
"Halo, assalamualaikum Babe, kamu kenapa?"
...
"Hah apa?"
...
"Astaga kukira kenapa Babe,"
...
"Habis ini Mas kembali ke rumah sakit umum, visit pasien, terus mau ketemu orang penting lagi,"
...
"Ada deh, uda ya, baik-baik di rumah Babe, assalamualaikum,"
.
.
Najma menutup sambungan ponselnya, dan meletakkannya di meja rias, dia bingung mau ngapain, dilihatnya jam di dinding masih menunjukkan pukul dua siang, masih sekitar dua jam lagi Ardi datang. Akhirnya dia memutuskan untuk berenang di kolam renang sebelah dapurnya. Setelah berganti dengan pakaian renang, Najma berenang ke sana kemari. Dan tanpa dia sadari ada sepasang mata memperhatikannya dari tadi.
Najma beristirahat sejenak di tepi kolam, namun dia dikejutkan dengan suaminya yang tengah berdiri menyandarkan lengannya di gawang pintu dapur.
"Mas,"
Ardi hanya tersenyum, dia mengangkat segelas vanila latte dingin di tangannya.
"Ah, vanilla latte, mas dari tadi di situ?"
Ardi mendekati Najma dan duduk di kursi dekat kolam.
"Iya, sepuluh menitan,"
"Bukannya Mas masih visit pasien di rumah sakit umum?"
"Aku lupa, kemarin pasienku sudah pulang semua, ga ada pasien bedah syaraf, jadi langsung pulang deh, ada yang bilang kangen tadi pas di telpon,"
"Hehehe," Najma hanya tertawa mendengarnya di duduk di lantai sambil menyeruput vanilla latte yang dibawakan Ardi.
"Kamu akhir-akhir ini kok kelihatan sayang banget sama Mas, mau apa sih, apa yang di pengen? Mau dibelikan sesuatu apa gimana?"
"Yah Mas ga seru ah, aku sayang suami kok dibilang ada maunya,"
"Lha terus, Mas aneh aja kamu tiba-tiba berubah," ucap Ardi sambil membuka bajunya dan mengganti celananya dengan celana renang yang dia ambil dari kamar tadi.
__ADS_1
"Mas mau berenang juga,"
"Iya," sahut Ardi kemudian dia melompat ke dalam kolam, dan berenang ke sana kemari.
Najma sungguh terpesona dengan wujud suaminya itu, walau selisih hampir sepuluh tahun, namun tak terlihat sejauh itu selisihnya, karena Ardi selalu menjaga tubuh dan kulitnya. Namun Najma tak boleh terlalu berlebihan mengaguminya, hanya boleh memuji penciptaNya.
"Ma syaa Allah, ma syaa Allah," ucapnya. Dia lalu kembali masuk ke kolam, namun gelas vanilla latte itu masih di tangannya, dan ia segera menghabiskannya, kemudian hendak mengembalikan gelas itu ke tepi kolam, namun Ardi menyergapnya dari belakang.
"Mas, aku bisa jatuh Mas,"
"Kan ada aku," ucap Ardi yang menciumi bagian tubuh belakang istri kecilnya itu.
"Mas, kalau ada orang masuk gimana?"
"Ga ada, pagar dan pintu udah pake kunci canggih,"
"Ah iya," Najma baru ingat, pagar rumah mereka hanya bisa dibuka dari luar menggunakan remote di mobil Ardi dan Najma, dari dalam menggunakan monitor otomatis dari rumah, kemudian pintu rumah mereka menggunakan kode angka dan sidik jari mereka berdua, sehingga benar-benar hanya mereka berdua yang bisa membukanya.
Najma kemudian melingkarkan kakinya ke pinggang Ardi, dan kedua tangannya nelingkari leher Ardi, seperti posisi menggendong.
"Wuuw, babe kamu menggemaskan, ma syaa Allah," ucap Ardi dengan senyum yang lebar.
"Mas,"
"Hmm,"
"Love u too, kamu kok jadi bucin sih,"
"Gapapa kan bucin sama suami sendiri ini,"
"Aha.. iya iya,"
.
.
Setelah bilasan dan berganti baju, Najma dan Ardi sholat Ashar bersama. Selepas sholat Najma duduk di depan meja rias mengeringkan rambutnya, sedangkan Ardi turun ke bawah mengambil minuman.
Sepuluh menit kemudian..
