
"Kamu punya jabatan baru Ar?" tanya mama Hamida.
"Ia Ma, tapi ga perlu dikasih ucapan selamat atau apa, yang jelas doakan saja, agar aku tetap bisa menjalankan tugasku sebagai hamba Allah, sebagai anak mama papa, sebagai suami Najma, sebagai ayah buat Akbar dan Icha, juga sebagai dokter bedah syaraf, karena beban kerjaku juga tanggung jawabku juga makin bertambah, aku bertanggung jawab sebagai ketua komite medik," jawab Ardi.
"Komite medik apa sih yang?" tanya Arya pada Sarah.
"Komite medik adalah perangkat rumah sakit untuk menerapkan tata kelola klinis (clinical governance) agar staf medis di rumah sakit terjaga profesionalismenya melalui mekanisme kredensial, penjagaan mutu profesi medis, dan pemeliharaan etika dan disiplin profesi medis. Nah Ardi sendiri sebagai ketua komite bertanggung jawab langsung kepada direktur rumah sakit," tutur Sarah, dan semua juga mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Sarah.
"Terus kabarnya dokter Thamrin sudah pensiun, terus siapa penggantinya?" tanya papa Rahman.
"Dokter Herman, baru dari Pemkot," sahut Ardi.
"Oh orang baru, kirain kamu jadi direktur Ar,"
" Ya nggak lah Ma, aku terlalu dini untuk ke sana, aku jadi dokter bedah aja baru dua tahunan ini," ucap Ardi.
"Mas pasti tambah sibuk," ucap Najma.
"Iya sih, makin sibuk sekarang, karena rumah sakit sebentar lagi juga akreditasi, tapi tetap aku usahakan tetap ada buat kalian," sahut Ardi seraya meraih kepala Najma dan membawa ke dadanya, kemudian membelai kepala yang terbungkus jilbab itu.
"Udah mesra-mesranya ntar di kamar aja, makan dulu," celetuk Arya dan tawa pun pecah di tengah mereka.
"Mas Arya tuh ga bisa ya lihat orang lagi ngerayu," gumam Ardi.
Setelah makan malam Arya dan Sarah pamit pulang karena Sarah sudah merasa lelah, dengan perut sebesar itu pasti ingin segera istirahat.
Mama Hamida dan papa Rahman pamit pulang ke rumah dulu, karena besok ada acara arisan teman-teman mama Hamida.
Najma duduk di ruang tengah bersama Ardi. Menikmati waktu berdua.
"Minum susunya babe," ucap Ardi seraya menunjuk mug berisi susu coklat hangat di atas meja, yang baru ia buat untuk Najma.
__ADS_1
"Iya Mas," Najma meraih mug tersebut dan meminumnya hingga habis. Tubuh Najma sekarang semakin padat karena ia banyak makan, itu semua agar asinya untuk baby Icha tetap banyak dan lancar.
"Kamu kok gemesin sih Babe," ucap Ardi yang mencubit pipi Najma yang bertambah chubby.
"Apa sih Maas sakit tau," ucap Najma yang menggosok pipinya bekas dicubit Ardi.
"Maaf Mba Ama, Mas Ardi, Icha sepertinya lapar, itu mau nangis," ucap Bu Tami yang tiba-tiba keluar dari kamar anak-anak.
"Iya Bu, saya susui," ucap Najma kemudian mengambil baby Icha di kamar Akbar.
"Bu Tami makan dulu, tadi belum makan kan, Akbarnya udah pules, ditinggal aja," ucap Najma.
"Baik Mba," ucap Bu Tami kemudian menuju dapur untuk makan malam.
"Mas, naik yuk," ajak Najma.
"Bentar aku ambil laptop di mobil dulu," ucap Ardi.
Ardi menuju garasi mobil dan mengambil tas berisi laptop dari dalam mobilnya. Ia melihat-lihat bagian luar mobilnya yang terlihat kotor berdebu.
"Lupa nyuci mobil, besok ajalah biar Arif yang bawa ke tempat cuci mobil," gumam Ardi. Kemudian ia menyusul Najma di kamar atas.
Najma sedang duduk menyusui baby Icha di sofa. Ardi menyusul duduk di sebelah istri dan anaknya itu kemudian membuka laptopnya.
Ardi dengan serius mempelajari dokumen-dokumen baru dari komite medik. Pandangannya tertuju pada layar laptop itu.
Najma sebenarnya juga sangat kesepian, namun mencoba bersabar, ia semakin dewasa, ingin mendukung pekerjaan suaminya, yang dilakukan Ardi masih wajar, ia masih selalu memperhatikan Najma dan anak-anaknya.
Setelah selesai menyusui, Najma menyendawakan baby Icha dengan menyandarkan kepala bayi di pundaknya dan tangannya menepuk lembut di punggung baby Icha.
"Ough..." baby Icha bersendawa.
__ADS_1
"Suara apa itu?" Ardi cukup terkejut dengan suara sendawa baby Icha.
"Icha dah kenyang Baba, makanya sendawa," sahut Najma.
"Sini aku tidurin baby Icha," Ardi mengambil baby Icha dari gendongan Najma dan membawanya ke crib baby, menidurkannya di sana.
Setelah itu, ia kembali ke sofa dimana Najma masih di sana.
"Belum ngantuk babe?" tanya Ardi.
"Bentar Mas, masih kenyang perutku, ga enak dibuat bobok," sahut Najma.
"Kalau gitu, duduknya geseran ke pojok," pinta Ardi, Najma menurut dan menggeser pantatnya ke pojok sofa.
Ardi mengangkat kedua kaki Najma hingga Najma dalam posisi selonjor di atas sofa, kemudian tanpa diminta, Ardi memijat-mijat kaki Najma.
"Kamu pasti capek Babe," ucap Ardi.
"Mas tahu banget sih," sahut Najma.
"Mas juga capek, harusnya aku yang pijit bahunya Mas Ardi, pasti tegang karena banyak bekerja," Najma merasa tidak enak hati dan menepis tangan Ardi agar tidak bergerak memijat lagi, tak dipungkiri pijatan itu membuatnya nyaman, namun Najma tak sampai hati kerena ia tahu suaminya itu telah lelah bekerja.
"Sudahlah, nurut aja babe," Ardi tetap kekeuh memijat Najma.
"Aku kerja juga duduk aja, operasi juga sambil duduk, sedangkan kamu, udah ngurusin baby Icha, Akbar, ngurusin aku, ngurus rumah, mikirin toko,"
"Ye...kan aku dibantuin sama Bu Tami dan Bu Ani," sahut Najma.
"Bagaimana pun, aku bersyukur pada Allah dan berterima kasih padamu, sudah mau menikah denganku, mengandung dan melahirkan anakku, mendidik mereka, menjaga dan mengurus hartaku, walaupun kamu juga punya pekerjaan sendiri, kamu tetap mengutamakan aku," tutur Ardi.
Najma terharu mendengar penuturan Ardi, tak disangka pria yang sangat disegani di rumah sakit itu, ternyata sangat lembut kepada istri dan anaknya, juga anak yang Sholih bagi kedua orang tuanya.
__ADS_1
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-sebaik kamu adalah orang yang paling baik kepada istrinya”.