Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Hujan Membawa Berkah


__ADS_3

Di dalam mobil dalam perjalanan pulang..


"Kenapa Babe kamu capek ya?" tanya Ardi yang sedang menyetir dan sesekali melihat istrinya, tumben sekali diam saja dalam mobil.


"Ehm, iya kali, aku capek Mas," sahut Najma.


"Tadi gimana penampilan aku di panggung, grogi banget aku Babe, apalagi ada kamu yang nonton,"


"Bagus Mas, seperti biasanya, ma syaa Allah," sahut Najma dengan ekspresi datar, yang membuat Ardi bingung, pasti ada sesuatu yang terjadi.


"Alhamdulillah kalau gitu, tapi senyumnya istri sholiha aku kemana ya.. kamu tahu ga?"


"Ha, ah senyum, ehm ketinggalan di sana tadi kali,"


"Kamu kenapa sih Babe? Apa terjadi sesuatu waktu acara tadi? Apa kamu ga suka masuk ke ikatan istri dokter? Kalau kamu kurang suka, kegiatan berikutnya kamu ga perlu datang lagi,"


"Bukan Mas, bukan itu, mereka semua sangat baik sama aku, bagus juga nambah relasi, bahkan mereka juga berencana ambil kelas kursus membuat patch work dari aku,"


"Oh, alhamdulillah kalau kamu suka, tapi kalau bukan itu, apa yang kamu pikirin, apa yang membuat kamu murung gitu,"


"Ehm... pas Mas tadi ngaji di panggung, karyawan perempuan di belakang aku pada bisik-bisik,"


"Bisik-bisik apa Babe?"


"Ya intinya mereka semua terpesona sama wujud dan juga suara kamu, saking mereka memuja Mas, aku sampai takut Mas kena ain, jadi dari tadi aku berdoa supaya Mas dilindungi dari ain, semoga Allah melindungi mu Mas,"


"Aamiin," ucap Ardi.


"Jadi karena itu Babe? Aku kira kenapa.. makanya setiap pagi dan sore kita perlu membaca dzikir pagi dan petang, Ibnu Qayim berkata, dzikir pagi dan petang seperti baju besi, semakin bertambah ketebalannya maka pemiliknya semakin tidak terkena (bahaya). Bahkan kekuatan baju besi itu bisa sampai memantulkan kembali anak panah sehingga berbalik mengenai pemanahnya sendiri,"


"Iya Mas, ah hujan, tadi perasaan ga mendung, tiba-tiba hujan aja," ucap Najma yang terheran tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.


"Allahumma shoyyiban naafian, Ya Allah turunkanlah kepada kami hujan yang bermanfaat," ucap Ardi.


"Mas, aku kok pengen makan bakso ya, hujan-hujan gini enak kali makan bakso,"


"Okelah, apapun itu yang membuat kamu bahagia, Mas akan turuti selama tidak melanggar syariat tentu saja, kamu mau bakso yang mana?"


"Warung bakso pinggir jalan aja Mas,"


"Okelah, kita nyari dulu ya," Ardi memelankan mobilnya untuk mencari warung bakso di pinggir jalan.


"Ah itu Mas, kiri-kiri," Seru Najma setelah melihat bapak paruh baya berteduh di emperan toko yang sedang tutup. Ardi segera menghentikan mobilnya di sebelah rombong bakso yang dimaksud Najma.

__ADS_1


"Mas, aku di dalam aja ya, pengen buka cadar,"


"Iya Babe, aku pesenin yang biasanya kan?"


"He em,"


Ardi mengambil payung dari balik jok nya, kemudian turun dari mobil.


"Pak," ucap Ardi, rupanya bapak itu tertidur, duduk dengan kepala tertunduk dan kedua tangan yang terlipat di tepi rombong sebagai bantal.


"Pak," panggilanya sekali lagi, kali ini Ardi menepuk punggung bapak penjual bakso itu.


"Ah iya," si bapak terbangun, melihat wajah Ardi yang berjenggot dengan baju kurta putih dan peci putih, bapak itu kemudian memberi salam.


"Assalamualaikum Mas,"


"Waalaikumusalam Pak, saya mau beli bakso,"


"Oh iya Mas, mau dibungkus?"


"Pakai mangkok saja Pak, istri saya di mobil pengen makan di sini,"


"Oh sama istrinya, mau berapa porsi?"


