Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Ngurusin Najma


__ADS_3

"Aku sudah mengetahui bagaimana ceritamu dulu, banyak pacar, suka gonta-ganti pacar, aku juga sebenarnya dulu waktu menerima Mas, aku juga terima masa lalu Mas, tapi dengan hadirnya mereka tadi, aku jadi bertanya-tanya, berapa gadis yang pernah berhubungan denganmu? Yang mana saja? Dan mereka terlihat cantik-cantik,"


"Berhubungan?" tanya Yudha. Qumil mengangguk.


"Semuanya pernah berhubungan denganku," sahut Yudha.


"Lalu kenapa tidak bertanggung jawab dan menikahi mereka?"


"Hah menikah?" Yudha tidak mengerti.


"Iya menikah," sahut Qumil. Ardi berpikir sejenak.


"Hahaha ..wait, kamu pikir berhubungan itu berarti berhubungan...badan?" tanya Yudha setelah tertawa. Dan membuat Qumil bingung.


"Aku ga sebejat itu Dek, sampai meniduri banyak wanita, kalau aku sembarang menabur benih Airlangga kesana sini, bisa dibunuh papaku, nggak...aku hanya bersenang-senang dengan mereka, pergi makan, belanjain mereka, dan mereka senang karena dapat uangku.. itu saja, demi Allah aku masih perjaka sampai sekarang," tutur Ardi.


"Mas ga pernah serius sama mereka?" tanya Qumil.


"Tentu saja aku jalani dengan serius dan tulus, tapi begitu mereka mengajak check-in ke hotel, aku menolaknya, besoknya aku diputusin, katanya ga asyik, aku ga peduli, aku lebih suka wanita yang menjaga marwahnya, iya kalau dia cuma berhubungan dengan aku, kalau besoknya dia sama lelaki lain, aku ga tau kan, ga sama dia dua puluh empat jam, terus dia hamil anak orang, tapi minta tanggung jawabnya sama aku, bisa berabe, dibunuhlah lagi aku sama papa, selama ini aku berat mengemban nama Airlangga, aku putra tunggal, bukan hanya kemajuan rumah sakit di pundak ku, namun nama baik keluarga juga,"


"Ehm... maaf mas, aku sudah berprasangka buruk terhadap Mas Yudha," ucap Qumil sambil menunduk.


"Ga papa, udah biasa kaya gitu, orang berpikiran aku anak orang kaya yang manja dan mengandalkan harta orang tua, tapi aku gak peduli sama pikiran orang, yang penting aku bisa buktikan kalau juga bisa mengemban nama besar Airlangga, membanggakan mama papa, dan sekarang ada kamu yang harus aku bahagiakan," tutur Yudha. Qumil terharu dengan penuturan Yudha, selama ini ia mengemban tanggung jawab yang besar sebagai putra tunggal keluarga Airlangga. Sekarang dia ingin sepenuhnya membantu Yudha agar selalu bahagia, sehingga merasa ringan mengemban tugasnya.


"Iya Mas, aku percaya sama Mas Yudha," ucap Qumil yang membuat Yudha lega.


"Alhamdulillah, terus kamu juga putri tunggal ayah ibumu, cerita dong bagaimana masa kecilmu, bagaimana sekolahmu, dari dulu tinggal di toko baju itu?" tanya Yudha.


Dan begitulah mereka melewati malam pengantin mereka, dengan mengobrol hingga keduanya ketiduran di sofa.


.


.


Pagi harinya kedua pasangan itu bertemu di restoran hotel untuk sarapan pagi.


"Ama..!!" panggil Qumil yang ceria kembali setelah beberapa bulan menjelang pernikahan.


"Aaa Qumil..." Dan merekapun berpelukan.

__ADS_1


"Kak pinjam Qumil sebentar ya," ucap Najma meminta izin pada Yudha, Yudha tersenyum dan mengangguk mengiyakan wanitanya dipinjam sebentar oleh Najma.


"Kita duduk di sana yuk," ajak Qumil menggandeng Najma ke kursi di sudut teras restoran yang berbatasan dengan taman utama hotel. Ardi dan Yudha tersenyum lebar melihat dua sahabat itu meninggalkan mereka begitu saja.


"Ama kamu kok masih di sini," ucap Qumil heran.


"Iya semalam mas Ardi kasih surprise ajak aku nginap di lantai sepuluh.. kamu dimana kamarnya?"


"Aku di lantai sebelas," sahut Qumil.


"Oh ... jadi gimana kak Yudha?"


