Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Operasi Mendadak


__ADS_3

"Assalamualaikum, Tante..." ucap Najma di depan pintu.


"Praaaanggg....!!!" tidak ada sahutan namun ada suara benda terjatuh dan pecah dari dalam rumah.


"Mas, suara apa itu? Jangan-jangan tante kenapa-napa, masuk yuk,"


Ardi dan Najma segera masuk ke rumah, Ardi meletakkan bawaannya di ruang tamu. Kemudian mengekor Najma yang menggendong baby A sambil mencari tantenya.


"Tante .. Tante..." ucap Najma yang masuk saja ke kamar tantenya.


Dan benar saja, Samira tergeletak jatuh dari tempat tidur dan di sampingnya ada pecahan gelas, kemungkinan yang baru jatuh tadi.


"Ya Allah, Tante... Mas tolongin Mas," pinta Najma sambil menangis karena panik.


"Iya, Babe, kamu tenang, duduk sini sama Akbar," ucap Ardi yang mendudukkan Najma ke kursi tak jauh dari tempat tidur Samira.


Ardi segera membopong Samira ke atas tempat tidur lagi, kemudian memeriksa nafas dan denyut nadinya. Dia mengerutkan dahinya.


"Sebentar Babe, aku ambil kotak alat kesehatan di mobil," pamit Ardi kemudian berlari menuju mobilnya.


Ardi kembali dengan membawa kotak peralatan yang selalu ada di mobilnya. Kemudian mengeluarkan tensimeter dan memakai stetoskop di telinganya. Dengan cekatan segera memeriksa Samira.


"Tekanan darahnya sangat rendah, dan nadinya sangat lemah, kita harus segera bawa ke rumah sakit," ucap Ardi.


"Terus gimana ini?" Najma bingung, khawatir dengan keadaan tantenya.


"Aku bawa pakai mobilku, kamu telpon om Indra, minta segera ke rumah sakit umum ya," ucap Ardi sambil bergegas membopong Samira ke dalam mobilnya.


Najma segera menghubungi Indra, dan setelahnya ia berlari menuju halaman depan menyusul Ardi.


"Mas aku ikut ..." ucapnya sambil terengah-engah menggendong baby A.


"Babe, Mas tahu kamu khawatir dengan Tante Samira, tapi sekarang kita ada Akbar, kamu di sini dulu, tunggu Mama datang nyusul Akbar, nanti kamu biar diantar ke rumah sakit, barusan aku telpon Mama dan beliau sedang perjalanan kemari," tutur Ardi.


"Iya Mas," ucap Najma mengiyakan, dengan berat hati, namun tidak ada pilihan lain, selain wajib mengikuti perintah suami, ia juga mempertimbangkan baby A yang masih kecil jadi tidak baik sering dibawa ke rumah sakit. Ardi kemudian segera melajukan mobilnya membawa Samira ke rumah sakit.

__ADS_1


Najma kembali ke dalam rumah itu, dan melihat barang bawaannya yang diletakkan Ardi di ruang tamu. Ia kemudian menidurkan baby A di kasur depan ruang TV, karena bayi itu sedang terlelap.


Najma kemudian membereskan barang bawaannya tadi, memindahkan ke dapur, dan menyimpan buah dan lauk Frozen pada lemari pendingin.


Tak lama kemudian, Hamida datang diantar Arif sopir sekaligus keponakannya. Hamida menjemput Najma dan baby A.


"Ini cucu Oma... namanya siapa Ama?" tanya Hamida yang meraih baby A dari gendongan Najma.


"Akbar Ma," sahut Najma. Ia masih terheran, tidak menyangka ibu mertuanya terlihat sangat senang melihat baby A.


"Ma syaa Allah tampannya, cucu Sholih Oma..." ucap Hamida sambil tersenyum dan memandangi bayi merah itu.


"Mama ga keberatan dengan keputusan kami merawat bayi ini?" tanya Najma memastikan.


"Mama percaya, keputusan kalian adalah yang terbaik sayang, dan lagi bayi ini juga butuh orang tua, mama percaya kalian pasti bisa menjadi orang tua yang baik bagi Akbar,"


"In syaa Allah..aamiin," ucap Najma.


