
Sesampainya di rumah, Ardi terkejut karena Najma dan Akbar sudah ada di rumah. Najma sedang mengajak Akbar bermain dan berbicara.
"Assalamualaikum, Babe kalian sudah di rumah..."
"Waalaikumussalam, iya Baba, kita udah pulang, habisnya aku rewel terus di toko minta pulang," ucap Najma merubah suaranya seperti bayi.
"Oke, aku bersihin diri dulu, kalian tunggu di sini ya," sebenarnya ia gemas ingin segera memeluk Najma juga Akbar, namun ia merasa tubuhnya masih kotor banyak kuman karena habis dari rumah sakit.
Najma tersenyum mengangguk kemudian kembali lagi bermain bersama Akbar, meskipun si bayi masih merespon dengan hanya melihat atau tersenyum sedikit, Najma tetap mengajaknya bicara.
Ardi segera masuk kamar mandi, menyegarkan dirinya di bawah pancuran shower air dingin. Setelah itu ia keluar kamar mandi dan memakai celana yang telah disediakan Najma sebelumnya.
Ardi duduk di kursi depan meja rias, mengeringkan rambutnya yang basah, saat hendak memakai losion, pandangannya teralihkan kepada kotak persegi panjang berwarna navy di dekat jajaran skin care miliknya dan Najma.
Kotak navy itu, berhiaskan pita silver dan bunga kecil warna senada, di bawahnya terdapat kartu warna beige bertuliskan.. "Untuk Baba..."
Ardi membuka kotak itu, ada surat di dalamnya..
"Bismillah...
Baba in syaa Allah Abang Akbar mau punya adik..."
Ardi belum ngeh apa yang dibacanya kemudian ia mengorek isi kotak yang tertutup remahan kertas. Dan menemukan stik tes kehamilan dengan dua garis pink tertera di sana..
Ardi menutup mulutnya yang menganga dengan tangan kirinya. Matanya membulat memandangi stik kehamilan di tangan kanannya.
Najma membuka pintu kamar dengan baby A dalam gendongannya. Melihat Ardi yang tengah terkejut.
"Mas ..." ucapnya.
"Ini...." Ardi tidak sanggup meneruskan pertanyaannya. Namun Najma paham bahwa suaminya mempertanyakan kebenaran kehamilannya. Najma tersenyum dan mengangguk.
Ardi menarik Najma dan baby A dalam pelukannya. Ia menangis... menangis bahagia.
"Allahu Akbar... Alhamdulillahiladzi bini'matihi tatimussolihaat..." ucapnya.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah... makasih babe...makasih..." lanjut Ardi. Najma hanya tersenyum, ia juga menjatuhkan kepalanya dalam pelukan Ardi. Aroma sabun mandi dan losion maskulin dari tubuh Ardi menjadi candu untuk menenangkan hatinya.
"Oaaaaa ....!!!" tiba-tiba baby A menangis, mungkin kejepit di antara pelukan kedua orang tuanya.
Najma dan Ardi saling merenggangkan pelukannya dan tertawa. Ah iya ada bayi di tengah kita... pikir mereka berdua.
Najma menidurkan baby A di atas kasur dan mereka berdua kembali berpelukan di samping tempat tidur.
__ADS_1
"Mas senang?" tanya Najma.
"Iyalah... akhirnya Allah izinkan juga kamu mengandung anakku," sahut Ardi seraya mengelus perut Najma yang masih rata.
"Hey...kamu demen banget dipeluk,"
"Iyalah... Mas wangi giniii," ucap Najma sambil terus menghirup aroma tubuh Ardi, dan Ardi tersenyum-senyum dibuatnya.
"Mba Sarah sudah tau kamu hamil?" tanya Ardi. Najma mendongakkan kepalanya hingga bisa melihat wajah tampan Ardi.
"Hmm, iyalah, pas aku cek, aku takut Mas, ini hamil beneran apa nggak, ya aku ke tempat Mba Sarah, diperiksa dan USG, iya ada janinnya di perut aku, mau lihat fotonya?"
"Iya, mana?" Ardi tidak sabar melihat foto USG janin mereka.
"Tunggu aku masih ingin begini," ucap Najma sambil kembali menenggelamkan kepalanya di dada bidang Ardi.
