
"Dan kami mengajak keluarga Pak Ridwan juga untuk berkenalan lebih dekat lagi, sekaligus melamar putri Bapak, ananda Qumil untuk dinikahi putra tunggal kami Yudha," tutur Rendra.
Qumil menutup mulutnya dengan tangannya, dan terbelalak matanya karena terkejut, kenapa secepat ini....
"Mungkin terkesan buru-buru atau terlalu cepat, namun ini karena kita menuju ke arah kebaikan, kenapa harus ditunda," imbuh Yudha yang melihat Qumil dan orang tuanya agak terkejut.
"Ah kami sebenarnya bertanya-tanya, kenapa keluarga Dokter Rendra pemilik Rumah Sakit besar, keluarga yang sangat terpandang, mau berbesankan kami orang biasa, dan lagi Qumil putri kami satu-satunya masih duduk di bangku kuliah," ucap Ridwan.
"Semua orang di mata Allah sama saja Pak, cuman qodarullah keluarga kami, dari kakeknya Yudha itu diberi titipan oleh Allah untuk mengelola rumah sakit, tapi akhlak kita kepada manusia itu yang lebih harus kita perhatikan, jadi kami sangat mengapresiasi saat Bapak Ibu juga ananda Qumil mendampingi tetangga kalian Najma, yang sudah sebatang kara dalam pernikahannya, jadi bila diperkenankan kami melamar putri Bapak Ibu untuk anak kami," tutur Rendra.
"Dan mengenai Dinda Qumil yang masih kuliah, saya berjanji akan mengizinkannya untuk kuliah sampai tingkat yang ia mau, mau sampai master atau doktoral, ini syaa Allah saya tidak akan melarang," imbuh Yudha ikut meyakinkan keluarga Qumil.
"Tapi bukankah dulu Dokter Yudha juga melamar Najma?" Tanya Arina ibu Qumil.
"Belum, belum sampai melamar, hanya masih berencana untuk ta'aruf, namun pada perkenalannya, anak kami yang mundur, dia minder dengan Najma, tau sendiri Najma penghafal Al Quran, sedangkan Yudha masih nakal anaknya, tapi sekarang dia sudah banyak berubah, sudah sering diajak Ardi ke kajian, pokoknya sudah berubah, jangan khawatir," sahut Helena.
"Baiklah, dari saya dan ibunya Qumil menerima lamaran ini, tapi keputusan akhir kami serahkan pada Qumil anak kami," ucap Ridwan.
Kemudian semua terdiam sejenak, menunggu Qumil berbicara.
"Ehm.. bismillahirrahmanirrahim, iya lamaran Kak Yudha saya terima," ucap Qumil kemudian.
"Alhamdulillah," ucap semuanya.
Helena kemudian berdiri memakaikan gelang bertatahkan berlian di tangan Qumil.
.
.
__ADS_1
.
Keesokan paginya di rumah Ardi dan Najma..
Keduanya telah mandi pagi dan sedang bersiap.
"Mas," panggil Najma pada Ardi yang tengah berpakaian sehabis mandi pagi.
"Iya Babe," sahut Ardi sambil mengancingkan tangan kemeja lengan panjangnya.
"Tadi tante Helena telepon, nanti aku dimintai tolong tante Helena, menemaninya belanja seserahan untuk Qumil," ucap Najma.
"Terus..." sahut Ardi.
"Ya aku seperti enggan aja, kan juga belum begitu kenal sama tante Helena, canggung gitu," ucap Najma mengatakan kegalauannya.
Ardi yang telah rapi, kemudian duduk di sebelah Najma di tepi kasur. Dia membelai pundak istrinya seakan ikut merasakan kegalauan Najma.
Najma dengan mata bulatnya mengangguk dan memandang Ardi.
"Gini aja, coba tanya mama, ceritain semua dan tanya mama ada waktu gak hari ini, ajak mama temani kalian, kalau mama oke, hubungi tante Helena, bolehkah ngajak mama sekalian, sudah lama juga kamu gak jalan sama mama," tutur Ardi.
"Haa iya betul Mas, kok gak kepikiran buat ngajak mama, hiiih gemes," ucap Najma sambil mencubit kedua pipi Ardi.
"Aaaaa sakit Babe, kamu itu ya, udah dikasih masukan malah nyubit, awas ya," ucap Ardi sambil berlari mengejar Najma yang kabur duluan.
Namun sesampainya di lantai bawah di dekat dapur, Ardi berhasil menangkap Najma. Dia kemudian menggendong Najma di depan, tubuh mereka berhadapan, Najma memeluk kepala Ardi.
"Mas," panggil Najma.
__ADS_1
"Hmm," sahut Ardi.
"Mas libur aja hari ini ya," pinta Najma.
"Emang kenapa?" tanya Ardi.
"Pengen sama Mas terus, aku bucin sama kamu Mas," sahut Najma manja sambil menciumi wajah suaminya.
"Wah, kamu ini Babe bikin orang hmmmh.. kalau diterusin bisa bolos beneran aku, udah-udah ah," ucap Ardi seraya menurunkan Najma dari gendongnya, dan merapikan kembali bajunya yang sedikit acak-acakan.
"Emang kenapa sih? Ga bisa gitu libur sehari?" tanya Najma. Ardi menangkup kedua pipi Najma.
"Mas juga maunya gitu sayang, sama kamu terus di rumah, tapi Mas juga seorang dokter, banyak yang membutuhkan Mas, kan kamu tau sendiri dokter bedah syaraf saat ini cuma Mas satu-satunya di kota ini, terus kalau aku bolos, bisa dipecat sama Yudha," tutur Ardi.
"Tau gitu..." Najma tidak jadi meneruskan kata-katanya.
"Tau gitu apa? Kenapa ga nikah sama Yudha aja gitu, yang punya rumah sakit, biar bisa masuk atau libur sesukanya," ucap Ardi agak kesal.
'Kenapa Mas Ardi bisa tahu yang aku pikirkan?' batin Najma.
"Kamu diam, berarti benar kan?" ucap Ardi menjadi lebih kesal, kemudian duduk di meja makan meminum susu yang telah disiapkan Najma.
"Maksud aku bukan gitu Mas," ucap Najma.
"Sudahlah Najma, aku hampir terlambat, aku berangkat, assalamualaikum," ucap Ardi tanpa melihat Najma, ia berhenti di depan rak sepatu dekat garasi dan memakai sepatunya kemudian masuk mobil dan pergi.
"Waalaikumusalam," lirih Najma yang mulai menitikkan air mata.
"Mas Ardi.." ucapnya dengan terisak.
__ADS_1
Sebenarnya tadi dia hanya bercanda, namun memang salah jika membandingkan suami dengan lelaki lain, pantas saja Ardi tersinggung, Najma merutuki dirinya sendiri.
Dan hari itu Najma seperti blank seluruhnya, dia tidak ke toko, tidak bisa mengerjakan pesanan, tidak bisa makan, hanya diam di kamar memeluk guling. Ketika adzan berkumandang dia sholat, namun setelah itu kembali ke tempat tidur lagi. Dia telpon Ardi, namun panggilan ditolak, pesannya diabaikan. Dia menangis lagi hingga ketiduran.