"Kamu mau ke rumah sakit melihat Tante kamu Ama?" tanya Hamida.


"Pengennya begitu Ma, tapi Akbar bagaimana.."


"Iya, ada di tas ini, tapi sebagian di mobil mas Ardi tadi," sahut Najma.


"Cukuplah pokoknya ada susu ya Akbar ya.." ucap Hamida. Najma ikut senang mendengar mama mertuanya bersedia menjaga baby A.


"Arif, kita ke rumah sakit ya, ngantar Najma," ucap Hamida pada Arif.


"Iya Tante," sahut Arif, yang ikut senyum-senyum mendengar percakapan mertua dan menantu di bangku belakang.


Setelah menurunkan Najma di rumah sakit umum, Arif melajukan mobil itu ke rumah Rahman Hamida.


Di sana Bu Marni sudah menyambut kedatangan mereka.


"Ma syaa Allah lucunya..namanya siapa Bu?" tanya Bu Marni.

__ADS_1


"Akbar, sudah disiapkan?"


"Sudah di ruang tengah," sahut Bu Marni.


Sebelum pergi Hamida meminta Bu Marni membersihkan box bayi milik Salma yang sudah lama tidak dipakai. Box itu sudah lama dibiarkan menjadi penghuni gudang, namun setelah dibersihkan bisa dipakai karena masih berfungsi normal.


Dengan perlahan, Hamida menidurkan baby A di box bayi itu. Sengaja diletakkan di ruang tengah agar ada banyak mata yang menjaganya. Hamida juga bisa bekerja di ruang tengah itu, ia bertugas mengurus manajemen konveksi, dan seluruh toko mereka, sedangkan Rahman bertugas mendesain baju, mengawasi penjahit, dan quality control produk yang sudah jadi.


"Sudah tinggal ke belakang sana, kalau butuh sesuatu nanti saya panggil," ucap Hamida.


"Iya Bu," sahut Bu Marni seraya pergi ke dapur kembali berkutat dengan masakan.


.


.


.


Di rumah sakit..


Najma dan Indra omnya duduk di depan ruang operasi. Iya, Samira sedang dioperasi, setelah diperiksa dan CT scan, terlihat bahwa Samira mengalami pendarahan otak dan harus segera dioperasi. Setelah mendapat persetujuan dari Indra, Ardi segera melakukan operasi pada Samira.


Indra duduk di sebelah Najma selang satu bangku kosong. Keduanya terdiam, dengan khusyuk berdoa memohon kepada Allah aga operasinya berjalan lancar. Indra mencemaskan keadaan Samira, namun lain halnya Najma, selain mengkhawatirkan keadaanmu tantenya ia juga mengkhawatirkan kelancaran operasi yang dipimpin sendiri oleh Ardi.


Harapannya semoga operasi berjalan lancar, Samira selamat dan sehat kembali. Karena jika terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan, ia pasti akan sedih dan tidak menutup kemungkinan Indra akan marah dan kembali membencinya dan Ardi.


'Ya Allah, baru saja keluarga kami berdamai... semoga operasinya lancar, beri kemudahan mas Ardi untuk menolong Tante Samira dengan seizinMu... dan semoga Tante Samira segera pulih dan sehat kembali,..' doa Najma dalam hati.


Sudah empat jam berlalu..belum ada tanda-tanda Ardi keluar kamar operasi. Indra menjadi gusar dan terdengar isakan tangisannya.


"Om...tenang Om.. in syaa Allah Tante Samira akan segera pulih lagi, mas Ardi sedang berusaha menolong Tante Samira, kita bantu dengan doa terus ya Om," ucap Najma mencoba menenangkan Indra. Indra hanya mengangguk, walaupun hatinya sedih dan takut, karena sudah kehilangan anak satu-satunya, kini istri tercintanya sedang berjuang di meja operasi.


Pintu ruang operasi terbuka, muncul Ardi dengan pakaian bedahnya juga cap yang menutup rambut kepalanya.


Najma dan Indra segera berdiri menghampiri Ardi.

__ADS_1


"Mas gimana Mas?" tanya Najma.


"Nak Ardi bagaimana keadaan istri saya? Apa saya sudah boleh melihatnya?" tanya Indra.


__ADS_2