Bintang Untuk Bumi

Bintang Untuk Bumi
Ditemani Mama


__ADS_3

Tiga hari kemudian, Najma dan baby Icha sudah diperbolehkan pulang.


Pagi itu baby Icha dipangku Oma Hamida di halaman belakang untuk berjemur di bawah sinar matahari pagi.


Akbar juga di sana berlarian ke sana kemari bersama Dinda putri Bu Ani. Sesekali ia berhenti dan mencium pipi adiknya yang masih merah itu.


"Abang sayang adik Icha?" tanya Hamida.


"Em," sahut Akbar dengan mengangguk, anak satu tahun itu belum bisa banyak bicara.


"Assalamualaikum Ma," sapa Arya yang masuk dari pintu belakang.


"Waalaikumussalam," sahut Hamida.


"Mau ke restoran Ar?" tanya Hamida pada putra sulungnya itu.


"Iya Ma, papa mana?" tanya Arya kembali.


"Ke rumah sebentar, ada yang harus diambil," sahut Hamida.


"Ardi udah berangkat Ma?" tanya Arya yang berjongkok mengecup pipi keponakannya itu, sang bayi pun menggeliat kegelian.


"Belum turun, masih bantu Najma kali," jawab Hamida.


"Bantu apaan?" tanya Arya.


"Bantu mandi, pakai baju, habis melahirkan susah mau bajuan sendiri, apalagi operasi sesar, kamu ga pernah bantuin Sarah waktu pasca melahirkan dulu?"


"Nggak, lagian Sarah juga lahiran normal Ma, dia juga dokter kandungan, pasti lebih tahu merawat diri pasca melahirkan," jawab Arya.


"Heeh... Mau normal, mau sesar, bantuin, itu jadi bentuk perhatian suami ke istri, istri kamu pasti senang dilayani habis melahirkan," tutur Hamida.


"Baik Ma, in syaa Allah nanti setelah kelahiran anak kedua, aku akan bantu Sarah dalam segala hal, aku juga pengen jadi suami yang baik buatnya, selama ini kami sama-sama sibuk, ketemu cuma malam aja, sama-sama sudah capek," kata Arya yang jadi curhat dengan ibunya.


"Kalau bisa luangkan waktu satu hari dalam sepekan kalian libur bersama, waktu buat keluarga, kasian itu Salma taunya sama mbak pengasuh aja," ucap Hamida.


"Assalamualaikum," ucap Sarah yang juga masuk dari pintu belakang.

__ADS_1


"Waalaikumussalam," sahut Hamida dan Arya.


"Kamu masih masuk kerja Sar?" tanya Hamida yang tentu saja iba melihat menantu tertuanya berjalan dengan perut sebesar itu.


"Iya Ma, hari terakhir sebelum cuti," Sarah sengaja mampir melihat mertuanya yang tinggal di rumah adik iparnya itu.


"Hari ini kamu temani dia Ar, kasihan itu bawa perut sebesar itu harus nyetir sendiri," ujar Hamida.


"Iya, baik Ma... Aku antar ya sayang," ucap Arya. Sarah hanya tersenyum dan mengangguk.


"Mama di sini sampai kapan?" tanya Sarah pada Hamida.


"Mungkin agak lama, mama mau temani Najma, dia ga ada ibu, jadi mama yang temani rawat Icha ini," jawab Hamida.


"Mama, apa juga mau temani Sarah nanti setelah melahirkan? Mami belum bisa pulang juga Ma," tanya Sarah, karena ibunya memang tinggal di luar negeri ikut adiknya yang bekerja di sana.


"In syaa Allah mama akan temani kalian, bantu kalian rawat bayi, jangan khawatir Sar," sahut Hamida yang tak ingin membuat menantunya itu kecewa.


"Pada ngumpul semua..." ucap Ardi yang datang bersama Najma.


"Iya, lihat baby Icha ini, plesternya sudah diganti?" tanya Sarah.


"Iya wajar kalau takut, namanya juga luka ya, tapi diusahakan buat dibuka besok ya, karena kalau tertutup terus bisa lembab," kata Sarah.