"Satu aja dulu, kuahnya bening aja tanpa saos atau kecap,"


"Nggak Pak, putihan aja,"


Bapak penjual bakso itu kemudian meracik apa yang dipesan Ardi.


"Masih banyak Pak?"


"Iya Mas, baru keluar qodarullah hujan, jadi saya berteduh di sini, biasanya keliling,"


"Oh gitu, biasanya sampai jam berapa Pak kelilingnya?"


"Sampai habis, kalau gak habis ya jam sepuluh malam pokoknya harus pulang, anak saya di rumah lagi sakit soalnya, ini Mas baksonya,"


"Oh iya Pak, saya kasih ke istri saya sebentar ya, makasih Pak," ucap Ardi kemudian membawa bakso itu ke dalam mobil.


"Ini Babe, awas panas,"


"Nggak, itu dikasih alas sama bapaknya," karena memang diberi alas piring plastik di bawah mangkoknya.

__ADS_1


"Jazaakallaahu khayran sayangku,"


"Waiyyaki, tapi bolehkah aku makan di luar mobil Babe?"


"Iya ga papa Mas," Najma memahami, mungkin suaminya itu ingin mengobrol dengan tukang bakso itu.


Ardi tidak langsung kembali ke penjual bakso, namun berjalan ke halaman supermarket di sebelah toko yang tutup itu, di sana ada beberapa bapak ojek online yang juga menunggu orderan. Ada sekitar tujuh atau delapan orang.


"Permisi Pak, mau makan bakso dengan saya di sana? Itu di depan toko yang sana," ucap Ardi kepada sekumpulan driver ojol itu. Mereka semua masih terheran dan hanya memandang Ardi.


"Saya yang bayar, yuk silakan makan dengan saya di sana,"


"Oke Mas," sahut salah satu driver, dan yang lain mengikuti. Mereka kemudian bersama Ardi menuju penjual bakso itu dan duduk di emperan toko.


"Pak buatkan bapak-bapak ini bakso lengkap ya," pinta Ardi kepada bapak penjual bakso.


"Oh iya Mas," bapak penjual bakso itu bersemangat, Allah juga menurunkan rezeki saat hujan, melalui tangan Ardi.


Satu persatu bapak driver ojol mendapatkan baksonya. Ardi juga mendapatkan baksonya, dan mulai berbincang dengan bapak penjual bakso.


"Anaknya umur berapa Pak yang sakit?"


"Dua belas tahun, sudah satu tahun ini dia tidak sekolah, sering pusing dan pingsan,"


"Gak dibawa ke dokter Pak? Laki-laki apa perempuan anaknya?"


"Laki-laki, namanya Ardi, sudah pernah dulu, kata dokter di kepalanya ada daging tumbuh, cuma di sini dokternya ga ada katanya, terus mau dirujuk keluar kota, tapi kami menolak, ga ada biaya Mas,"


"Alhamdulillah sekarang sudah ada Pak dokter bedah syaraf di kota ini, saya dokternya,"


"Ah ma syaa Allah, jadi Mas ini dokter, dokter bedah syaraf," Bapak penjual bakso seakan tidak percaya.


"Iya Pak, dan nama saya juga Ardi,"


"Qodarullah ya namanya sama dengan anak saya,"


"Kalau misalnya besok Bapak berkenan, bisa datang ke rumah sakit Airlangga Medika, nanti biar saya periksa, ini kartu nama saya, nanti in syaa Allah kita bisa buat janji temu,"


"Oh ma syaa Allah iya Mas Dokter," bapak itu menerima kartu nama Ardi.


"Mas ini kami sudah selesai makan, kami ucapkan terima kasih ya," ucap salah satu driver ojol.


"Iya Pak sama-sama, mau dibungkuskan juga untuk keluarganya?" Ardi menawarkan, dan para driver dengan senang hati menerimanya, bapak bakso juga senang baksonya dilarisi Mas dokter ini.

__ADS_1


Hujan memang Allah turunkan bersama keberkahan, berkah untuk bapak penjual bakso yang dilarisi Ardi, juga bertemu dengan dokter yang akan membantu mengobati putranya, berkah untuk para driver ojol yang diberi bakso gratis, dan berkah untuk Ardi yang bisa berbagi rezeki dengan mereka semua.


🍲🍲🍲


__ADS_2