"Gimana apanya? Sifatnya?"


"He em,"


"Baru semalam juga kami ngobrol dan berkenalan lebih dekat, sejauh ini masih baik-baik saja," tutur Qumil.


"Gimana...udah belum?" tanya Najma penasaran.


"Apanya?" Qumil belum paham.


"Ya kalian ngapain aja semalam??"


Najma tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya, lucu banget sahabatnya ini bagi dia.


"Belum ada acara belah duren gitu?"


"Belum Ama... kan kami baru kenal juga, dia pengennya kalau memang kami sudah benar-benar saling mencintai,"


"Emang kamu ga cinta sama kak Yudha?"


"Ih kayak detektif polisi deh kamu, interogasi terus," sahut Qumil.


Najma baru tersadar, rasa penasarannya mungkin mengganggu privasi Qumil, walaupun Qumil itu sahabatnya dan sudah seperti saudara kandung baginya, namun ia sadar bahwa tidak boleh terlalu ingin tahu masalah pribadi rumah tangga orang lain, apalagi masalah ranjang.


"Astaghfirullah... maaf ya Qumil, aku terlalu kepo.. ga seharusnya aku tanya hal yang pribadi dan sensitif seperti itu, duh mulut... mulut," ucap Najma sambil menepuk pelan mulutnya.


"Hahaha, becanda Ama .. aku dan mas Yudha sepakat begitu, kita sekarang masih pelan-pelan pendekatan, ya mungkin ga jauh beda denganmu dan kak Ardi,"

__ADS_1


Di dalam restoran, Ardi dan Yudha memutuskan mengambil makanan mereka sendiri, sambil ngobrol tentunya.


"Kamu ngapain masih di sini Bro?" tanya Yudha.


"Honeymoon lagi, emang kamu aja yang mau honeymoon, aku juga dong, eh gimana first night kalian? Mantap ga?" tanya Ardi.


"Mantap dong... kamu pengantin lama masih honeymoon teruuus," ucap Yudha.


"Iyalah, sampai tua juga gitu, honeymoon, biar awet dan langgeng, eh semalam benaran masih pertama kalinya kamu?" Tanya Ardi.


"Nggak," sahut Yudha.


"Wah, benar-benar ya kamu Yud,"


"Benaran nggak Ar, semalam kami belum ngapa-ngapain, aku pengen lakuin itu ketika kami sudah saling mencintai nanti,"


"Yaa selamat menunggu deh, aku doain cepet terlaksana," ucap Ardi.


"Aamiin, kita susuk mereka yuk," ajak Yudha, kemudian mereka berdua menuju meja yang ditempati Najma dan Qumil.


"Babe .. sudah selesai belum ngobrolnya.." tanya Ardi.


"Ah..sudah Mas," sahut Najma.


"Ini sarapan buatmu, aku ambilin sekalian," ucap Ardi sambil meletakkan sepiring nasi beserta lauk pauknya di hadapan Najma, begitu pula Yudha melakukan hal yang sama untuk Qumil.


"Ini buatmu Dek, aku belum tahu kamu sukanya apa, makanya ini aku ambil beda dari punyaku, kalau-kalau kamu ga suka bisa tukar denganku," ucap Yudha membuat Qumil meleleh.


"Ah ma syaa Allah, iya aku suka kok yang ini, makasih Mas," ucap Qumil.


"Maaf ya Mas, jadi ngerepotin, tadi aku sampai lupa ga ambilin makan Mas duluan, qodarullah..." ucap Najma.


"Ga papa Babe.. yuk kita makan, habis ini masih ada beberapa hal yang harus Mas urus," ucap Ardi. Tak membuang waktu lagi, mereka segera makan, namun masih disempatkan untuk sedikit bercanda dan mengobrol agar suasana tidak canggung.


"Habis ini kalian kemana?" tanya Ardi pada Yudha dan Qumil.


"Aku masih cuti, tapi dek Qumil besok ada kuliah, jadi kita ke rumah luar kota langsung, kalau kalian?" tanya Yudha balik.


"Aku mau ke kamar lagi," sahut Ardi yang telah menyelesaikan sarapannya, begitu pula dengan Najma.

__ADS_1


"Katanya mau urus sesuatu..." Yudha terheran.


"Iya, ngurusin Najma, udah ya kami balik ke kamar duluan, bye .." ucap Ardi sambil berdiri dan menggandeng Najma meninggalkan Yudha dan Qumil begitu saja.


__ADS_2