"Baik Mba," sahut Najma.


"Kalau gitu, kami mau pamit kerja," ucap Arya.


"Iya Mas, fii amanillaah," ucap Ardi.


"Maasalamah," sahut Arya, kemudian bergantian dengan Sarah mencium punggung tangan Hamida.


"Aku gantiin Ma," ucap Ardi setelah Sarah dan Arya pergi.


"Kalian sarapan dulu aja, biar mama yang gendong Icha, ya Icha ya," sahut Hamida.


"Mama sudah sarapan? Papa mana?" tanya Najma.

__ADS_1


"Sudah Ama, mama sama papa sudah sarapan duluan tadi, maaf ya kami keburu laper nunggu kalian, sekarang papa pulang sebentar ada yang perlu diambil," sahut Hamida.


"Oh, kalau gitu kita sarapan yuk Babe," ajak Ardi, kemudian menggandeng Najma dan mengajaknya masuk ke rumah.


"Baba!!!" seru Akbar yang berlarian di dalam rumah.


"Ah, anak Baba, sudah makan?" tanya Ardi seraya menggendong bocah kecil itu.


"Uda," sahut Akbar.


"Oke, main dulu sama Mba Dinda ya," ucap Ardi kemudian menurunkan Akbar dari gendongannya.


Ardi dan Najma kemudian sarapan bersama. Tak lupa Ardi membuatkan susu untuk Najma.


"Mas aku kan uda ga hamil, kok masih dikasih susu.." ucap Najma.


"Ini susu buat ibu menyusui, biar ASI kamu lancar, jadi baby Icha bisa terus minum biar kenyang dan cepat besar," sahut Ardi.


"Oh, iya Mas," ucap Najma, tentu saja ia sangat bahagia karena suaminya sangat perhatian padanya.


"Babe, habis ini aku ke rumah sakit ya, kasian Sabrina kerja sendirian, eh... Bukan apa-apa, bukan aku mengkhawatirkan dia, tapi aku juga harus bekerja, ada istri dan dua anak yang butuh makan," ucap Ardi dengan senyum lebarnya.


"Iya Mas, kerja aja, cari uang yang banyak, halal, dan berkah buat kami, di sini juga banyak orang, aku ga akan kesepian, nanti juga anak-anak toko mau gantian lihat baby Icha, pasti ramai rumah ini nanti," kata Najma penuh semangat.


"Baiklah, aku lega dengarnya," ucap Ardi, kemudian mereka menyelesaikan sarapannya.


"Aku ganti baju dulu ya," ucap Ardi setelah menyelesaikan sarapannya.


"Tunggu Mas, aku ikut," ucap Najma yang juga sudah selesai makan.


"Kamu di sini aja Babe, aku bisa sendiri kok," Ardi mencegah Najma ikut karena kasihan melihat istrinya itu naik turun tangga menahan sakit di bawah perutnya.


"Jangan halangi aku Mas, aku juga ga mau kehilangan pahala menyiapkan keperluan Mas Ardi," ucap Najma.


"Baiklah, tapi pelan-pelan ya naiknya," ucap Ardi yang hanya bisa mengalah.


Setelah berganti baju, Ardi berangkat diantar Arif ke rumah sakit.

__ADS_1


"Rif, aku tidur sebentar, kalau sudah sampai rumah sakit umum, kamu bangunin ya," pesan Ardi pada sepupu yang juga sopirnya itu. Arif hanya mengangguk, nampaknya Ardi terlalu capek dan mengantuk.


Ia beberapa malam ini ia menemani Najma yang beberapa kali terbangun, memberi asi pada baby Icha. Karena tiap tiga jam sekali Najma harus menyusui baby Icha. Sebenarnya Najma sudah meminta Ardi untuk tetap tidur ketika dia sedang menyusui. Namun Ardi tetap terbangun dan menemani Najma, ia ingin Najma selalu merasa ada Ardi yang mendukungnya, menemaninya merawat buah hati mereka, agar sang ibu tidak merasa sendirian lalu stres karenanya.


__ADS_2