Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Ditembak


__ADS_3

Ardi terlihat sedang berbincang dengan koleganya, mereka terlihat serius dan kadang juga bercanda hingga tertawa. Najma sesekali melihat suaminya. Begitu juga Ardi sesekali melirik ke arah Najma.


Dan tiba acara makan bersama, Ardi berdiri dan pamit mau pindah meja.


"Oke teman-teman semua, selamat menikmati makan malamnya, saya mau pamit," ucap Ardi.


"Mau kemana Dok?" tanya salah satu dokter wanita.


"Mau pindah meja, ke situ tuh, nemenin istri saya," ucap Ardi seraya menunjuk ke arah Najma. Dan semua bagai diperintah serempak menengok ke arah Najma yang asyik makan sendiri.


"Oh bawa istri .." tukas salah satu rekan Ardi.


"Honey moon nih ceritanya..." celetuk yang lain.


"Baby moon tepatnya, dia sedang mengandung anak pertama kami," ucap Ardi kemudian pindah duduk di hadapan Najma.


Najma terkejut Ardi sudah di depannya.


"Mas," ucapnya. Ardi hanya tersenyum.


"Nyonya Ardi," panggil salah satu dokter rekan Ardi.


Najma menengok ke arah mereka dan tersenyum, gimana terlihat senyumnya kan ditutup cadar Thor... kelihatan kok dari matanya pas senyum.


"Mas kok di sini," ucap Najma.


"Iya, mau temani kamu," sahut Ardi.


"Emang ga papa?"


"Ga papa lagi, toh acaranya kan juga makan-makan doang sayang, bentar ya aku mau pesan makanan, terus mau ke toilet sekalian," pamit Ardi. Najma hanya mengangguk mengiyakan.


Saat Ardi ke toilet, ada seorang gadis mengikuti dan menunggu di depan pintu toilet laki-laki. Gadis itu menunggu dengan gusar. Telapak tangannya pun basah oleh keringat lantaran gugup.


Ardi keluar dari toilet dan terkejut ada seorang gadis di situ.


"Dokter Ardi .." panggil gadis itu.

__ADS_1


"Iya dokter Sabrina," sahut Ardi, iya gadis yang menunggu Ardi adalah dokter Sabrina, junior Ardi waktu mengambil spesialis bedah syaraf dahulu.


"E... Maaf, bisa kita bicara sebentar?" tanya Sabrina.


"Bisa, tapi bagaimana kalau kita ke sana saja?" tanya Ardi sambil menunjuk ke arah tempat makan tadi, karena khawatir bisa menjadi fitnah lantaran berduaan di situ.


"Di sini saja Dok, sebentar saja, saya ga akan ngapa-ngapain, cuma pengen ngomong sebentar," Sabrina mencegah Ardi pergi.


Ardi terdiam sejenak, berpikir bagaimana akibatnya nanti jika ia berduaan di sini, namun Ardi melihat cctv di sudut atap yang mengarah ke mereka.


"Oke, silakan bicara," ucap Ardi dengan tetap menundukkan pandangan, apalagi Sabrina tidak menutup auratnya dengan jilbab dan pakaian muslim.


"Kak Ardi..." ucap Dokter Sabrina.


Ardi membelalakkan matanya, dia terkejut mendengar dokter Sabrina memanggilnya Kak seperti waktu kuliah dulu.


"Ini buat kak Ardi, aku sebelum ke seminar ini baru pulang dari Eropa, ini dalamnya coklat Belgia, dan aku mau bilang kalau aku suka dengan kak Ardi," ucap dokter Sabrina dengan gugup.


"Apa?" Ardi seakan tidak percaya dengan yang didengarnya, perasaan barusan ia mengenalkan istrinya di depan semua peserta dan panitia seminar.


"Tapi kamu tadi tau sendiri, aku sudah menikah, dan kami akan segera punya anak," ucap Ardi.