"Cekleek.." pintu dibuka, Ardi membukanya dengan ujung siku, karena kedua tangannya memegang dua mug berisi susu jahe. Sontak Najma menengok ke arah pintu.
"Apa itu Mas?" tanya Najma yang selesai menyisir rambutnya.
"Susu jahe Babe, biar ga masuk angin, kita terlalu lama tadi main di kolam," sahut Ardi sambil meletakkan kedua mug itu di atas meja depan sofa. Dan ia duduk di sofa, Najma menyusulnya, karena menurut Najma susu jahe itu terlihat enak, dia tidak sabar untuk segera mencicipi.
"Eh Babe, besok Sabtu ikut ya, ke rumah sakit Yudha,"
__ADS_1
"Ngapain?"
"Ada acara peresmian masjid rumah sakit, kita diundang, di sana ada ikatan istri dokter, tante Helena ketuanya, kamu diminta gabung juga, kan aku juga dokter di sana,"
"Oh, gitu, baiklah, demi nama baikmu aku akan hadir sayang,"
"Okelah, alhamdulillah kalau gitu, kita minum susu jahe ini, kalau sudah kamu pakai ini," Ardi memberikan jilbab Najma.
Najma menerimanya, namun heran mengapa tiba-tiba Ardi memintanya memakai jilbab di dalam rumah.
"Kita mau kemana?"
"Minum dulu babe, kalau sudah habis, boleh ikut Mas,"
"Kemana?"
"Najma," Ardi menekankan bicaranya agar Najma menurut.
"Iya, Mas, aku minum," ucap Najma segera patuh.
Setelah Najma dan Ardi menghabiskan minumannya, Ardi membawa Najma ke ruang tamu, di sana sudah ada satu mushaf Al Quran.
"Sini Babe," Ardi meminta Najma duduk di sampingnya. Najma duduk sesuai perintah suaminya.
"Ini sekarang rumah kita, dimana kita akan menghabiskan sebagian besar waktu kita hidup di dunia, nah aku mau kita membaca Al Quran ini setiap hari, kita bisa membaca bersama-sama, atau kalau kamu punya waktu luang, kamu bisa membacanya sendiri, dan tidak hanya di ruang tamu, kita bisa membacanya dimana saja di rumah ini,"
"Oh iya Mas, ma syaa Allah, Jazaakallaahu khayran, bimbing aku terus Mas, sampai ke surga Nya Allah,"
"Waiyyaki, in syaa Allah Babe, sekarang kita ngaji yuk,"
Ardi kemudian membaca Al Quran bergantian dengan Najma. Setelah mendapat beberapa lembar, adzan Maghrib berkumandang. Ardi menutup mushaf nya.
"Mas ke masjid dulu ya Babe," pamit Ardi.
"Iya Mas," sahut Najma, setelah Ardi pergi, Najma naik ke kamarnya untuk sholat maghrib juga.
Setelah itu ia turun ke dapur menyiapkan makan malam sambil menunggu Ardi pulang dari Masjid.
Najma membuka kulkas, ternyata bahan makanan mereka pada habis, dengan terpaksa ia menunggu Ardi pulang dan mengajak pergi berbelanja kebutuhan dapur.
"Kemarin kan masak banyak waktu pindahan, jadi habis semuanya, cuma ada telur dua butir, sama nasi putih, tapi kalau nunggu mas Ardi pasti habis Isya baru keluar, karena nunggu jamaah isya sekalian, aku sudah laper banget, masak nasi goreng aja deh, laper,"
Najma kemudian mengeluarkan wajan dan memanaskan minyak zaitun, kemudian menggeprek bawang dan menumis nya, kemudian memasukkan telur yang dikocok, dan nasi putih, lalu dibumbuinya hingga sesuai seleranya, dan menuangnya di dua piring untuknya dan juga untuk Ardi.
"Assalamualaikum," ucap Ardi sepulang dari Masjid.
"Waalaikumusalam, makan sayang, aku laper," sahut Najma sambil membawa dua piring nasi goreng itu ke meja makan. Menaburkan bawang merah goreng dan kerupuk putih.
__ADS_1
"Ma syaa Allah, istriku, jazaakillaahu khayran, Mas juga laper banget," Ardi kemudian menyantap nasi goreng sederhana itu, dia menghargai dan selalu mengapresiasi apa yang dibuat Najma, agar istrinya itu bahagia lahir dan batin.