"Ah baby ... sekarang aku tahu kenapa kamu gak siapkan baju atasan untuk ganti aku tadi, ternyata ini," Ardi tersenyum lebar kembali sambil membelai rambut panjang Najma.
"Hihihi... ketahuan..." ucap Najma yang memerah pipinya.
"Gapapa sesuka kamu aja babe, nanti setiap di rumah, aku ga akan pakai baju atasan, biar kamu bisa cium sepuasnya," ucap Ardi.
"Jangan Mas, yang ada masuk angin, lagian ada Bu Ani dan Fifi nanti, kan ga rela Mas ikut dipandang mereka," gerutu Najma.
"Mama papa sudah tahu belum?" tanya Ardi.
"Aku belum kasih tahu, ga tahu kalau Mba Sarah kasih tahu beliau berdua," sahut Najma.
"Ya udah, nanti malam Mas Arya ngundang kita sama mama papa ke rumah mereka buat makan malam, kita kabarin aja nanti,"
"Baiklah Mas, Mas istirahat dulu, aku mau siapkan baju Mas, bentar lagi Maghrib," ucap Najma yang akhirnya melepaskan pelukannya.
Ardi merebahkan diri di samping baby A yang terlelap kembali.
.
.
Malam hari selepas Isya, seluruh keluarga berkumpul di rumah Arya, Najma dan Ardi yang menggendong baby A juga datang lewat pintu belakang rumah mereka yang berbatasan langsung dengan halaman belakang rumah Arya dan Sarah.
"Assalamualaikum," sapa Ardi dan Najma ketika masuk lewat pintu samping rumah yang langsung menuju ruang tengah.
"Waalaikumussalam," jawab Arya dan Rahman yang sedang berbincang. Najma menyalami Rahman, dan Ardi menyalami Arya kemudian Rahman.
__ADS_1
"Sehat Ama, sini cucu opa, biar opa gendong, opa kengen," ucap Rahman.
"Alhamdulillah Pa, saya ke dapur dulu ya, bantuin mama sama mba Sarah, Akbar sama opa ya sayang," ucap Najma sambil menyerahkan baby A ke pangkuan Rahman.
Ardi duduk di samping Arya, walaupun rumah mereka dekat, namun mereka cukup jarang bertemu, keduanya sama-sama sibuk.
"Mas, tumben nih undang makan bersama, ada apa nih?" tanya Ardi pada Arya.
"Ga ada pengen aja makan bersama semuanya, kalau ga gitu kamu ga main ke sini," sahut Arya.
Di dapur, Sarah dan Hamida dibantu asisten rumah tangga Sarah sedang menyiapkan makan malam.
"Mah..." ucap Najma kemudian mencium punggung tangan mertuanya.
"Sehat Ama," sapa Hamida.
"Alhamdulillah," sahut Najma.
"Gimana ada keluhan?" tanya Sarah. Najma tersenyum dan menggeleng, Hamida mengira bahwa Sarah menanyakan tentang proses program hamil Najma.
"Masak apa Mba?" tanya Najma.
"Ga masak, seperti biasa, bawa dari restoran, kesukaan kamu semuanya nih, eh panggil para lelaki, udah siap semuanya nih," pinta Sarah pada Najma.
Najma segera ke ruang tengah memanggil para pria.
Mereka makan bersama di meja makan, Salma dan baby A ditidurkan di kamar ditemani pengasuh Salma.
"Paling tidak sebulan sekali gitu papa pengen makan bersama kalian," ucap Rahman.
"Iya Pa, in syaa Allah habis ini ke rumahku, atau aku traktir makan di restoran mas Arya," ucap Ardi.
"Iya Pa, sebentar lagi in syaa Allah aku buka cabang ketiga, tapi khusus masakan Jawa," ucap Arya.
"Alhamdulillah, jadi ada berita bagus juga malam ini," ucap Hamida.
"Bukan itu aja Ma, sebentar lagi Mama sama Papa nambah cucu, saya hamil lagi," ucap Sarah.
Najma dan Ardi sama terkejutnya dengan Hamida dan Rahman.
"Alhamdulillah... cucuku tambah satu lagi," ucap Hamida penuh syukur.
"Bukan satu Ma, in syaa Allah dua, Najma juga hamil," ucap Ardi.
__ADS_1
"Alhamdulillah... ma syaa Allah...."