"Iya aku tahu, tapi aku juga tidak bisa menahan perasaan aku ke kakak, walaupun kak Ardi tidak bisa menerima perasaan aku, aku bisa lega telah mengungkapkan semuanya, bahwa aku suka kak Ardi, aku sangat menyukai kak Ardi, bahkan bisa dibilang cinta,"


Entah mengapa, Ardi sedikit goyah, dulu Ardi juga punya perasaan suka dengan Sabrina, namun ia masih belum mau menikah, karena fokus dengan pendidikannya. Kalau pacaran? Tentu saja tidak, Ardi sangat tahu pacaran bisa jadi sumber dosa.


"Maaf Sabrina, aku menghargai perasaan kamu padaku, tapi kamu pasti tahu apa jawaban aku, iya ... aku tidak bisa membalasnya, ada hati yang harus aku jaga,"


"Kalau misalnya kak Ardi belum menikah, apa ada kesempatan buat kita?"


"Entahlah, tapi aku tidak mau memikirkan hal itu, bagiku sekarang adalah kebahagiaan keluarga kecilku,"


"Baiklah kak, aku mengerti, toh mencintai bukan harus memiliki, tapi coklatnya jangan ditolak ya plis,"


"Baik, aku terima coklatnya ya, makasih aku kembali dulu," ucap Ardi dan akan beranjak dari sana.


"Sebentar kak, satu lagi," Ardi memutar tubuhnya kembali.

__ADS_1


"Kalau suatu saat, kakak ingin poligami, aku mau jadi istri kedua kakak, tolong pertimbangkan," ucap Sabrina bersungguh-sungguh.


'Astaga...apa lagi ini ... kenapa ngotot banget sih Sabrina...' batin Ardi.


"Kamu gadis yang baik, aku tahu itu, pasti banyak lelaki yang akan berebut mendapatkan kamu, menikahlah,"


Sabrina menggeleng..


"Nggak kak, aku nunggu kak Ardi aja, aku tahu kak Ardi tidak mau berpacaran, apalagi selingkuh, maka dari itu aku ingin menikah dengan kakak jadi yang kedua," Sabrina tetap kokoh dengan pendiriannya. Ardi membuang nafas dengan berat.


"Aku pergi dulu kak, jangan lupa dimakan coklatnya," ucap Sabrina kemudian meninggalkan restoran itu.


Ardi masih berdiri terpaku di sana, hatinya terasa bergetar mendengar ucapan Sabrina tadi, dulu juga pernah bahkan sering ia ditembak cewek, tapi itu bukan Sabrina. Ardi jadi teringat masa mudanya dulu, sering berkumpul bersama Sabrina walau tidak berduaan.


"Drrrt..drrrtt..." ponsel di saku celananya bergetar.


"Mas, kok lama, kenapa? Mas sakit?" tanya yang di seberang yaitu Najma.


"Nggak.. aku ga papa, sebentar aku ke sana," Ardi segera memasukkan hadiah dari Sabrina ke saku jaketnya dan kembali ke meja Najma.


"Mas ga laper apa? Makan gih, keburu dingin nanti," ucap Najma.


"Ah iya..." Ardi sedikit gugup, namun sepertinya Najma tidak menyadarinya.


.


.


Ardi dan Najma kembali ke hotel setelah makan malam.


"Ganti baju Mas, Mas bersih-bersih dulu gih, aku mau nelpon mama sebentar," ucap Najma.


"Ada apa telpon Mama?" tanya Ardi.


"Ga papa, kangen aja, aku uda ga ada Ibu, jadi aku mau telpon Mama," ucap Najma dengan senyuman. Melihat itu Ardi bertambah terenyuh. Ia langsung berganti baju masuk kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi.


'Astaghfirullaah...apa yang kamu pikirkan Ardi, kenapa perasaan kamu goyah dengan pernyataan Sabrina tadi, ingat ada Najma istri kamu yang sedang mengandung buah cintamu, bagaimana perasaan dia ketika tahu hatimu telah goyah, come on Ardi, kembali fokus pada pernikahanmu dengan Najma, jangan sampai kamu menyakitinya...' Ardi menatap wajahnya dalam cermin, kira-kira itulah yang ingin dia katakan pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2