Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Dokter Bedah Syaraf Baru


__ADS_3

"Tok...tok...tok..." Ardi mengetuk pintu ruang direktur setelah visit pasien pagi. Ia mendapat pesan dari direktur untuk menghadap pagi ini. Ardi berulang kali menghirup dan membuang nafas, agar dia tidak tegang, pasalnya dia juga belum tahu, mengapa ia diminta menghadap direktur pagi ini.


"Masuk..." sahut dokter Thamrin selaku direktur rumah sakit umum. Ardi membuka pintu itu kemudian masuk ke dalam ruangan itu. Dia terkejut karena ada seseorang yang sangat dikenalnya.


"Dokter memanggil saya?" tanya Ardi.


"Iya, silakan duduk Dokter Ardi," ucap dokter Thamrin. Ardi duduk di sofa berhadapan dengan dokter Sabrina dan dokter Thamrin ada di antara mereka.


"Ini, kita ada Dokter spesialis bedah syaraf baru di rumah sakit kita, ini dokter Sabrina, mungkin kalian sudah saling kenal," ucap dokter Thamrin.


"Iya, kami sudah kenal cukup lama, dokter Ardi ini senior saya dari kuliah kedokteran sampai saya ambil spesialis bedah syaraf juga ngikutin dokter Ardi," sahut dokter Sabrina.


"Eh iya Dok, begitulah, tapi saya sangat bersyukur, tidak sendiri lagi, sudah ada teman, jadi kalau saya ada udzur tidak begitu khawatir lagi seperti dulu," ucap Ardi.


"Memangnya mau kemana Dokter Ardi?" tanya dokter Thamrin.


"Ya honey moon Dok, istri saya belum pernah saya ajak liburan,"


"Hahaha iya iya.. tapi nunggu bulan depan ya, dokter Sabrina mulai bekerja bulan depan, ini tadi niatnya ngenalin kalian, eh malah kalian sudah kenal lama, baiklah oke dokter Sabrina bisa meninggalkan kami dulu, selamat bekerja bulan depan semoga semua dimudahkan," ucap dokter Thamrin.


"Baik Dok," ucap Sabrina, kemudian meninggalkan mereka berdua.


"Begini dokter Ardi," ucap dokter Thamrin ketika dokter Sabrina sudah meninggalkan ruangan itu.


"Saya lihat anda dan dokter Sabrina kenal baik, apa dokter Ardi tahu dokter Sabrina itu sudah ada calon suami atau belum?" tanya dokter Thamrin.


"Sepertinya belum ada Dok," jawab Ardi.


"Oke, baiklah... sejujurnya saya ingin menjodohkannya dengan anak saya," ucap dokter Thamrin.


"Ah begitu, dengan dokter Tino?"tanya Ardi menyebutkan nama putra sulung dokter Thamrin.


"Oh, bukan, Berliantino sudah tunangan, sebentar lagi menikah, dengan Emeraldo, iya dokter Aldo, saya rasa mereka cocok, orang tua dokter Sabrina juga bukan orang sembarangan, saya mengenalnya," tutur dokter Thamrin.


.


.

__ADS_1


.


Ardi kembali ke kesibukannya, dia pergi ke poli klinik untuk janji temu dengan pasien rawat jalan.


Kedatangan Sabrina di kota ini terlebih di rumah sakit yang sama dengan Ardi, tidak begitu mempengaruhi Ardi. Ia merasa bersyukur ada rekan seprofesi yang akan bekerja bersamanya, bebannya sedikit terangkat, ketika dia tidak di tempat, ada dokter lain yang akan menolong pasien dengan kasus bedah syaraf. Pasien tidak perlu lagi di rujuk ke kota lain.


Namun Ardi sedikit merasa takut, jika Najma yang merasa tidak nyaman atau merasa cemburu jika tahu dokter yang akan menjadi partner kerjanya adalah dokter Sabrina.


Adzan dhuhur berkumandang, Ardi segera menyelesaikan pekerjaannya, dan menuju masjid rumah sakit. Siang itu imam yang biasa memimpin sholat berhalangan, dan ia diminta oleh takmir masjid untuk memimpin sholat, di rumah sakit itu siapa yang tidak tahu seorang dokter Ardi Abdurahman Sholih juga hafidz.


