugas baru.
Dokter Akbar yang baru bekerja hari itu, ditugaskan menjadi kepala instalasi bedah sentral menggantikan posisi Ardi selama ini.
"Bang, ini beneran aku langsung menjabat kepala instalasi bedah sentral?" bisik dokter Akbar pada Ardi yang duduk di sampingnya dan menyodorkan surat tugas yang baru diberikan oleh kepala kepegawaian.
__ADS_1
Ardi meraih surat tugas dokter Akbar dan terkejut karena jabatannya selama ini berpindah ke dokter Akbar. Lalu surat tugas miliknya...apa isinya? Akan dipindahkan kemana dia...Ardi pun masih bingung dan belum membuka surat tugasnya...