Selepas sholat, Ardi yang masih berseragam ruang bedah itu duduk di tepi teras masjid hendak memakai sepatu.


"Assalamualaikum dokter Ardi," sapa seseorang yang duduk juga di samping Ardi.


"Waalaikumussalam," sahut Ardi ia menoleh ke sumber suara dan sedikit terkejut melihatnya.


"Om Indra, sedang apa di sini?" tanya Ardi kepada orang yang tidak lain adalah om nya Najma.


"Itu biasalah, antar tantemu kontrol," sahut Indra.


"Oh iya, bagaimana perkembangan Tante Samira Om?" tanya Ardi.


"Alhamdulillah, sekarang Tante Samira dimana Om?"


"Tadi om suruh tunggu di kantin, sekalian makan siang, Alhamdulillah tangan kanannya tidak begitu kaku sudah bisa makan sendiri dan menulis walau tulisannya belum begitu bagus,"


"Oh, ma syaa Allah, habis ini om dan Tante mau kemana?" tanya Ardi.


"Langsung pulang sepertinya," sahut Indra.


"Izinkan saya mengantar om dan tante ya,"


"Tidak usah nak, kamu pasti sibuk, biar kami naik taksi online saja,"


"Oh nggak om, pekerjaan saya sudah selesai, ini rencananya juga mau pulang, om tunggu di pintu keluar rawat jalan ya, saya ganti baju dulu nanti kita ketemu di sana, ya om ya," ucap Ardi segera beranjak dari sana, mau tak mau Indra menyetujuinya.


Di dalam mobil, Indra duduk di sebelah Ardi yang mengemudi, sedangkan Samira duduk di bangku penumpang belakang, Samira sangat senang bisa bertemu Ardi.

__ADS_1


"Om, Tante, saya minta maaf ya, sudah lama saya dan Najma tidak berkunjung ke rumah om dan tante," ucap Ardi.


"Gak papa nak, kami tahu kalian pasti sibuk, apalagi ada Akbar juga kan," ucap Samira.


"Iya Tante, ini misalnya kita mampir rumah saya dulu bagaimana om, Tante?" tanya Ardi.


"Boleh boleh, om kangen juga dengan Najma dan Akbar," sahut Indra. Maka Ardi membawa mobilnya menuju rumahnya dahulu sebelum mengantar Indra dan Samira pulang.


Mereka bertiga sampai di rumah, Ardi mempersilahkan Samira dan Indra masuk dan beristirahat di ruang tengah, Bu Ani menyambut mereka.


"Najma kemana Bu?" tanya Ardi pada Bu Ani.


"Masih di atas Mas," sahut Bu Ani.


"Oh begitu, kalau Akbar?"


"Main sama Bu Tami ke rumah mas Arya," jawab Bu Ani yang tengah membuatkan minum untuk tamu yang datang siang itu.


"Baiklah, sebentar ya om, Tante, saya panggilkan Najma di atas," ucap Ardi dan segera ke lantai atas.


"Babe..." panggil Ardi ketika membuka pintu kamar.


"Mas sudah pulang? Ga ada operasi kah?" tanya Najma yang tengah menata pakaian Ardi yang baru disetrikanya ke dalam lemari.


"Aku kan kangen sama kamu," ucap Ardi yang memeluk Najma dari belakang dan membelai perut buncit Najma. Ardi menyandarkan dagunya pada pundak Najma, dan Najma membelai rambut Ardi.


"Ga ada operasi?" tanya Najma.


"Ga ada siang ini, tapi nanti malam in syaa Allah ada operasi di rumah sakit Airlangga," ucap Ardi.


"Kamu sexy banget pakai daster mini," ucap Ardi, karena Najma memang memakai daster tipis di atas lutut.


"Ganti gih pakai gamis dan jilbab, ada tamu di bawah," lanjutnya.


"Siapa Mas?" tanya Najma.


"Udah, pokoknya sekarang ganti baju, pakai jilbab, aku ambil Akbar dulu di rumah mas Arya, oke... langsung turun ya kamu," ucap Ardi yang melepaskan pelukannya dan berlari keluar kamar.

__ADS_1


"Mas... tunggu.... siapa sih tamunya," ucap Najma, namun Ardi sudah tidak terlihat lagi.


__ADS_2